Sabtu, 29 September 2018

STORY ABOUT HOW I GET INTO UNIVERSITY (motivation for 12th graders) part 2

Hari demi hari berganti. SBMPTN sudah siap menyapaku, menanyakan seberapa besar persiapanku, menuntutku untuk melakukan yang terbaik. Aku terus belajar dan belajar sebisaku, tanpa meributkan apapun lagi. Di kepalaku hanya ada pemikiran untuk dapat menggapai impianku. Ya karena memang penting bagiku untuk memastikan kalau daya juang yang kumiliki udah luar biasa. Jadi apapun hasilnya, tetep akan selalu bernilai besar bagiku dan nggak akan kusesali. Tentu yang kuinginkan itu lolos, dan aku mengharapkan takdir berpihak kepadaku. Tapi setidaknya aku udah melakukan yang terbaik. Itu sih prinsipku setiap melakukan apapun. Aku selalu berusaha sampai aku bener-bener mentok, bukan mundur karena mengetahui bahwa pada akhirnya aku bakalan mentok. Nggak kepikiran dalam diriku untuk melakukan sesedikit mungkin karena hey, ini SBMPTN! Ini sangat menentukan masa depanku. Aku nggak mau gagal lagi, sejujurnya. Aku nggak mau dikecewakan oleh diriku sendiri. Tapi… Aku lebih nggak mau lagi kalau aku sampai menyesal karena hanya melakukan sesuatu alakadarnya aja. Memang betul, ada beberapa kelemahaku dalam mata ujian di SBMPTN ini kayak yang kubilang tadi, yaitu matdas misalnya. Tapi aku tetep aja nggak menghentikan langkah. Aku tetep belajar meskipun tentu saja hanya sebatas yang aku bisa. Memang betul, aku nggak mau memaksakan diri. Tapi aku tetep ingin memacu diriku sampai memang ada di titik batasnya, bukan hanya menjauhi batas itu hanya karena merasa nggak bisa melampauinya. Pun mata ujian yang aku yakini, nggak pernah membuatku ingin menyombongkan diri dan mengatakan bahwa aku pasti akan sangat hebat dalam yang satu ini tanpa memikirkan yang lain lagi. Justru aku ingin memastikan bahwa semua itu yang menjadi senjata, bukan bumerang bagiku. Ada aja kejadian semacam itu dalam kehidupan kita. Merasa udah bisa dan menyepelekan sesuatu, tau tau salah atau keliru. Dengan tidak merendahkan diri namun juga tidak meninggikan hati, semua hal akan seimbang. Hal itu bisa diletakkan pada perjuangan kita, dalam hal apapun pastinya. Yakin deh, kita nggak akan pernah menang kalau hidup hanya mengandalkan suatu kesombongan. Tapi kita juga nggak akan maju kalau hanya bisa merendahkan. Lakukan semuanya dengan sama rata. Sombong engga, rendah diri pun engga. Lakukan yang terbaik yang kita bisa aja. Tanpa harus berkoar bahwa kita jago agar nanti kita nggak lengah, tapi tanpa harus bilang kalau diri kita nggak mampu agar nanti kita nggak mudah menyerah.
