Intinya, keinginanku untuk dapat memberikan satu bukti cintaku pada mereka dengan hasil yang manis dari perjuanganku selama SBMPTN ini terbayar lunas dengan pengumuman kelulusanku. Bisa kalian bayangkan bagaimana waktu itu suasananya, susah bagiku menggambarkannya. Yang jelas kami sama-sama bersyukur dan bersukacita, sesuatu yang merupakan salah satu hal terindah yang pernah terjadi di hidupku. Melihat betapa kebanggaan terpancar di wajah orangtuaku, pun adik dan kakakku. Melihat betapa mereka sangat bersyukur akan pencapaianku waktu itu. Melihat betapa keceriaan mendekap mereka hanya karena namaku terpampang nyata sebagai salah satu peserta SBMPTN yang beruntung, karena usaha dan doanya dikabulkan oleh Allah untuk menjadi salah satu mahasiswa di universitas impiannya. Semua bener-bener terjadi persis seperti yang selalu aku idam-idamkan. Persis seperti yang selalu kulirihkan dalam doaku. Aku merasa sangat bahagia karena berkah yang kuterima pada saat itu. Dan akhirnya, setelah melalui sekian banyak hal, aku dinyatakan resmi menjadi mahasiswa UPN ‘’Veteran’’ Jakarta. Tentu akan kuceritakan lebih lanjut mengenai semua ini, namun pada tulisanku berikutnya. Kali ini aku ingin sedikit menyuntikkan kata-kata untuk kalian, yang mungkin bisa kalian masukkan dalam hati lalu kalian resapi.
Untuk kalian, yang sedang ingin berjuang…
Ingatkah kalian?
Belasan tahun dalam kehidupan kalian dihabiskan dengan penuh warna-warni. Ada suka, ada duka. Tahun demi tahun kalian lewati dengan berbagai perubahan. Langkah kalian semakin menanjak, menuju tahapan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika kalian SD, mulailah kalian berkenalan dengan lingkup pertemanan yang unik. Lucu, menyatukan pikiran anak-anak yang dikepalanya masih sebatas bermain sembari belajar. Satu tingkat lebih maju dari sewaktu TK, namun tetap saja beban kalian belum terlalu berat. Kemudian kalian memasuki jenjang lebih lanjut, yaitu SMP. Disini kalian sudah berada dalam tahap pubertas. Kalian mulai menjadi versi baru dari diri kalian sendiri. Emosi kalian mulai labil, perasaan kalian mulai mengarah pada sesuatu yang romantis, pemikiran kalian menjadi lebih berkembang. Kalian mulai dihadapkan pada sesuatu yang jauh lebih menggelora dibanding saat kalian masih berseragam merah-putih. Gejolak-gejolak kehidupan mulai menyerbu kehidupan kalian. Permasalahan demi permasalahan sudah mulai menghantam kalian. Dan tibalah saat kalian menyandang predikat sebagai siswa salah satu SMA impian kalian. Disini kedewasaan kalian mulai timbul ke permukaan. Bisa dibilang, ini tahapan pencarian jati diri. Kalian mulai berusaha memahami berbagai hal. Pemikiran kalian semakin lama semakin mendewasa seiring bertambahnya usia kalian. Perihal emosi? Ya, masih seperti itu. Masih mudah tergoyahkan, masih berkobar seumpama nyala api. Penuh dengan lika-liku. Kehidupan kalian jauh lebih berwarna. Banyak hal yang kalian pelajari dan hadapi di masa yang satu ini. Perihal memilih teman, menentukan pilihan, dan lain-lain. Semua menuntut kalian untuk terus dan terus meningkatkan kapasitas kemampuan kalian. Terus dan terus. Sama halnya seperti sebelumnya, kalian juga menghadapi beragam permasalahan yang jauh lebih kompleks. Karena satu hal; kalian mendewasa.
Dan kelak pada akhirnya, akan tiba suatu masa dimana kalian berada di suatu jalan.
Jalan itu luar biasa berat medannya. Terlalu kasar bagi kalian. Banyak bebatuan kecil nan tajam, tak mulus, penuh belokan. Semua itu menantang kalian yang tengah berada dalam masa-masa menuju kedewasaan, karena kalian harus bijak menentukan pilihan. Namun ketika kalian melihat lebih jauh, di ujung jalan itu ada suatu hal yang indah tengah menanti kalian. Ketika kalian hendak melangkah, kalian ragu. Kalian terlalu takut untuk melewati jalan tersebut. Kalian ingin, ingin sekali menggapai keindahan itu. Namun kalian tak mau bersusah payah. Kalian tak mau terluka. Pasti akan letih rasanya.
Saat itu terjadi, coba pikirkan satu hal.
Untuk apa kalian dibentuk dari tahun ke tahun untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa apabila semua itu tak bisa kalian aplikasikan pada kehidupan nyata? Justru itu. Semakin lama, kalian semakin keras dibimbing oleh permasalahan kehidupan kalian yang juga semakin meningkat. Kalian bisa melewati semua itu. Kalian belajar banyak dari semua itu. Lalu ketika kalian harus bertahan pada satu ujian demi mendapatkan impian kalian, mengapa berhenti? Sementara hidup ini sudah begitu baik memberi kalian pelajaran demi pelajaran tiap tahunnya, agar kalian semakin mengerti bahwasanya semua itu merupakan bekal bagi kalian agar jika kelak menghadapi medan yang jauh lebih sulit kalian tak mudah menyerah.
Lalu… Mungkin kalian tak merasakan semua itu. Namun selalu ada yang tersenyum dibalik setiap tahapan yang kalian lalui dalam kehidupan. Mulai dari kalian mampu berjalan hingga berdebat, ada yang selalu menanti, kejutan apa yang akan kalian beri. Kebahagiaan demi kebahagiaan kalian merupakan sumber rasa syukur mereka. Mereka tak pernah peduli akan apa yang tengah mereka hadapi hanya demi indahnya hari-hari yang kalian jalani. Keringat bercampur tetesan airmata telah menjadi teman mereka sehari-hari. Nama kalian tak pernah luput dari doa yang mereka panjatkan. Apapun itu mereka pertaruhkan agar kalian mampu merasakan nikmatnya kehidupan. Pekerjaan nan halal dilakoni, tantangan dihadapi, kebahagiaan sendiri kadang tak sempat dicicipi, hanya untuk memberi kalian kehangatan dalam menjalani dinginnya kehidupan. Dan tak ada tuntutan yang mereka beri. Tak ada balas yang mereka pinta. Hanya satu yang mereka inginkan; kalian sukses, dunia dan akhirat. Mereka menyandang status sebagai sosok orangtua. Mereka ada, dibalik setiap masa yang kalian hadapi. Mereka hadir di barisan terdepan sebagai sosok yang siap menyayangi dan melindungi kalian sepenuh hati.
Apakah kalian akan berpangku tangan?
Mereka memang tak ingin kalian beri apa-apa lagi. Mereka tulus, luar biasa tulus. Namun apakah kalian tidak ingin memberi satu saja, persembahan indah sebagai rasa terimakasih sekaligus cinta kasih kalian atas segala yang telah mereka lakukan untuk kalian?
Apakah kalian tak ingin melihat mereka tersenyum dengan airmata bahagia dan kebanggaan yang menyusup ke dalam hati mereka karena berhasil membawa anaknya satu langkah menuju kesuksesan?
Mereka akan memeluk kalian dengan erat ketika kalian dinyatakan tembus ke PTN yang kalian idam-idamkan, lalu mereka akan mengatakan
“Selamat, anakku. Mama dan papa bangga padamu…’’
Sungguh suatu hal yang takkan pernah bisa kalian beli dengan apapun itu. Kalian berhasil membuat mereka bahagia, begitu bahagia karena mereka merasa perlahan anak mereka telah bertumbuh menjadi sosok yang siap dibesarkan di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, dibentuk menjadi pribadi yang siap menyongsong masa depan dengan kekuatan-kekuatan baru. Mereka bahagia menjadi bagian dari perjalanan hidup kalian. Mereka bahagia, karena mereka telah membantu kalian membuka salah satu pintu menuju masa depan kalian… Dan berhasil. Mereka berhasil.
Pikirkanlah lagi, jika ingin berhenti berjuang.
Renungkanlah lagi, jika ingin bermalas-malasan.
Lalu satu lagi, apakah kalian tidak ingin memberi diri kalian suatu apresiasi atas perjuangan kalian selama tiga tahun di SMA? Ya, masa putih abu abu bukan masa yang mudah bagi kalian seperti yang telah kusinggung sebelumnya. Tentu akan ada banyak hal yang mengobrak abrik emosi kalian. Sesuatu yang bahkan membuat kalian berpikir akan makna hidup ini. Akan kemana kalian nanti. Apakah setelah itu kalian akan beraksi untuk menjadi lebih baik, atau melempem mengikuti rasa malas? Kalian akan dituntut oleh kedewasaan kalian untuk mampu menentukan pilihan. Beberapa momen di hidup ini hanya terjadi satu kali. Sisanya mungkin bisa terulang, namun rasanya tak akan sama. Pun dalam memilih PTN. Saat kalian mampu mengambil langkah itu di tahun kalian dinyatakan lulus, mengapa tak sesegera mungkin diambil? Mengapa tak buru-buru memutuskan untuk segera memilih langkah pasti untuk mengejar impian kalian? Mengapa masih diam menerka nerka apakah keputusan kalian sudah benar? Mengapa masih membisu seakan berjuangpun tak mau? Inilah saat yang tepat bagi kalian, jangan pernah kalian sia-siakan apalagi kalian sepelekan.