Aku sangat mengerti, aku sangat menyadari bahwa mungkin bagi sebagian orang, belajar dengan mengebut kayak gini nggak bakalan menang. Kadang aku mikir, apakah bisa aku berhasil? Sementara pesaingku diluar sana sudah berjuang, jauh sebelum aku menangis karena patah hati usai ditolak SNMPTN. Mereka sudah mengerti bagaimana medan perang yang akan dihadapi, jauh sebelum aku terpikir bahwa aku akan turut terjun ke medan perang itu sendiri. Mereka sudah mengerahkan segenap tenaga, jauh sebelum aku membuka mata akan pahitnya berjuang. Mereka sudah terlebih dahulu merelakan jam-jam tidur mereka, jauh sebelum aku terpikir untuk tidur larut malam kemudian bangun terlalu pagi hanya untuk mengusaikan belajarku. Intinya, aku masih berada jauh dari mereka dalam hal kapasitas perjuangan. Karena mereka melakukannya jauh lebih dulu dariku. Ada yang sudah teruji kemampuannya di bimbelnya masing-masing, sementara aku hanya bisa menerka nerka dan mengukur kesanggupanku dari caraku belajar mandiri. Ya tentu dong, beda banget. Tapi ketika berada dalam penghujung atas segala kegundahan, kebingungan yang kumiliki, aku udah merasa bener-bener yakin. Pasalnya, aku memang udah menaruh target yang didukung oleh usaha yang udah kulakukan. Bahkan meski waktunya singkat, aku nggak pernah pesimis. Justru itulah yang bikin aku semakin menghargai waktu dengan seperti kataku tadi; belajar! Jangan pernah meniadakan atau menyepelekan sedetikpun diantaranya. Karena semua itu akan bikin nyesel pada akhirnya. Oh ya, dalam tahapan menuju SBMPTN ini, semangat itu sangat diperlukan. Dan pastinya sangat-sangat menentukan sih. Kata-kata yang mampu menyuntikkan motivasi dan keyakinan bagi diri kita ini bisa jadi tambahan tenaga bagi kita dalam bertempur di SBMPTN nanti, lho. Ini sakti luar biasa. Umumnya bisa kita dapatkan dari orang-orang terdekat kita. Keluarga itu pasti. Mereka akan jadi yang terdepan dalam mendukung kita di setiap perjalanan hidup kita. Kasih sayang mereka akan terus menjadi alasan kita untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Banyak banyak menghabiskan diri bersama teman-teman seperjuangan yang juga berada dalam posisi yang sama, yaitu calon penakluk SBMPTN. Kalian harus bertukar semangat bersama mereka, mengubah setiap topik jadi obrolan indah mengenai kesuksesan yang akan didapat kalau kelak tembus SBMPTN. Cobalah. Cobalah untuk berbagi mimpi yang sama. Dijamin kalian akan lebih tertantang mewujudkannya. Asli. Aku seneng banget bisa sharing sama sesama pejuang. Karena aku jadi yakin, aku nggak sendiri. Cari motivasi yang lain. Banyak baca kisah soal mereka yang lolos SBMPTN, liat seberapa hebat perjuangan mereka. Kalau mereka bisa, kamu juga pasti bisa. Yakinkan diri mengenai hal itu. Aku juga sering kok yang namanya baca blog orang-orang yang pernah sama kayak aku. Sedih pas ditolak SNMPTN, namun karena mereka mampu bangkit mereka tembus SBMPTN. Semuanya tuh keren-keren banget! Mereka mengingatkan kepada kita kalau jalan yang bisa kita ambil itu bukan cuma satu doang, jadi nggak ada alasan untuk berhenti melangkah kalau jalannya udah buntu.
Pada akhirnya, hari pelaksanaan SBMPTN pun tiba. Hari yang bener-bener menegangkan untukku, namun juga membahagiakan. Iya, membahagiakan. Karena segala usaha yang telah kulakukan pada akhirnya aku tuangkan. Tentu aku meminta restu orangtuaku. Keyakinan mereka akan selalu menumbuhkan keyakinan dalam diriku. Selamanya. Aku selalu kuat karena mereka! Kali ini aku juga harus lebih kuat. Perihal mimpi bersama lho yang satu ini. Hehehe…
Waktu itu tempat tes-ku di Universitas Bangka Belitung. Aku berangkat pukul setengah 9 kalau nggak salah. Sebelum tes aku ketemu sama temen-temenku yang satu ruangan, atau satu gedung tapi beda ruangan. Banyak sih yang lainnya, tapi gedung mereka jauh banget! Jadi yang bisa kutemui ada beberapa. Kami sedikit bertukar cerita akan keresahan yang dihadapi. Tapi kami udah ada di medan perang jadi nggak ada alasan untuk mundur lagi. Lalu… Ada bel yang berbunyi menandakan waktu akan segera dimulai. Kami lalu masuk keruangan dengan perasaan yang udah nggak bisa lagi didefinisikan. Asli deh, rasanya itu nggak karuan banget. Wajah-wajah tegang namun siap berjuang tak luput kutemui. Pastinya mereka mengenggam mimpi yang sama sepertiku. Ya, kuputuskan untuk fokus pada diriku sendiri aja sih. Oh ya, kami tetep diperiksa kelengkapannya. Hal-hal seperti kartu peserta jangan sampai dilewatkan lho ya. Selembar, namun sepenting itu. Pokoknya kalau SBMPTN ini jangan lengah karena merasa persiapan sudah banyak, karena ngggak sebatas itu aja. Bawaan kita pun harus lengkap biar nggak kelabakan. Oh ya, kami juga duduk di kursi masing-masing yang sudah ditentukan.
Nah, kita langsung melompat ke waktu lembar soal dan jawaban sudah dibagikan di meja setiap peserta. Tentu aku mengisi data terlebih dahulu. Yang satu ini jangan sampai terlewatkan, ya. Karena data juga merupakan hal yang penting. Kalau udah bener jawabannya tapi datanya salah… Duh. Fatal banget akibatnya. Jadi jangan sampai terjadi ya kesalahan kesalahan kecil semacam itu. Harus bener-bener teliti deh pokoknya! Terutama di bagian nomor soal juga, jangan nggak diisi ya. Data harus dipastikan lengkap dan terisi semua, sesuai petunjuk yang kalian dapatkan. Jangan sampai perihal data ini jadi alasan kegagalan kalian karena akan sangat menyesakkan. Memang lucu mengingat kalau hal sekecil ini bisa menjadi penyebab yang besar dari segala hal. Biasakan diri untuk tidak meremehkan apapun, ya.
Waktu pengerjaan soal pun tiba. Jantungku berdegup nggak karuan, namun kuredam dengan doa dan keyakinan. Lagi-lagi. Oh iya, yang pertama diujikan ini TKPA. Seperti keinginanku diawal, aku mengerjakan bahasa inggris dan bahasa Indonesia dulu. Kukerjakan dengan strategi baca cepat seperti yang kukasihtau tadi. Aku liat pokok pikiran utamanya. Baru aplikasiin ke soal. Aku berusaha se-ngebut namun se-teliti mungkin. Disaat orang orang mengerjakan bagian depan dulu, aku malah bagian belakang. Hehe. Lalu baru deh aku mengerjakan bagian yang lain. Untuk matdas, aku hanya bisa beberapa. Aku lupa persisnya tapi nggak sampe 5 deh kayaknya. Aku nggak mau buang-buang waktu.. Huhu! Untuk bagian verbal, figural dan numerical kelemahanku terleta di bagian figural, jadi kukerjakan bagian verbal terlebih dahulu dan sebanyak banyaknya. Baru figural dan numerical bergantian. Random aja sih sebenernya. Soal yang belum kuiisi namun waktu sudah nggak mendukung kujawab semua. Tahun 2018 soalnya nggak pake sistem nilai minus, jadi aku berani untuk tidak mengosongkan lembar jawaban. Lalu.. Waktu selesai. Kami pun dipersilahkan untuk istirahat sejenak. Waktu ini kuhabiskan dengan ketemu sama temen-temenku yang beda gedungnya, lalu kami shalat dan mampir ke kantin guna mengisi perut sejenak. Sekalian melepas penat juga. Mulai deh, tuker-tukeran cerita. Ada yang mengeluh bingung, ada yang mengeluh kalau lupa ini itu, dan lain-lain. Tapi tetep, pastinya mereka udah melakukan sebisanya. Begitu pula aku. Setelah istirahat, kami balik ke gedung masing-masing. Singkat cerita, sampai deh ke TKD SOSHUM. Tetep sama sih kayak sebelumnya, intinya isi data, data, data! Jangan sampai terlewatkan. Dan ya, aku lupa nyatet berapa persisnya aku ngisi soal. Sebenernya bagian ini juga random, namun berhubung aku merasa mampu mengerjakan sosiologi terlebih dahulu aku berusaha kilat menjawab sebanyak mungkin. Seperti strategiku di awal ituloh. Untuk sejarah, kurasa nggak terlalu sulit dan masih bisa dijangkau. Tapi tetep aja ada yang aku nggak tau. Kalau ada yang kayak gitu sih kuabaikan dulu, kalau ada waktu baru deh balik untuk menganalisa