Kalian telah melewati banyak suka duka disini. Kalian telah menghadapi segudang tantangan yang menyurutkan semangat namun membangkitkannya kembali sesaat kemudian. Kalian telah dibombardir oleh hal hal yang pernah mematahkan keyakinan kalian mengenai kesuksesan. Kalian sudah melalui banyak masa-masa yang menguji ketabahan kalian karena segalanya terasa berbeda dengan apa yang kalian alami sebelumnya. Ya karena memang kalian dibentuk di ranah ini, tanpa kalian sadari. Berbagai macam hal sudah menjadi santapan kalian sehari-hari, meskipun itu tak mudah sama sekali. Pokoknya kalian telah melalui medan itu dengan penuh ketakutan, kecemasan akan apa yang akan terjadi kelak nantinya dalam kehidupan kalian ini. Tumpah airmata dan tenaga sederas-derasnya, tanpa pernah kalian bisa hentikan. Semua itu telah menghantui kalian disaat kalian memasuki masa SMA, karena emosi kalian mengalami perubahan yang drastis dan turut memengaruhi segala aspek dalam kehidupan kalian. Dan yang paling utama adalah kalian seakan dituntut mencari jati diri kalian dan menjawab segala pertanyaan yang ada dalam benak kalian tanpa ragu lagi. Dan itu bukanlah hal yang mudah. Penuh dengan permasalahan, banjir akan cobaan. Kalian tak bisa mundur, karena kalian memang harus tetap berada dalam posisi siaga menghadapi segalanya. Kalian pun memutuskan untuk…. Tetap berjuang. Dan pada akhirnya kalian sudah tiba di penghujung. Kalian seharusnya sedikit menghadiahi diri kalian yang sudah mau bertahan dalam setiap kondisi kondisi kritis menuju kedewasaan kalian. Kalian sudah mampu berdiri tegak saat diterpa berbagai hal. Jadi mengapa tidak? Mengapa tidak sedikit menghibur diri kalian yang sudah lelah menggempur habis-habisan setiap tantangan selama kalian menjadi siswa SMA yang teladan, dengan hadiah yang bersembunyi dibalik kesuksesan kalian menggapai PTN yang kalian idam-idamkan? Lakukan hal itu untuk diri kalian sendiri dan jangan pernah kalian merasa ragu akan hal tersebut. Sebab kalian, suatu saat nanti, akan berterimakasih pada diri kalian yang sekarang karena tak mudah menyerah dalam hal apapun. Kalian akan tersenyum mengingat bahwa kalian pernah ada di posisi yang sulit dalam perjalanan menuju kedewasaan kalian, dan kalian tak berhenti. Kalian tetap disana dengan semangat kalian yang berkobar… Dan kalian lolos. Kalian berhasil!
Dan itu akan menjadi momen yang sangat membahagiakan untuk kalian yang telah menjalani kehidupan nan hebat dengan pekerjaan yang kalian telah impikan sedari dulu, atau dengan hal yang telah kalian rintis dan berbuah manis pada akhirnya. Akan ada saatnya, sungguh akan ada.
Menghadapi hidup ini tak pernah seindah yang kau lihat di televisi. Tak bisa direkayasa, tak bisa dibalut dengan keindahan semata, tak bisa hanya dipenuhi tawa. Namun sadari saja, bahwa… Ketika kita mulai menghargai hidup kita dengan sepenuh hati---tentunya dengan cara menghargai diri kita dengan berjuang guna mendapatkan sesuatu yang lebih baik di masa depan kelak, hidup kita akan kembali menghargai kita dengan memberi kesuksesan itu sebagai suatu catatan bahwa orang ini, telah berhasil meraih salah satu impian terbesarnya. Tak akan pernah ada yang sia-sia. Maka jadilah sosok yang tak akan pernah menyerah. Apapun yang terjadi, hidup akan selalu memberi dua pilihan;
majulah, atau menyingkirlah. Dan aku yakin bahwa kalian akan memilih yang pertama.
Karena kalian adalah pejuang sejati dalam kehidupan kalian.
-ASA.
Sabtu, 29 September 2018
STORY ABOUT HOW I GET INTO UNIVERSITY (motivation for 12th graders) part 2
Hari demi hari berganti. SBMPTN sudah siap menyapaku, menanyakan seberapa besar persiapanku, menuntutku untuk melakukan yang terbaik. Aku terus belajar dan belajar sebisaku, tanpa meributkan apapun lagi. Di kepalaku hanya ada pemikiran untuk dapat menggapai impianku. Ya karena memang penting bagiku untuk memastikan kalau daya juang yang kumiliki udah luar biasa. Jadi apapun hasilnya, tetep akan selalu bernilai besar bagiku dan nggak akan kusesali. Tentu yang kuinginkan itu lolos, dan aku mengharapkan takdir berpihak kepadaku. Tapi setidaknya aku udah melakukan yang terbaik. Itu sih prinsipku setiap melakukan apapun. Aku selalu berusaha sampai aku bener-bener mentok, bukan mundur karena mengetahui bahwa pada akhirnya aku bakalan mentok. Nggak kepikiran dalam diriku untuk melakukan sesedikit mungkin karena hey, ini SBMPTN! Ini sangat menentukan masa depanku. Aku nggak mau gagal lagi, sejujurnya. Aku nggak mau dikecewakan oleh diriku sendiri. Tapi… Aku lebih nggak mau lagi kalau aku sampai menyesal karena hanya melakukan sesuatu alakadarnya aja. Memang betul, ada beberapa kelemahaku dalam mata ujian di SBMPTN ini kayak yang kubilang tadi, yaitu matdas misalnya. Tapi aku tetep aja nggak menghentikan langkah. Aku tetep belajar meskipun tentu saja hanya sebatas yang aku bisa. Memang betul, aku nggak mau memaksakan diri. Tapi aku tetep ingin memacu diriku sampai memang ada di titik batasnya, bukan hanya menjauhi batas itu hanya karena merasa nggak bisa melampauinya. Pun mata ujian yang aku yakini, nggak pernah membuatku ingin menyombongkan diri dan mengatakan bahwa aku pasti akan sangat hebat dalam yang satu ini tanpa memikirkan yang lain lagi. Justru aku ingin memastikan bahwa semua itu yang menjadi senjata, bukan bumerang bagiku. Ada aja kejadian semacam itu dalam kehidupan kita. Merasa udah bisa dan menyepelekan sesuatu, tau tau salah atau keliru. Dengan tidak merendahkan diri namun juga tidak meninggikan hati, semua hal akan seimbang. Hal itu bisa diletakkan pada perjuangan kita, dalam hal apapun pastinya. Yakin deh, kita nggak akan pernah menang kalau hidup hanya mengandalkan suatu kesombongan. Tapi kita juga nggak akan maju kalau hanya bisa merendahkan. Lakukan semuanya dengan sama rata. Sombong engga, rendah diri pun engga. Lakukan yang terbaik yang kita bisa aja. Tanpa harus berkoar bahwa kita jago agar nanti kita nggak lengah, tapi tanpa harus bilang kalau diri kita nggak mampu agar nanti kita nggak mudah menyerah.
Aku sangat mengerti, aku sangat menyadari bahwa mungkin bagi sebagian orang, belajar dengan mengebut kayak gini nggak bakalan menang. Kadang aku mikir, apakah bisa aku berhasil? Sementara pesaingku diluar sana sudah berjuang, jauh sebelum aku menangis karena patah hati usai ditolak SNMPTN. Mereka sudah mengerti bagaimana medan perang yang akan dihadapi, jauh sebelum aku terpikir bahwa aku akan turut terjun ke medan perang itu sendiri. Mereka sudah mengerahkan segenap tenaga, jauh sebelum aku membuka mata akan pahitnya berjuang. Mereka sudah terlebih dahulu merelakan jam-jam tidur mereka, jauh sebelum aku terpikir untuk tidur larut malam kemudian bangun terlalu pagi hanya untuk mengusaikan belajarku. Intinya, aku masih berada jauh dari mereka dalam hal kapasitas perjuangan. Karena mereka melakukannya jauh lebih dulu dariku. Ada yang sudah teruji kemampuannya di bimbelnya masing-masing, sementara aku hanya bisa menerka nerka dan mengukur kesanggupanku dari caraku belajar mandiri. Ya tentu dong, beda banget. Tapi ketika berada dalam penghujung atas segala kegundahan, kebingungan yang kumiliki, aku udah merasa bener-bener yakin. Pasalnya, aku memang udah menaruh target yang didukung oleh usaha yang udah kulakukan. Bahkan meski waktunya singkat, aku nggak pernah pesimis. Justru itulah yang bikin aku semakin menghargai waktu dengan seperti kataku tadi; belajar! Jangan pernah meniadakan atau menyepelekan sedetikpun diantaranya. Karena semua itu akan bikin nyesel pada akhirnya. Oh ya, dalam tahapan menuju SBMPTN ini, semangat itu sangat diperlukan. Dan pastinya sangat-sangat menentukan sih. Kata-kata yang mampu menyuntikkan motivasi dan keyakinan bagi diri kita ini bisa jadi tambahan tenaga bagi kita dalam bertempur di SBMPTN nanti, lho. Ini sakti luar biasa. Umumnya bisa kita dapatkan dari orang-orang terdekat kita. Keluarga itu pasti. Mereka akan jadi yang terdepan dalam mendukung kita di setiap perjalanan hidup kita. Kasih sayang mereka akan terus menjadi alasan kita untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Banyak banyak menghabiskan diri bersama teman-teman seperjuangan yang juga berada dalam posisi yang sama, yaitu calon penakluk SBMPTN. Kalian harus bertukar semangat bersama mereka, mengubah setiap topik jadi obrolan indah mengenai kesuksesan yang akan didapat kalau kelak tembus SBMPTN. Cobalah. Cobalah untuk berbagi mimpi yang sama. Dijamin kalian akan lebih tertantang mewujudkannya. Asli. Aku seneng banget bisa sharing sama sesama pejuang. Karena aku jadi yakin, aku nggak sendiri. Cari motivasi yang lain. Banyak baca kisah soal mereka yang lolos SBMPTN, liat seberapa hebat perjuangan mereka. Kalau mereka bisa, kamu juga pasti bisa. Yakinkan diri mengenai hal itu. Aku juga sering kok yang namanya baca blog orang-orang yang pernah sama kayak aku. Sedih pas ditolak SNMPTN, namun karena mereka mampu bangkit mereka tembus SBMPTN. Semuanya tuh keren-keren banget! Mereka mengingatkan kepada kita kalau jalan yang bisa kita ambil itu bukan cuma satu doang, jadi nggak ada alasan untuk berhenti melangkah kalau jalannya udah buntu.
Pada akhirnya, hari pelaksanaan SBMPTN pun tiba. Hari yang bener-bener menegangkan untukku, namun juga membahagiakan. Iya, membahagiakan. Karena segala usaha yang telah kulakukan pada akhirnya aku tuangkan. Tentu aku meminta restu orangtuaku. Keyakinan mereka akan selalu menumbuhkan keyakinan dalam diriku. Selamanya. Aku selalu kuat karena mereka! Kali ini aku juga harus lebih kuat. Perihal mimpi bersama lho yang satu ini. Hehehe…
Waktu itu tempat tes-ku di Universitas Bangka Belitung. Aku berangkat pukul setengah 9 kalau nggak salah. Sebelum tes aku ketemu sama temen-temenku yang satu ruangan, atau satu gedung tapi beda ruangan. Banyak sih yang lainnya, tapi gedung mereka jauh banget! Jadi yang bisa kutemui ada beberapa. Kami sedikit bertukar cerita akan keresahan yang dihadapi. Tapi kami udah ada di medan perang jadi nggak ada alasan untuk mundur lagi. Lalu… Ada bel yang berbunyi menandakan waktu akan segera dimulai. Kami lalu masuk keruangan dengan perasaan yang udah nggak bisa lagi didefinisikan. Asli deh, rasanya itu nggak karuan banget. Wajah-wajah tegang namun siap berjuang tak luput kutemui. Pastinya mereka mengenggam mimpi yang sama sepertiku. Ya, kuputuskan untuk fokus pada diriku sendiri aja sih. Oh ya, kami tetep diperiksa kelengkapannya. Hal-hal seperti kartu peserta jangan sampai dilewatkan lho ya. Selembar, namun sepenting itu. Pokoknya kalau SBMPTN ini jangan lengah karena merasa persiapan sudah banyak, karena ngggak sebatas itu aja. Bawaan kita pun harus lengkap biar nggak kelabakan. Oh ya, kami juga duduk di kursi masing-masing yang sudah ditentukan.
Nah, kita langsung melompat ke waktu lembar soal dan jawaban sudah dibagikan di meja setiap peserta. Tentu aku mengisi data terlebih dahulu. Yang satu ini jangan sampai terlewatkan, ya. Karena data juga merupakan hal yang penting. Kalau udah bener jawabannya tapi datanya salah… Duh. Fatal banget akibatnya. Jadi jangan sampai terjadi ya kesalahan kesalahan kecil semacam itu. Harus bener-bener teliti deh pokoknya! Terutama di bagian nomor soal juga, jangan nggak diisi ya. Data harus dipastikan lengkap dan terisi semua, sesuai petunjuk yang kalian dapatkan. Jangan sampai perihal data ini jadi alasan kegagalan kalian karena akan sangat menyesakkan. Memang lucu mengingat kalau hal sekecil ini bisa menjadi penyebab yang besar dari segala hal. Biasakan diri untuk tidak meremehkan apapun, ya.
Waktu pengerjaan soal pun tiba. Jantungku berdegup nggak karuan, namun kuredam dengan doa dan keyakinan. Lagi-lagi. Oh iya, yang pertama diujikan ini TKPA. Seperti keinginanku diawal, aku mengerjakan bahasa inggris dan bahasa Indonesia dulu. Kukerjakan dengan strategi baca cepat seperti yang kukasihtau tadi. Aku liat pokok pikiran utamanya. Baru aplikasiin ke soal. Aku berusaha se-ngebut namun se-teliti mungkin. Disaat orang orang mengerjakan bagian depan dulu, aku malah bagian belakang. Hehe. Lalu baru deh aku mengerjakan bagian yang lain. Untuk matdas, aku hanya bisa beberapa. Aku lupa persisnya tapi nggak sampe 5 deh kayaknya. Aku nggak mau buang-buang waktu.. Huhu! Untuk bagian verbal, figural dan numerical kelemahanku terleta di bagian figural, jadi kukerjakan bagian verbal terlebih dahulu dan sebanyak banyaknya. Baru figural dan numerical bergantian. Random aja sih sebenernya. Soal yang belum kuiisi namun waktu sudah nggak mendukung kujawab semua. Tahun 2018 soalnya nggak pake sistem nilai minus, jadi aku berani untuk tidak mengosongkan lembar jawaban. Lalu.. Waktu selesai. Kami pun dipersilahkan untuk istirahat sejenak. Waktu ini kuhabiskan dengan ketemu sama temen-temenku yang beda gedungnya, lalu kami shalat dan mampir ke kantin guna mengisi perut sejenak. Sekalian melepas penat juga. Mulai deh, tuker-tukeran cerita. Ada yang mengeluh bingung, ada yang mengeluh kalau lupa ini itu, dan lain-lain. Tapi tetep, pastinya mereka udah melakukan sebisanya. Begitu pula aku. Setelah istirahat, kami balik ke gedung masing-masing. Singkat cerita, sampai deh ke TKD SOSHUM. Tetep sama sih kayak sebelumnya, intinya isi data, data, data! Jangan sampai terlewatkan. Dan ya, aku lupa nyatet berapa persisnya aku ngisi soal. Sebenernya bagian ini juga random, namun berhubung aku merasa mampu mengerjakan sosiologi terlebih dahulu aku berusaha kilat menjawab sebanyak mungkin. Seperti strategiku di awal ituloh. Untuk sejarah, kurasa nggak terlalu sulit dan masih bisa dijangkau. Tapi tetep aja ada yang aku nggak tau. Kalau ada yang kayak gitu sih kuabaikan dulu, kalau ada waktu baru deh balik untuk menganalisa lagi. Saat beranjak ke geografi pun, ada yang aku mengerti dan ada yang bikin aku menerka nerka. Dan ekonomi, aku kerjain bener bener sebisaku tanpa maksain diri. Ada materi yang sudah aku baca, dan aku mengerti. Tapi sekalinya aku dapet soal susah, bingungnya minta ampun. Akuntansi oh akuntansi! Bener-bener menusuk-nusuk hati. Tapi ya, tentu aja berjuang itu perlu! Kukerjakan sisa soal yang masih bisa kucoba pikirkan jawabannya apa, yang paling rasional dan mendekati deh. Ada juga yang jawabannya ketemu disaat aku udah baca berulang kali dulu. Dan bagian yang aku nggak tahu aku isi semuanya deh. Pokoknya lembar jawabanku full. Lalu selesailah sudah. Aku pulang dengan kelelahan yang luar biasa. Meskipun hanya otak yang bermain tapi aku yakin semua merasakan hal yang sama.
Oh iya, pengumumannya lama banget! Mungkin sekitaran dua bulan. Hari-hari sempat kuhabiskan dengan gundah gulana, hehe. Tapi aku tetep berkeyakinan penuh pada diriku, karena yang aku kerjakan memang itulah kemampuanku. Aku percaya sama diriku sendiri.
Hari Selasa tanggal 3 juli 2018 kalau nggak salah. Aku udah menyerahkan semuanya pada Allah, aku berdoa agar hasilnya sepadan dengan yang telah kulakukan dan sesuai dengan yang kuiinginkan. Yang lebih membuatku deg-degan adalah WAKTU PENGUMUMAN DIPERCEPAT DUA JAM. Aku langsung panik pas lihat countdown di website SBMPTN yang menandakan bahwa pengumumannya segera hadir, padahal waktu itu masih siang. Dan awalnya dikatakan akan diumumkan jam lima sore. Pas kuitung-itung, ternyata jadi jam tiga. Ya siapa yang nggak heboh sendiri? Duh… Anyway, waktu itu aku nggak bilang sama orangtuaku kalau pengumumannya dipercepat sih hehehe. Aku pengen kasih kejutan aja, entah apa bentuknya. Tapi aku berharap itu akan jadi hal baik. Hal yang, sekali lagi, membahagiakan orangtuaku.
LALU, JENG-JENG! JAM 3!
Kenapa rasanya cepet banget gini, ya? Aku nggak bisa menahan perasaanku yang bergejolak waktu itu. Yakin sih yakin, tapi siapapun kalau udah berhadapan dengan hal kayak gini pasti takut sendiri. Aku berdoa sejenak dan kemudian memasukkan nomor peserta beserta tanggal lahirku. Sempet lama banget dong, loadingnya. Tentu saja, karena yang akses super banyak. Aku coba bersabar dan buka berkali-kali. Lalu aku sedikit menahan napas saat melihat monitor.
Dan tumpahlah kebahagiaanku.
Azzahra Shafira Ananta, lolos SBMPTN di UPN ‘’Veteran’’ Jakarta.
Jurusan Hubungan Internasional.
Dua hal yang sangat aku impikan.
Aku terharu. Sekaligus bahagia dan penuh syukur.
Aku menghampiri keluargaku yang tengah berkumpul, dan memberitahu ini pada mereka…. DAN SUNGGUH. Kebahagiaan mereka akan keberhasilanku di SBMPTN terasa sangat menyejukkan bagiku. Terutama kedua orangtuaku. Akhirnya aku berhasil mencapai apa yang sangat aku inginkan sedari dulu. Aku bener-bener nggak tau bagaimana meluapkan perasaanku, karena hari itu semua keindahan bercampur jadi satu….
Aku sangat mengerti, aku sangat menyadari bahwa mungkin bagi sebagian orang, belajar dengan mengebut kayak gini nggak bakalan menang. Kadang aku mikir, apakah bisa aku berhasil? Sementara pesaingku diluar sana sudah berjuang, jauh sebelum aku menangis karena patah hati usai ditolak SNMPTN. Mereka sudah mengerti bagaimana medan perang yang akan dihadapi, jauh sebelum aku terpikir bahwa aku akan turut terjun ke medan perang itu sendiri. Mereka sudah mengerahkan segenap tenaga, jauh sebelum aku membuka mata akan pahitnya berjuang. Mereka sudah terlebih dahulu merelakan jam-jam tidur mereka, jauh sebelum aku terpikir untuk tidur larut malam kemudian bangun terlalu pagi hanya untuk mengusaikan belajarku. Intinya, aku masih berada jauh dari mereka dalam hal kapasitas perjuangan. Karena mereka melakukannya jauh lebih dulu dariku. Ada yang sudah teruji kemampuannya di bimbelnya masing-masing, sementara aku hanya bisa menerka nerka dan mengukur kesanggupanku dari caraku belajar mandiri. Ya tentu dong, beda banget. Tapi ketika berada dalam penghujung atas segala kegundahan, kebingungan yang kumiliki, aku udah merasa bener-bener yakin. Pasalnya, aku memang udah menaruh target yang didukung oleh usaha yang udah kulakukan. Bahkan meski waktunya singkat, aku nggak pernah pesimis. Justru itulah yang bikin aku semakin menghargai waktu dengan seperti kataku tadi; belajar! Jangan pernah meniadakan atau menyepelekan sedetikpun diantaranya. Karena semua itu akan bikin nyesel pada akhirnya. Oh ya, dalam tahapan menuju SBMPTN ini, semangat itu sangat diperlukan. Dan pastinya sangat-sangat menentukan sih. Kata-kata yang mampu menyuntikkan motivasi dan keyakinan bagi diri kita ini bisa jadi tambahan tenaga bagi kita dalam bertempur di SBMPTN nanti, lho. Ini sakti luar biasa. Umumnya bisa kita dapatkan dari orang-orang terdekat kita. Keluarga itu pasti. Mereka akan jadi yang terdepan dalam mendukung kita di setiap perjalanan hidup kita. Kasih sayang mereka akan terus menjadi alasan kita untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Banyak banyak menghabiskan diri bersama teman-teman seperjuangan yang juga berada dalam posisi yang sama, yaitu calon penakluk SBMPTN. Kalian harus bertukar semangat bersama mereka, mengubah setiap topik jadi obrolan indah mengenai kesuksesan yang akan didapat kalau kelak tembus SBMPTN. Cobalah. Cobalah untuk berbagi mimpi yang sama. Dijamin kalian akan lebih tertantang mewujudkannya. Asli. Aku seneng banget bisa sharing sama sesama pejuang. Karena aku jadi yakin, aku nggak sendiri. Cari motivasi yang lain. Banyak baca kisah soal mereka yang lolos SBMPTN, liat seberapa hebat perjuangan mereka. Kalau mereka bisa, kamu juga pasti bisa. Yakinkan diri mengenai hal itu. Aku juga sering kok yang namanya baca blog orang-orang yang pernah sama kayak aku. Sedih pas ditolak SNMPTN, namun karena mereka mampu bangkit mereka tembus SBMPTN. Semuanya tuh keren-keren banget! Mereka mengingatkan kepada kita kalau jalan yang bisa kita ambil itu bukan cuma satu doang, jadi nggak ada alasan untuk berhenti melangkah kalau jalannya udah buntu.
Pada akhirnya, hari pelaksanaan SBMPTN pun tiba. Hari yang bener-bener menegangkan untukku, namun juga membahagiakan. Iya, membahagiakan. Karena segala usaha yang telah kulakukan pada akhirnya aku tuangkan. Tentu aku meminta restu orangtuaku. Keyakinan mereka akan selalu menumbuhkan keyakinan dalam diriku. Selamanya. Aku selalu kuat karena mereka! Kali ini aku juga harus lebih kuat. Perihal mimpi bersama lho yang satu ini. Hehehe…
Waktu itu tempat tes-ku di Universitas Bangka Belitung. Aku berangkat pukul setengah 9 kalau nggak salah. Sebelum tes aku ketemu sama temen-temenku yang satu ruangan, atau satu gedung tapi beda ruangan. Banyak sih yang lainnya, tapi gedung mereka jauh banget! Jadi yang bisa kutemui ada beberapa. Kami sedikit bertukar cerita akan keresahan yang dihadapi. Tapi kami udah ada di medan perang jadi nggak ada alasan untuk mundur lagi. Lalu… Ada bel yang berbunyi menandakan waktu akan segera dimulai. Kami lalu masuk keruangan dengan perasaan yang udah nggak bisa lagi didefinisikan. Asli deh, rasanya itu nggak karuan banget. Wajah-wajah tegang namun siap berjuang tak luput kutemui. Pastinya mereka mengenggam mimpi yang sama sepertiku. Ya, kuputuskan untuk fokus pada diriku sendiri aja sih. Oh ya, kami tetep diperiksa kelengkapannya. Hal-hal seperti kartu peserta jangan sampai dilewatkan lho ya. Selembar, namun sepenting itu. Pokoknya kalau SBMPTN ini jangan lengah karena merasa persiapan sudah banyak, karena ngggak sebatas itu aja. Bawaan kita pun harus lengkap biar nggak kelabakan. Oh ya, kami juga duduk di kursi masing-masing yang sudah ditentukan.
Nah, kita langsung melompat ke waktu lembar soal dan jawaban sudah dibagikan di meja setiap peserta. Tentu aku mengisi data terlebih dahulu. Yang satu ini jangan sampai terlewatkan, ya. Karena data juga merupakan hal yang penting. Kalau udah bener jawabannya tapi datanya salah… Duh. Fatal banget akibatnya. Jadi jangan sampai terjadi ya kesalahan kesalahan kecil semacam itu. Harus bener-bener teliti deh pokoknya! Terutama di bagian nomor soal juga, jangan nggak diisi ya. Data harus dipastikan lengkap dan terisi semua, sesuai petunjuk yang kalian dapatkan. Jangan sampai perihal data ini jadi alasan kegagalan kalian karena akan sangat menyesakkan. Memang lucu mengingat kalau hal sekecil ini bisa menjadi penyebab yang besar dari segala hal. Biasakan diri untuk tidak meremehkan apapun, ya.
Waktu pengerjaan soal pun tiba. Jantungku berdegup nggak karuan, namun kuredam dengan doa dan keyakinan. Lagi-lagi. Oh iya, yang pertama diujikan ini TKPA. Seperti keinginanku diawal, aku mengerjakan bahasa inggris dan bahasa Indonesia dulu. Kukerjakan dengan strategi baca cepat seperti yang kukasihtau tadi. Aku liat pokok pikiran utamanya. Baru aplikasiin ke soal. Aku berusaha se-ngebut namun se-teliti mungkin. Disaat orang orang mengerjakan bagian depan dulu, aku malah bagian belakang. Hehe. Lalu baru deh aku mengerjakan bagian yang lain. Untuk matdas, aku hanya bisa beberapa. Aku lupa persisnya tapi nggak sampe 5 deh kayaknya. Aku nggak mau buang-buang waktu.. Huhu! Untuk bagian verbal, figural dan numerical kelemahanku terleta di bagian figural, jadi kukerjakan bagian verbal terlebih dahulu dan sebanyak banyaknya. Baru figural dan numerical bergantian. Random aja sih sebenernya. Soal yang belum kuiisi namun waktu sudah nggak mendukung kujawab semua. Tahun 2018 soalnya nggak pake sistem nilai minus, jadi aku berani untuk tidak mengosongkan lembar jawaban. Lalu.. Waktu selesai. Kami pun dipersilahkan untuk istirahat sejenak. Waktu ini kuhabiskan dengan ketemu sama temen-temenku yang beda gedungnya, lalu kami shalat dan mampir ke kantin guna mengisi perut sejenak. Sekalian melepas penat juga. Mulai deh, tuker-tukeran cerita. Ada yang mengeluh bingung, ada yang mengeluh kalau lupa ini itu, dan lain-lain. Tapi tetep, pastinya mereka udah melakukan sebisanya. Begitu pula aku. Setelah istirahat, kami balik ke gedung masing-masing. Singkat cerita, sampai deh ke TKD SOSHUM. Tetep sama sih kayak sebelumnya, intinya isi data, data, data! Jangan sampai terlewatkan. Dan ya, aku lupa nyatet berapa persisnya aku ngisi soal. Sebenernya bagian ini juga random, namun berhubung aku merasa mampu mengerjakan sosiologi terlebih dahulu aku berusaha kilat menjawab sebanyak mungkin. Seperti strategiku di awal ituloh. Untuk sejarah, kurasa nggak terlalu sulit dan masih bisa dijangkau. Tapi tetep aja ada yang aku nggak tau. Kalau ada yang kayak gitu sih kuabaikan dulu, kalau ada waktu baru deh balik untuk menganalisa lagi. Saat beranjak ke geografi pun, ada yang aku mengerti dan ada yang bikin aku menerka nerka. Dan ekonomi, aku kerjain bener bener sebisaku tanpa maksain diri. Ada materi yang sudah aku baca, dan aku mengerti. Tapi sekalinya aku dapet soal susah, bingungnya minta ampun. Akuntansi oh akuntansi! Bener-bener menusuk-nusuk hati. Tapi ya, tentu aja berjuang itu perlu! Kukerjakan sisa soal yang masih bisa kucoba pikirkan jawabannya apa, yang paling rasional dan mendekati deh. Ada juga yang jawabannya ketemu disaat aku udah baca berulang kali dulu. Dan bagian yang aku nggak tahu aku isi semuanya deh. Pokoknya lembar jawabanku full. Lalu selesailah sudah. Aku pulang dengan kelelahan yang luar biasa. Meskipun hanya otak yang bermain tapi aku yakin semua merasakan hal yang sama.
Oh iya, pengumumannya lama banget! Mungkin sekitaran dua bulan. Hari-hari sempat kuhabiskan dengan gundah gulana, hehe. Tapi aku tetep berkeyakinan penuh pada diriku, karena yang aku kerjakan memang itulah kemampuanku. Aku percaya sama diriku sendiri.
Hari Selasa tanggal 3 juli 2018 kalau nggak salah. Aku udah menyerahkan semuanya pada Allah, aku berdoa agar hasilnya sepadan dengan yang telah kulakukan dan sesuai dengan yang kuiinginkan. Yang lebih membuatku deg-degan adalah WAKTU PENGUMUMAN DIPERCEPAT DUA JAM. Aku langsung panik pas lihat countdown di website SBMPTN yang menandakan bahwa pengumumannya segera hadir, padahal waktu itu masih siang. Dan awalnya dikatakan akan diumumkan jam lima sore. Pas kuitung-itung, ternyata jadi jam tiga. Ya siapa yang nggak heboh sendiri? Duh… Anyway, waktu itu aku nggak bilang sama orangtuaku kalau pengumumannya dipercepat sih hehehe. Aku pengen kasih kejutan aja, entah apa bentuknya. Tapi aku berharap itu akan jadi hal baik. Hal yang, sekali lagi, membahagiakan orangtuaku.
LALU, JENG-JENG! JAM 3!
Kenapa rasanya cepet banget gini, ya? Aku nggak bisa menahan perasaanku yang bergejolak waktu itu. Yakin sih yakin, tapi siapapun kalau udah berhadapan dengan hal kayak gini pasti takut sendiri. Aku berdoa sejenak dan kemudian memasukkan nomor peserta beserta tanggal lahirku. Sempet lama banget dong, loadingnya. Tentu saja, karena yang akses super banyak. Aku coba bersabar dan buka berkali-kali. Lalu aku sedikit menahan napas saat melihat monitor.
Dan tumpahlah kebahagiaanku.
Azzahra Shafira Ananta, lolos SBMPTN di UPN ‘’Veteran’’ Jakarta.
Jurusan Hubungan Internasional.
Dua hal yang sangat aku impikan.
Aku terharu. Sekaligus bahagia dan penuh syukur.
Aku menghampiri keluargaku yang tengah berkumpul, dan memberitahu ini pada mereka…. DAN SUNGGUH. Kebahagiaan mereka akan keberhasilanku di SBMPTN terasa sangat menyejukkan bagiku. Terutama kedua orangtuaku. Akhirnya aku berhasil mencapai apa yang sangat aku inginkan sedari dulu. Aku bener-bener nggak tau bagaimana meluapkan perasaanku, karena hari itu semua keindahan bercampur jadi satu….
STORY ABOUT HOW I GET INTO UNIVERSITY (motivation for 12th graders) part 1
Hello readers!
Terkhusus bagi kalian yang sekarang lagi menikmati tahap akhir dari masa putih abu abu alias kelas 12, pastinya kalian udah disibukkan sama sejumlah urusan mengenai kelulusan kalian kelak nantinya. Kalian bakal dihadapkan sama segudang les tambahan dan rangkaian hal lain yang menguji kesabaran kalian sebelum kalian pada akhirnya ikut ujian nasional, sebagai ujian akhir dari segala ujian yang telah kalian lalui selama SMA. Sebenernya sih sampai ijazah itu pada akhirnya ada di tangan kalian akan selalu ada tantangan yang harus kalian selesaikan dengan sebaik mungkin. Semua itu berat banget, dan pastinya nggak main-main karena bakal menentukan nasib kalian kedepannya. Mungkin diantara kalian udah ada yang rela mengurangi waktu jalan-jalan sama temen sepermainan hanya karena kalian mau fokus sama apa yang ada didepan mata. Yang tadinya rajin nonton bioskop, nongkrong di kafe dan lain-lain udah kepikiran untuk pensiun sejenak dikarenakan tantangan yang sedang menanti. Tadinya pembahasan hanya seputar gebetan, sekarang tentang materi ujian. Dan berbagai hal baru yang lainnya. Pokoknya hidup kalian berubah deh, pasti ada perbedaan sama kalian yang masih duduk di kelas 11 sebelumnya. Jalan yang harus kalian tempuh bukanlah jalan biasa, penuh kerikil tajam yang siap menghujam kalian dan harus kalian lewati. Banyak lika-liku yang harus kalian hadapi, dan nggak sedikit keluhan demi keluhan timbul dalam diri kalian. Itu wajar, pasti ada masanya. Tapi jangan sampai berlarut-larut. Banyakin berjuangnya, jangan banyakin kedernya. Harus tetep semangat menjalani apa yang harus kalian jalani, supaya hasilnya semaksimal yang kalian inginkan.
Ngomong-ngomong, tunggu dulu deh, Kalian pasti tau bahwa tantangan sebenernya itu adalah…
MASUK PTN.
PERGURUAN TINGGI NEGERI.
Yup. Sebenernya ini adalah puncak dari berbagai perjuangan kalian sih kalau menurut aku. Jujur aja, masuk PTN itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Nggak akan otomatis kalian langsung masuk, jelas. Perjuangannya luar biasa. Ujian nasional misalnya bisa ditaklukkan, namun apakah impian masuk PTN juga bisa direalisasikan? Itu pertanyaannya. Untuk dapetin satu bangku di PTN itu kalian bener-bener diuji untuk mengerahkan segala kemampuan kalian. Karena disini, berjuangnya bukan sama orang-orang disekitar kalian doang. Berjuangnya sama orang se-tanah air tercinta. Apalagi kalau target kalian masuk ke PTN ternama di Indonesia. Nggak cukup hanya dengan mengandalkan keyakinan aja. Semua punya trik tersendiri, dan jangan sampai kalian melewatkan itu semua hanya karena kalian menyepelekannya. Hal yang kalian sia-siakan itu bakal jadi sumber penyesalan kalian di masa depan. Sebelum hari itu tiba, yakinkan diri kalian untuk nggak salah pilih jalan kedepannya ya.
Nah, kalian semua pasti udah tau apa aja jalur masuk ke PTN. Ada SNMPTN, SBMPTN dan mandiri. Kalian tentu udah dijelasin soal ini sama guru BK masing-masing atau bahkan kepo sendiri lalu nyari infonya di internet. Kali ini aku bakal sedikit berbagi pengalaman dan tips untuk kalian. Terutama untuk jalur SBMPTN ini, karena aku sendiri masuk PTN lewat jalur yang satu ini. Jadi mungkin bisa sedikit memberi pencerahan. Awalnya aku nggak kepikiran sama sekali untuk bisa masuk lewat jalur SBMPTN. Waktu itu aku kebagian kuota untuk bisa daftar SNMPTN, dan semua itu bikin aku super optimis. Aku memang nggak terlalu tinggi dalam berekspetasi, tapi jujur aja, bisa ikut SNMPTN pun luar biasa senengnya. Itu sih yang menurut aku bikin keyakinanku semakin lama semakin tumbuh. Waktu daftar SNMPTN luar biasa semangatnya. Aku cuma milih satu universitas waktu itu, yaitu UPN ‘’Veteran’’ Yogyakarta. Ambilnya? Jurusan Ilmu Komunikasi dan Hubungan Internasional. Dua jurusan yang memang udah aku incer sejak awal dan kupikirkan matang-matang. Hari demi hari dilewati untuk menunggu… Tentunya dengan banyakin doa sih. Tetep aja hati ini degdegan ngebayangin betapa indahnya kalau nanti dinyatakan lolos. Jadi mahasiswa baru, ikut ospek, jalanin dunia perkuliahan… Dan lain-lain.
TAPI…
Aku salah.
Tangisku pecah sewaktu aku melihat warna merah di monitor. Iya, aku nggak lolos SNMPTN. Siapa yang nggak kaget sekaligus sedih coba? Hal yang sangat aku impikan bahkan sedari dulu harus sirna. Aku pikir perjuanganku udah cukup sampai disini aja, dan aku bisa masuk ke universitas yang aku inginkan tanpa perlu berkutat dengan serangkaian tes lagi. Tapi ternyata Allah belum menghendaki aku untuk bisa masuk lewat jalur SNMPTN ini. Emosi jadi campur aduk, dan sesaat nggak bisa berpikir jernih. Terus aja mikir apa yang salah sama diriku. Untungnya orang-orang terdekat sangat memotivasi ku untuk bisa melanjutkan langkah. Temen-temen yang satu nasib pun nggak berdiam diri, kami saling menyemangati. Aku turut berbahagia waktu itu untuk yang lolos, namun hati ini nggak bisa bohong kalau aku juga ingin. Ingin bisa dinyatakan sebagai bagian dari universitas yang sudah ada dalam daftar mimpi-mimpiku. Ditambah aku pesimis, apakah bisa aku mengejar SBMPTN padahal waktunya udah mepet banget? Yup. Sebenernya pendaftaran SBMPTN udah lama dibuka, dan beberapa temenku udah ada yang nyicil belajar dari jauh-jauh hari. Tapi kan aku nggak kepikiran, karena aku pikir aku lolos SNMPTN dan aku malah santai. Sebenernya salahnya ada disitu sih. Ditambah konon katanya soal SBMPTN itu susah luar biasa. Tapi kalau kata orang nasi udah jadi bubur. Apa daya, aku hanya bisa bikin ‘’bubur’’ itu jadi kerasa enak. Ngerti kan maksudku? Hehe… Pada akhirnya aku memutuskan untuk bangkit. Masalah waktu yang udah singkat, itu belakangan. Yang penting aku harus coba daftar. Karena prinsipku lebih baik sedih kalau nggak lolos daripada sedih karena nggak daftar sama sekali. Tapi tetep… harus lolos, dong! hehe. Aku lalu daftar SBMPTN ditemenin mama. Aku bayar dulu waktu itu di bank, dan malemnya baru deh aku milih universitasnya. Aku daftar di UPN ‘’Veteran’’ Yogyakarta jurusan ilmu komunikasi. Lalu pilihan keduaku UPN ‘’Veteran’’ Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Pilihan ketiga aku dilema berat plus super bingung karena ngerasa nggak mau milih apa apa lagi, tapi aku mau coba-coba. Siapa tau gol! Peluang sesedikit apapun harus diambil dong pastinya. Jadi aku milih Universitas Negeri Jakarta, jurusan sastra inggris. Dan hari itu juga aku daftar zenius. Ini bukan promosi, tapi aku memang sedikit belajar disitu hehe. Aku juga beli buku SBMPTN yang direkomendasikan. Waktu itu aku beli di gramedia. Agak mahal memang, tapi demi mimpi kenapa itung-itungan coba? Bahkan saking niatnya aku coba download kumpulan contoh soal SBMPTN yang bisa didapatkan secara cuma cuma di internet. Pokoknya banyak deh!
Aku bener-bener nggak ngerti sebesar apa nyaliku sampai sampai belajar di waktu yang kurang dari sebulan. Banyak orang yang udah belajar dari entah kapan, sementara aku? Jujur…. ada sedikit ketakutan dalam diriku. Kadang-kadang aku nangis karena ingin menyerah. Tapi cuma sesaat. Sisanya tetep kuhabiskan dengan berjuang. PTN itu impian terbesarku, aku ingin melihat senyum kedua orangtuaku ketika aku bersukacita melihat monitor yang menyampaikan berita kelulusanku. Bertahun-tahun pengorbanan mereka untukku mungkin nggak akan pernah terbayar dengan apapun, namun yang satu ini bisa menjadi bukti cinta kasihku pada mereka. Tuh kan, jadi mewek! Hehe. Setiap kali aku letih, aku inget betapa orangtuaku mengabaikan rasa letih mereka hanya demi hal-hal yang dapat membahagiakanku, dan saudara-saudaraku. Sekarang masa aku berhenti hanya karena letih? Mereka nggak pernah memperhitungkan setetes keringat mereka, lalu apakah aku harus melakukan semua itu? Nggak. Sama halnya seperti mereka yang nggak akan pernah berhenti berjuang untuk membuat hidupku dan saudara-saudaraku terasa indah luar biasa tanpa sedikitpun kesusahan, aku juga harus berjuang hingga orangtuaku tersenyum bangga sembari meneteskan airmata bahagia. Mereka sangat mencintaiku, dan aku juga. Cinta mereka sudah jauh lebih dulu dibuktikan, dan sekarang giliranku….
Jadilah aku memulai kehidupan sebagai sang pengejar mimpi. Hari demi hari aku habiskan dengan belajar. Ya, sempet sih ngerasa males. Tapi tetep, itumah godaan sejenak doang, harus kukalahkan. Anyway, aku nggak ikut bimbel, karena tanggung! Hehe. Waktunya udah super mepet. Aku memutuskan belajar dirumah aja, karena emang tipe belajarku kayak gitu. Aku suka belajar mandiri. Tapi kalian yang mau ikut bimbel malah lebih bagus karena pasti diajarin trik-triknya, jadi itu sangat kusarankan lho ya.
Berhubung jurusan yang kuambil masuk ranah sosial, aku ambilnya SOSHUM. Jadi yang diujikan itu TKPA (Tes kemampuan dan potensi akademik) dan TKD (Tes kemampuan dasar) SOSHUM. TKPA ini terdiri dari bahasa inggris, bahasa Indonesia, matematika dasar, verbal, figural dan numerical. Kalau TKD SOSHUM ini terdiri dari sejarah, sosiologi, ekonomi dan geografi. Pertama aku bakal bahas bagian TKD dulu. Nah… waktu itu aku mencoba memahami kapasitas kemampuanku. Aku lihat, mana materi yang paling kukuasai dan mana yang engga. Aku waktu itu ambil ujian nasional sosiologi, dan ketika kulihat pembahasannya di buku SBMPTN ternyata lumayan mudah dan sesuai sama yang kupelajari. Kemudian sejarah, sejarah ini memang luas namun ada beberapa yang juga masih melekat di otakku. Lalu tersulit kedua dari terakhir, geografi, yang keliatannya sederhana tapi lumayan berbobot. Kutanya temenku yang ambil UN geografi, pelajaran satu ini memang menipu. Sedikit jika dilihat sekilas, tapi kalau ditelusuri materinya banyak luar biasa. Dan terakhir… ekonomi! Aku memang nggak suka pelajaran satu ini, apalagi bagian akuntansi. Aku cuma suka kalau materinya lagi kukuasai aja, kalau lagi bingung mah bawaannya nggak semangat belajar yang satu ini. Memang passionku bukan disini, dan aku nggak pernah memaksakan diri. Tapi tentu aku harus mencoba sebisaku dong. Setelah kuurutkan aku jadi ngerti bahwa aku harus memprioritaskan belajar ekonomi dulu. Aku menentukan hari-hari apa saja aku akan belajar ekonomi, lalu lanjut geografi, kemudian sejarah. Soalnya waktunya udah sempit, jadi strategi harus bagus. Untuk sosiologi, jujur aja aku belajarnya alakadarnya dan hanya berlatih soal karena Alhamdulillah aku lumayan mengerti. Jadi kelak aku berniat untuk terlebih dahulu mengerjakan sosiologi, baru sejarah, geografi dan terakhir ekonomi! Yang terakhir itu harus yang dapet perhatian khusus dan pengerjaannya paling lama. Hehe….
Terus kita pindah haluan ke TKPA. Jadi untuk bahasa inggris, matematika dan bahasa Indonesia, ketiga ini tentu memiliki kadar kesulitan masing-masing. Terutama matdas! Jujur, aku nggak suka matematika. Jadi aku sama sekali nggak belajar bagian ini secara detail, hanya sebisaku. Beneran nggak belajar secara menyeluruh. Aku nggak menargetkan banyak mengerjakan bagian yang satu ini nantinya. Lalu bahasa inggris dan bahasa Indonesia... Hmm. Untuk dua mata ujian ini tipsku adalah berlatih membaca cepat dan memahami pokok pikiran utamanya dari artikelnya. Jujur aja, aku juga sebenernya masih kelabakan. Terutama bahasa inggris, karena artikelnya keren bukan main. Keren disini dalam artian panjang dan berat luar biasa sih isi maupun penggunaan bahasanya. Hehe. Tapi ya banyak dicoba aja. Hajar! Kerjakan semua soal yang ada di buku atau dimanapun, pastinya dalam waktu yang singkat. Bagian verbal, numerical dan figural sendiri aku hanya berlatih soal karena memang ini cuma butuh trik tertentu. Aku sudah memprioritaskan yang mana yang mau kukerjakan duluan nanti pada waktu itu. Aku memutuskan untuk mengerjakan bahasa inggris dulu, lalu bahasa Indonesia. Untuk matdas rasanya aku nggak memikirkannya sama sekali karena nggak mau maksa, aku bertekad mengerjakan sebisaku aja. Kemudian baru deh bagian verbal, numerical dan figural. Time management is a must! Waktu sangat penting dalam tes yang satu ini, karena harus bisa mengatur tata cara pengerjaan soal dalam jangka waktu yang sempit. Dilemanya luar biasa, karena bagian bahasa inggris dan bahasa Indonesia paragrafnya super panjang,matdas soal soalnya memicu kelelahan luar biasa, tapi bagian verbal, numerical dan figural juga sangat menyita kapasitas otak. Tapi inget… practice makes perfect! Memang dalam SBMPTN ini nggak bisa serta merta hanya belajar sih, tapi harus mengerti pengaplikasiannya. Jadi jangan pernah hanya membaca materi ya. Oh iya, dengan belajar online menggunakan media seperti video kayak yang kulakukan juga sangat membantu sih menurutku. Sembari aku belajar dari buku, aku menyesuaikan juga dengan nonton videonya. Apalagi untuk yang nggak bimbel kayak aku, PR-nya jauh lebih banyak! Jadi jangan pernah menyerah. Terus aja berlatih dan jangan pernah ragu. Itu kunci sih menurutku. Tentukan waktu belajar kalian mau kapan aja, mau belajar kayak apa metodenya, dan tentukan prioritas kalian. Oh ya, satu aspek yang nggak boleh kalian lupain itu dari segi akhiratnya ya. Alias… ibadah! Usaha udah pol tapi ibadah nol ya sama aja bohong. Tapi jangan rajin ibadah hanya karena pengen sesuatu. Niatkan semua karena Allah….
Terkhusus bagi kalian yang sekarang lagi menikmati tahap akhir dari masa putih abu abu alias kelas 12, pastinya kalian udah disibukkan sama sejumlah urusan mengenai kelulusan kalian kelak nantinya. Kalian bakal dihadapkan sama segudang les tambahan dan rangkaian hal lain yang menguji kesabaran kalian sebelum kalian pada akhirnya ikut ujian nasional, sebagai ujian akhir dari segala ujian yang telah kalian lalui selama SMA. Sebenernya sih sampai ijazah itu pada akhirnya ada di tangan kalian akan selalu ada tantangan yang harus kalian selesaikan dengan sebaik mungkin. Semua itu berat banget, dan pastinya nggak main-main karena bakal menentukan nasib kalian kedepannya. Mungkin diantara kalian udah ada yang rela mengurangi waktu jalan-jalan sama temen sepermainan hanya karena kalian mau fokus sama apa yang ada didepan mata. Yang tadinya rajin nonton bioskop, nongkrong di kafe dan lain-lain udah kepikiran untuk pensiun sejenak dikarenakan tantangan yang sedang menanti. Tadinya pembahasan hanya seputar gebetan, sekarang tentang materi ujian. Dan berbagai hal baru yang lainnya. Pokoknya hidup kalian berubah deh, pasti ada perbedaan sama kalian yang masih duduk di kelas 11 sebelumnya. Jalan yang harus kalian tempuh bukanlah jalan biasa, penuh kerikil tajam yang siap menghujam kalian dan harus kalian lewati. Banyak lika-liku yang harus kalian hadapi, dan nggak sedikit keluhan demi keluhan timbul dalam diri kalian. Itu wajar, pasti ada masanya. Tapi jangan sampai berlarut-larut. Banyakin berjuangnya, jangan banyakin kedernya. Harus tetep semangat menjalani apa yang harus kalian jalani, supaya hasilnya semaksimal yang kalian inginkan.
Ngomong-ngomong, tunggu dulu deh, Kalian pasti tau bahwa tantangan sebenernya itu adalah…
MASUK PTN.
PERGURUAN TINGGI NEGERI.
Yup. Sebenernya ini adalah puncak dari berbagai perjuangan kalian sih kalau menurut aku. Jujur aja, masuk PTN itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Nggak akan otomatis kalian langsung masuk, jelas. Perjuangannya luar biasa. Ujian nasional misalnya bisa ditaklukkan, namun apakah impian masuk PTN juga bisa direalisasikan? Itu pertanyaannya. Untuk dapetin satu bangku di PTN itu kalian bener-bener diuji untuk mengerahkan segala kemampuan kalian. Karena disini, berjuangnya bukan sama orang-orang disekitar kalian doang. Berjuangnya sama orang se-tanah air tercinta. Apalagi kalau target kalian masuk ke PTN ternama di Indonesia. Nggak cukup hanya dengan mengandalkan keyakinan aja. Semua punya trik tersendiri, dan jangan sampai kalian melewatkan itu semua hanya karena kalian menyepelekannya. Hal yang kalian sia-siakan itu bakal jadi sumber penyesalan kalian di masa depan. Sebelum hari itu tiba, yakinkan diri kalian untuk nggak salah pilih jalan kedepannya ya.
Nah, kalian semua pasti udah tau apa aja jalur masuk ke PTN. Ada SNMPTN, SBMPTN dan mandiri. Kalian tentu udah dijelasin soal ini sama guru BK masing-masing atau bahkan kepo sendiri lalu nyari infonya di internet. Kali ini aku bakal sedikit berbagi pengalaman dan tips untuk kalian. Terutama untuk jalur SBMPTN ini, karena aku sendiri masuk PTN lewat jalur yang satu ini. Jadi mungkin bisa sedikit memberi pencerahan. Awalnya aku nggak kepikiran sama sekali untuk bisa masuk lewat jalur SBMPTN. Waktu itu aku kebagian kuota untuk bisa daftar SNMPTN, dan semua itu bikin aku super optimis. Aku memang nggak terlalu tinggi dalam berekspetasi, tapi jujur aja, bisa ikut SNMPTN pun luar biasa senengnya. Itu sih yang menurut aku bikin keyakinanku semakin lama semakin tumbuh. Waktu daftar SNMPTN luar biasa semangatnya. Aku cuma milih satu universitas waktu itu, yaitu UPN ‘’Veteran’’ Yogyakarta. Ambilnya? Jurusan Ilmu Komunikasi dan Hubungan Internasional. Dua jurusan yang memang udah aku incer sejak awal dan kupikirkan matang-matang. Hari demi hari dilewati untuk menunggu… Tentunya dengan banyakin doa sih. Tetep aja hati ini degdegan ngebayangin betapa indahnya kalau nanti dinyatakan lolos. Jadi mahasiswa baru, ikut ospek, jalanin dunia perkuliahan… Dan lain-lain.
TAPI…
Aku salah.
Tangisku pecah sewaktu aku melihat warna merah di monitor. Iya, aku nggak lolos SNMPTN. Siapa yang nggak kaget sekaligus sedih coba? Hal yang sangat aku impikan bahkan sedari dulu harus sirna. Aku pikir perjuanganku udah cukup sampai disini aja, dan aku bisa masuk ke universitas yang aku inginkan tanpa perlu berkutat dengan serangkaian tes lagi. Tapi ternyata Allah belum menghendaki aku untuk bisa masuk lewat jalur SNMPTN ini. Emosi jadi campur aduk, dan sesaat nggak bisa berpikir jernih. Terus aja mikir apa yang salah sama diriku. Untungnya orang-orang terdekat sangat memotivasi ku untuk bisa melanjutkan langkah. Temen-temen yang satu nasib pun nggak berdiam diri, kami saling menyemangati. Aku turut berbahagia waktu itu untuk yang lolos, namun hati ini nggak bisa bohong kalau aku juga ingin. Ingin bisa dinyatakan sebagai bagian dari universitas yang sudah ada dalam daftar mimpi-mimpiku. Ditambah aku pesimis, apakah bisa aku mengejar SBMPTN padahal waktunya udah mepet banget? Yup. Sebenernya pendaftaran SBMPTN udah lama dibuka, dan beberapa temenku udah ada yang nyicil belajar dari jauh-jauh hari. Tapi kan aku nggak kepikiran, karena aku pikir aku lolos SNMPTN dan aku malah santai. Sebenernya salahnya ada disitu sih. Ditambah konon katanya soal SBMPTN itu susah luar biasa. Tapi kalau kata orang nasi udah jadi bubur. Apa daya, aku hanya bisa bikin ‘’bubur’’ itu jadi kerasa enak. Ngerti kan maksudku? Hehe… Pada akhirnya aku memutuskan untuk bangkit. Masalah waktu yang udah singkat, itu belakangan. Yang penting aku harus coba daftar. Karena prinsipku lebih baik sedih kalau nggak lolos daripada sedih karena nggak daftar sama sekali. Tapi tetep… harus lolos, dong! hehe. Aku lalu daftar SBMPTN ditemenin mama. Aku bayar dulu waktu itu di bank, dan malemnya baru deh aku milih universitasnya. Aku daftar di UPN ‘’Veteran’’ Yogyakarta jurusan ilmu komunikasi. Lalu pilihan keduaku UPN ‘’Veteran’’ Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Pilihan ketiga aku dilema berat plus super bingung karena ngerasa nggak mau milih apa apa lagi, tapi aku mau coba-coba. Siapa tau gol! Peluang sesedikit apapun harus diambil dong pastinya. Jadi aku milih Universitas Negeri Jakarta, jurusan sastra inggris. Dan hari itu juga aku daftar zenius. Ini bukan promosi, tapi aku memang sedikit belajar disitu hehe. Aku juga beli buku SBMPTN yang direkomendasikan. Waktu itu aku beli di gramedia. Agak mahal memang, tapi demi mimpi kenapa itung-itungan coba? Bahkan saking niatnya aku coba download kumpulan contoh soal SBMPTN yang bisa didapatkan secara cuma cuma di internet. Pokoknya banyak deh!
Aku bener-bener nggak ngerti sebesar apa nyaliku sampai sampai belajar di waktu yang kurang dari sebulan. Banyak orang yang udah belajar dari entah kapan, sementara aku? Jujur…. ada sedikit ketakutan dalam diriku. Kadang-kadang aku nangis karena ingin menyerah. Tapi cuma sesaat. Sisanya tetep kuhabiskan dengan berjuang. PTN itu impian terbesarku, aku ingin melihat senyum kedua orangtuaku ketika aku bersukacita melihat monitor yang menyampaikan berita kelulusanku. Bertahun-tahun pengorbanan mereka untukku mungkin nggak akan pernah terbayar dengan apapun, namun yang satu ini bisa menjadi bukti cinta kasihku pada mereka. Tuh kan, jadi mewek! Hehe. Setiap kali aku letih, aku inget betapa orangtuaku mengabaikan rasa letih mereka hanya demi hal-hal yang dapat membahagiakanku, dan saudara-saudaraku. Sekarang masa aku berhenti hanya karena letih? Mereka nggak pernah memperhitungkan setetes keringat mereka, lalu apakah aku harus melakukan semua itu? Nggak. Sama halnya seperti mereka yang nggak akan pernah berhenti berjuang untuk membuat hidupku dan saudara-saudaraku terasa indah luar biasa tanpa sedikitpun kesusahan, aku juga harus berjuang hingga orangtuaku tersenyum bangga sembari meneteskan airmata bahagia. Mereka sangat mencintaiku, dan aku juga. Cinta mereka sudah jauh lebih dulu dibuktikan, dan sekarang giliranku….
Jadilah aku memulai kehidupan sebagai sang pengejar mimpi. Hari demi hari aku habiskan dengan belajar. Ya, sempet sih ngerasa males. Tapi tetep, itumah godaan sejenak doang, harus kukalahkan. Anyway, aku nggak ikut bimbel, karena tanggung! Hehe. Waktunya udah super mepet. Aku memutuskan belajar dirumah aja, karena emang tipe belajarku kayak gitu. Aku suka belajar mandiri. Tapi kalian yang mau ikut bimbel malah lebih bagus karena pasti diajarin trik-triknya, jadi itu sangat kusarankan lho ya.
Berhubung jurusan yang kuambil masuk ranah sosial, aku ambilnya SOSHUM. Jadi yang diujikan itu TKPA (Tes kemampuan dan potensi akademik) dan TKD (Tes kemampuan dasar) SOSHUM. TKPA ini terdiri dari bahasa inggris, bahasa Indonesia, matematika dasar, verbal, figural dan numerical. Kalau TKD SOSHUM ini terdiri dari sejarah, sosiologi, ekonomi dan geografi. Pertama aku bakal bahas bagian TKD dulu. Nah… waktu itu aku mencoba memahami kapasitas kemampuanku. Aku lihat, mana materi yang paling kukuasai dan mana yang engga. Aku waktu itu ambil ujian nasional sosiologi, dan ketika kulihat pembahasannya di buku SBMPTN ternyata lumayan mudah dan sesuai sama yang kupelajari. Kemudian sejarah, sejarah ini memang luas namun ada beberapa yang juga masih melekat di otakku. Lalu tersulit kedua dari terakhir, geografi, yang keliatannya sederhana tapi lumayan berbobot. Kutanya temenku yang ambil UN geografi, pelajaran satu ini memang menipu. Sedikit jika dilihat sekilas, tapi kalau ditelusuri materinya banyak luar biasa. Dan terakhir… ekonomi! Aku memang nggak suka pelajaran satu ini, apalagi bagian akuntansi. Aku cuma suka kalau materinya lagi kukuasai aja, kalau lagi bingung mah bawaannya nggak semangat belajar yang satu ini. Memang passionku bukan disini, dan aku nggak pernah memaksakan diri. Tapi tentu aku harus mencoba sebisaku dong. Setelah kuurutkan aku jadi ngerti bahwa aku harus memprioritaskan belajar ekonomi dulu. Aku menentukan hari-hari apa saja aku akan belajar ekonomi, lalu lanjut geografi, kemudian sejarah. Soalnya waktunya udah sempit, jadi strategi harus bagus. Untuk sosiologi, jujur aja aku belajarnya alakadarnya dan hanya berlatih soal karena Alhamdulillah aku lumayan mengerti. Jadi kelak aku berniat untuk terlebih dahulu mengerjakan sosiologi, baru sejarah, geografi dan terakhir ekonomi! Yang terakhir itu harus yang dapet perhatian khusus dan pengerjaannya paling lama. Hehe….
Terus kita pindah haluan ke TKPA. Jadi untuk bahasa inggris, matematika dan bahasa Indonesia, ketiga ini tentu memiliki kadar kesulitan masing-masing. Terutama matdas! Jujur, aku nggak suka matematika. Jadi aku sama sekali nggak belajar bagian ini secara detail, hanya sebisaku. Beneran nggak belajar secara menyeluruh. Aku nggak menargetkan banyak mengerjakan bagian yang satu ini nantinya. Lalu bahasa inggris dan bahasa Indonesia... Hmm. Untuk dua mata ujian ini tipsku adalah berlatih membaca cepat dan memahami pokok pikiran utamanya dari artikelnya. Jujur aja, aku juga sebenernya masih kelabakan. Terutama bahasa inggris, karena artikelnya keren bukan main. Keren disini dalam artian panjang dan berat luar biasa sih isi maupun penggunaan bahasanya. Hehe. Tapi ya banyak dicoba aja. Hajar! Kerjakan semua soal yang ada di buku atau dimanapun, pastinya dalam waktu yang singkat. Bagian verbal, numerical dan figural sendiri aku hanya berlatih soal karena memang ini cuma butuh trik tertentu. Aku sudah memprioritaskan yang mana yang mau kukerjakan duluan nanti pada waktu itu. Aku memutuskan untuk mengerjakan bahasa inggris dulu, lalu bahasa Indonesia. Untuk matdas rasanya aku nggak memikirkannya sama sekali karena nggak mau maksa, aku bertekad mengerjakan sebisaku aja. Kemudian baru deh bagian verbal, numerical dan figural. Time management is a must! Waktu sangat penting dalam tes yang satu ini, karena harus bisa mengatur tata cara pengerjaan soal dalam jangka waktu yang sempit. Dilemanya luar biasa, karena bagian bahasa inggris dan bahasa Indonesia paragrafnya super panjang,matdas soal soalnya memicu kelelahan luar biasa, tapi bagian verbal, numerical dan figural juga sangat menyita kapasitas otak. Tapi inget… practice makes perfect! Memang dalam SBMPTN ini nggak bisa serta merta hanya belajar sih, tapi harus mengerti pengaplikasiannya. Jadi jangan pernah hanya membaca materi ya. Oh iya, dengan belajar online menggunakan media seperti video kayak yang kulakukan juga sangat membantu sih menurutku. Sembari aku belajar dari buku, aku menyesuaikan juga dengan nonton videonya. Apalagi untuk yang nggak bimbel kayak aku, PR-nya jauh lebih banyak! Jadi jangan pernah menyerah. Terus aja berlatih dan jangan pernah ragu. Itu kunci sih menurutku. Tentukan waktu belajar kalian mau kapan aja, mau belajar kayak apa metodenya, dan tentukan prioritas kalian. Oh ya, satu aspek yang nggak boleh kalian lupain itu dari segi akhiratnya ya. Alias… ibadah! Usaha udah pol tapi ibadah nol ya sama aja bohong. Tapi jangan rajin ibadah hanya karena pengen sesuatu. Niatkan semua karena Allah….
Langganan:
Komentar (Atom)