lagi. Saat beranjak ke geografi pun, ada yang aku mengerti dan ada yang bikin aku menerka nerka. Dan ekonomi, aku kerjain bener bener sebisaku tanpa maksain diri. Ada materi yang sudah aku baca, dan aku mengerti. Tapi sekalinya aku dapet soal susah, bingungnya minta ampun. Akuntansi oh akuntansi! Bener-bener menusuk-nusuk hati. Tapi ya, tentu aja berjuang itu perlu! Kukerjakan sisa soal yang masih bisa kucoba pikirkan jawabannya apa, yang paling rasional dan mendekati deh. Ada juga yang jawabannya ketemu disaat aku udah baca berulang kali dulu. Dan bagian yang aku nggak tahu aku isi semuanya deh. Pokoknya lembar jawabanku full. Lalu selesailah sudah. Aku pulang dengan kelelahan yang luar biasa. Meskipun hanya otak yang bermain tapi aku yakin semua merasakan hal yang sama.
Oh iya, pengumumannya lama banget! Mungkin sekitaran dua bulan. Hari-hari sempat kuhabiskan dengan gundah gulana, hehe. Tapi aku tetep berkeyakinan penuh pada diriku, karena yang aku kerjakan memang itulah kemampuanku. Aku percaya sama diriku sendiri.
Hari Selasa tanggal 3 juli 2018 kalau nggak salah. Aku udah menyerahkan semuanya pada Allah, aku berdoa agar hasilnya sepadan dengan yang telah kulakukan dan sesuai dengan yang kuiinginkan. Yang lebih membuatku deg-degan adalah WAKTU PENGUMUMAN DIPERCEPAT DUA JAM. Aku langsung panik pas lihat countdown di website SBMPTN yang menandakan bahwa pengumumannya segera hadir, padahal waktu itu masih siang. Dan awalnya dikatakan akan diumumkan jam lima sore. Pas kuitung-itung, ternyata jadi jam tiga. Ya siapa yang nggak heboh sendiri? Duh… Anyway, waktu itu aku nggak bilang sama orangtuaku kalau pengumumannya dipercepat sih hehehe. Aku pengen kasih kejutan aja, entah apa bentuknya. Tapi aku berharap itu akan jadi hal baik. Hal yang, sekali lagi, membahagiakan orangtuaku.
LALU, JENG-JENG! JAM 3!
Kenapa rasanya cepet banget gini, ya? Aku nggak bisa menahan perasaanku yang bergejolak waktu itu. Yakin sih yakin, tapi siapapun kalau udah berhadapan dengan hal kayak gini pasti takut sendiri. Aku berdoa sejenak dan kemudian memasukkan nomor peserta beserta tanggal lahirku. Sempet lama banget dong, loadingnya. Tentu saja, karena yang akses super banyak. Aku coba bersabar dan buka berkali-kali. Lalu aku sedikit menahan napas saat melihat monitor.
Dan tumpahlah kebahagiaanku.
Azzahra Shafira Ananta, lolos SBMPTN di UPN ‘’Veteran’’ Jakarta.
Jurusan Hubungan Internasional.
Dua hal yang sangat aku impikan.
Aku terharu. Sekaligus bahagia dan penuh syukur.
Aku menghampiri keluargaku yang tengah berkumpul, dan memberitahu ini pada mereka…. DAN SUNGGUH. Kebahagiaan mereka akan keberhasilanku di SBMPTN terasa sangat menyejukkan bagiku. Terutama kedua orangtuaku. Akhirnya aku berhasil mencapai apa yang sangat aku inginkan sedari dulu. Aku bener-bener nggak tau bagaimana meluapkan perasaanku, karena hari itu semua keindahan bercampur jadi satu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar