Setelah pengalaman baru, aku beralih dengan apa yang kusebut pembelajaran. Mungkin aku masih terlalu dini untuk memutuskan bahwa aku banyak belajar disini. Apalagi aku baru beberapa bulan menghabiskan waktu sebagai seorang anak rantau. Tapi hakikat belajar menurutku bukan dari lama waktunya. Namun seberapa banyak kita bisa menyerap hal-hal penting yang berguna bagi kehidupan kita. Aku bener-bener bersyukur, karena dengan merantau aku bisa melatih diriku untuk senantiasa mandiri. Aku bisa menjadi versi yang lebih kuat dan kokoh dari diriku sendiri. Aku bisa belajar menghargai sesuatu dan masih banyak lagi. Aku merasa bahwa keputusanku merantau adalah sesuatu yang tepat, sesuatu yang nggak akan pernah aku sesali.
Oh ya, aku juga mau ngasih beberapa tips nih. Semua ini didasarkan pada keyakinan sekaligus pengalamanku sendiri. Mungkin masih belom ideal banget untuk dijadiin acuan merantau karena sekali lagi, aku masih pemula. Tapi seengganya bisa sedikit membantu untuk kalian yang nanti akan memutuskan untuk merantau nantinya, jadi disimak ya!
1. PUNYA TEKAD YANG KUAT
Nah, tekad ini semacam bekal bagi kalian untuk merantau nanti. Kenapa kalian harus punya tekad? Karena hal ini akan menumbuhkan semangat dari dalam diri kalian untuk bisa berkembang di tanah rantau nantinya. Kalau kalian samasekali nggak punya tekad yang kuat, akan susah bagi kalian untuk memunculkan hal positif dalam diri kalian yang sebenernya bisa kalian dapetin hanya dari merantau ini. Kalian harus inget lagi, apa tujuan kalian merantau. Pastinya kalian ingin menjadi sosok yang lebih baik lagi, kan? Kalian pengen jadi orang yang berhasil, yang kelak juga bisa memberi kontribusi bagi daerah asal, mengabdikan diri sesuai kemampuan kalian. Kalian juga pasti pengen membanggakan orangtua kalian. Hal hal semacam itu sebenernya ampuh untuk bikin tekad kalian semakin membumbung tinggi. Pokoknya jangan dilupain, karena semua hal itu berasal dari kesungguhan kalian. Jadi sebelum kalian bener-bener memutuskan untuk mengubah status menjadi seorang anak rantau, pastikan kalian udah memiliki tekad yang kuat ya.
2. BERANI
Setelah punya tekad, perlahan kalian harus bisa jadi sosok yang berani. Setelah kalian merantau, kalian dituntut untuk melakukan apapun itu sendiri. Contoh sederhananya kayak aku tadi, yaitu mulai membiasakan diri naik transportasi online. Aku yang biasanya dianter jemput, pada akhirnya harus berani juga bukan? Kita memang senantiasa dituntut untuk perubahan, karena roda kehidupan kita juga senantiasa berputat. Kalau kalian awalnya memang bukan sosok yang pemberani, intinya hanyalah perihal membiasakan diri. Tapi untuk hal berani ini kalian juga harus tetap berhati-hati. Jangan sampai karena kelewat berani, tau-tau jadi menyepelekan berbagai hal termasuk keselamatan diri kalian sendiri. Tetaplah meminta perlindungan pada Allah, dan jangan lupa untuk menjaga diri.
3. JANGAN MUDAH MENYERAH
Mungkin setelah merantau ada hal hal yang menuntut kalian untuk melampaui batas diri kalian, dan kalian ngerasa capek. Tapi kalau kalian berhenti ditengah jalan hanya karena menghadapi satu dua permasalahan, maka kalian akan kehilangan minat untuk merantau. Kalian akan merasa bahwa merantau itu siksaan. Jalani, hadapi, syukuri. Setiap permasalahan, apalagi yang ada dalam proses mendewasakan diri itu punya arti. Toh seiring waktu juga kalian akan dengan sendirinya harus mampu menanggung beban lantas menghilangkannya dengan cara kalian sendiri. Yakinlah, merantau akan banyak memberi hikmah. Hanya saja kalian butuh waktu untuk membuka mata akan semua itu. Dan percayalah, kalian akan mengetahui betapa beruntungnya kalian dihadapkan oleh berbagai lika-liku saat merantau suatu saat nanti.
4. PERBANYAK TEMAN NAMUN JAGA PERGAULAN
Yang satu ini juga super pentiiing! Its okay kalau kalian mau punya banyak teman. Tapi jangan lupa untuk senantiasa menjaga pergaulan. Jangan karena kalian memaksakan diri untuk fit di satu lingkungan ke lingkungan yang satu hanya untuk dibilang friendly, lantas ketika salah satu lingkungan itu memaksa kalian melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan maka kalian merasa sah-sah saja. Akibatnya kalian jadi terjerumus. Duh… Jangan ya! Banyak teman boleh aja. Tapi kalian juga harus punya satu lingkungan yang ‘’bersih dan nyaman’’ untuk kalian sendiri. Dimana kalian tidak mesti berpura-pura dihadapan teman kalian, karena mereka tulus berteman dengan kalian tanpa tuntutan apapun. Sisanya ya, kalian memang harus memperbanyak koneksi kalian karena mana tau suatu saat kalian membutuhkan bantuan dan lain-lain, atau bahkan hanya sekadar berteman saja tidak masalah. Nah, cara untuk mendapatkan banyak teman sih gampang saja. Kalian harus menjadi sosok yang baik. Disini kalian tidak perlu memalsukan jati diri, tapi kalian harus bisa menempatkan diri. Hal ini juga jadi pegangan ira sih. Kadangkala kalau kita punya sifat yang kurang baik, kita harus tau dimana kita berada. Kebaikan itu harus senantiasa ditebar dengan siapa saja. Jadi pribadi yang baik ngga ada ruginya kok. Hanya saja harus ditakar juga, jangan karena ingin dicap baik malah merelakan kepentingan diri sendiri demi orang lain. Jadilah sosok yang menyenangkan dengan segenap ketulusan. Yakin deh, pasti dalam hal pertemanan semakin lancar jaya.
5. MANDIRI
Kalau yang ini sih jangan ditanya lagi. Mulailah belajar mandiri, dalam hal apapun itu. Dengan nggak menggantungkan diri dengan orang lain dan selalu mengandalkan diri sendiri adalah bentuk mandiri. Bertahanlah. Bertahanlah dengan kekuatan yang ada pada dirimu, karena yang tengah menemanimu saat ini dan dapat membantumu hanyalah semua itu. Yakinlah kalau terlatih mandiri akan sangat berguna untuk kehidupan di masa yang akan datang. Memang pada awalnya bakalan susah untuk berdiri sendiri, tapi kalau kita nggak membiasakan diri, gimana nanti kedepannya? Maknai kata mandiri sebagai langkah awal kita untuk selangkah lebih dewasa.
6.PANDAI MENGATUR KEUANGAN
Mengatur keuangan itu hal yang ngga bisa dipelajari dalam waktu singkat. Aku aja masih terus berusaha kok. Tapi seengganya kalian juga harus bisa membedakan aja, mana yang memang kalian butuhkan dan mana yang engga. Kalian harus bisa menempatkan uang yang udah dikasih sama orangtua kalian dengan baik. Yang terpenting jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang kurang bermanfaat, apalagi yang dapat merusak kalian. Ingat, sebagai anak rantau, kita diberi amanah untuk memanfaatkan uang yang kita miliki dengan se-bijak mungkin. Jangan sampai kita tergoda untuk membuangnya demi sesuatu yang kurang baik
7. MEMANFAATKAN MOMEN MERANTAU UNTUK BELAJAR
Seperti yang udah ira bilang, merantau itu akan memberi kalian banyak hal hal berharga yang dapat kalian aplikasikan kedepannya. Jadi jangan sampai kalian lewatkan. Apapun itu. Entah itu kemudahan, kesulitan, semua warna warni itu ada tujuannya. Contohnya saja ketika kalian harus menyelesaikan masalah kalian sendiri, dan kalian bisa. Kalian harusnya bangga pada diri sendiri. Ada sesuatu yang bisa kalian petik. Karena kelak nanti taraf permasalahan yang kalian hadapi akan jauh lebih sulit. Atau kalian yang tadinya ngga begitu suka beres-beres dan bahkan ngga bisa? Dengan merantau tentu kalian bisa lebih ahli bukan? Kalian juga pasti akan mampu beradaptasi, jadi jika kelak ditempatkan di lingkungan baru lagi maka kalian lebih berani. Siapa tau kalian kelak harus bekerja di luar negeri, atau dimanapun itu yang membuat kalian harus kembali memulai di lingkungan baru lagi. Kan karena kalian sudah pernah merantau, setidaknya kalian punya kesiapan. Dan masih banyak lagi! Jangan memandang merantau hanya sebagai suatu tantangan, pandanglah sebagai media pembelajaran.
8. MENJADI YANG TERBAIK DI KAMPUS
Jadi yang terbaik disini maksudku bukan harus wah banget, ketua ini itu, populer sana sini yang membuat kalian termakan obsesi. Bukan! Maksudku, jadilah sosok yang dapat melakukan hal terbaik sesuai versi kalian. Gali potensi diri kalian dan kembangkan di kampus. Belajarlah dengan sepenuh hati tapi tanpa memaksakan diri agar hasilnya maksimal. Pasti ada kebanggaan tersendiri dalam diri kalian, bahwasanya segala cinta kasih orangtua kalian demi mengantarkan kalian jauh-jauh ke tanah rantau tidak sia-sia karena kalian dapat memanfaatkan itu dengan baik dan tidak membuang waktu kalian selama kuliah, apalagi kalau kalian mampu menabung prestasi.
9. JANGAN LUPA IBADAH
Yang ini juga merupakan aspek penting loh. Ibadah kalian jangan sampai runtuh karena kalian terlena pada kesenangan duniawi semata ya. Apalagi sebagai seorang anak rantau yang harus meneguhkan keimanan agar tidak mudah terjerumus. Tentu sangatlah penting untuk menjaga ibadah ini. Ingatlah kalau dunia dan akhirat itu harus seimbang.
10. JAGA KOMUNIKASI DENGAN ORANG TERDEKAT
Kalau yang ini sih udah pasti, dong! kalian jangan sampai memutuskan komunikasi dengan orang terdekat, terutama keluarga. Mungkin kita sibuk, begitupun keluarga kita di sebrang sana yang juga memiliki kegiatan masing-masing. Tapi semua itu jangan dijadikan alasan ya. Banyak-banyak meluangkan waktu untuk menelpon dan semacamnya, untuk berbagi keluh kesah dan meminta dukungan serta doa. Atau mungkin sekadar menanyakan kabar dan bercerita mengenai apa yang dialami di hari itu. Yakin deh kalian pasti akan merasa jauh lebih semangat!
Nah, sekian dulu dariku kali ini. Untuk kalian teman-teman seperjuanganku di tanah rantau, aku yakin ketangguhan, kekuatan dan keberanian kita untuk meraih cita-cita dengan segenap kemandirian ini akan membawa hasil yang terbaik bagi masa depan kita. Dan untuk kalian yang baru hendak memutuskan merantau, jangan meragu. Percayalah bahwa merantau akan menjadi sebuah babak baru bagi kalian. Sesuatu yang akan menjadi salah satu pemanis dari lembaran kehidupan sebagai bagian dari perjalanan kalian untuk menjadi sosok yang lebih dewasa. Kalian akan merasakan nikmatnya arti hidup ini, saat kalian merantau nanti. Oleh karena itu, lekaslah. Kumpulkan tekad kalian, kumpulkan perbekalan kalian, dan selamat berpetualang!
-ASA
Azzahra Shafira Ananta
Seorang pecinta sastra yang membiarkan jemarinya menari di media.
Rabu, 31 Oktober 2018
PENGALAMAN DAN TIPS MERANTAU (PART 1)
Hello readers!
Kalau bicara soal merantau, hal ini memang udah terlintas di benakku sebelumnya. Dan pasti banyak dari kalian yang juga berangan-angan sama sebelum pada akhirnya bisa mendapat kesempatan itu. Karena..… Rasanya ada sensasi luar biasa yang nggak bisa dilukiskan. Membayangkan bahwa kita akan menempuh kehidupan perkuliahan dengan catatan harus dapat menopang diri sendiri dengan lebih kuat, tanpa banyak campur tangan dari orang terdekat layaknya ketika kita masih SD, SMP dan SMA. Kita yang dulunya barangkali masih hidup dengan diatur, sekarang belajar pandai mengatur. Atau kita yang tadinya menghabiskan hari-hari bersama orangtua, bercengkrama dan menumpahkan perasaan dengan bertatap muka agar lebih lega, atau menghabiskan waktu di pelukan mereka untuk menenangkan hati yang terpuruk karena hari yang buruk, kini hanya mengandalkan media sosial hanya demi bertukar kata. Meskipun tetap mampu bercerita, tentu yang dirasakan begitu berbeda. Melewati hari dengan pertengkaran diselingi tawa kecil bersama saudara kini terasa aneh karena hanya via suara. Sibuk menyalurkan rindu dan kehangatan satu sama lain meski dikekang jarak, ditambah minimnya pertemuan. Berusaha mengandalkan diri sendiri untuk mampu menyelesaikan berbagai permasalahan tanpa mesti ribut kesana kemari lagi. Dan berbagai hal baru lainnya. Singkatnya, tinggal terpisah dari keluarga demi menggapai cita-cita, yang dibarengi dengan proses mendewasakan diri dalam berbagai aspek. Lalu kembali pada pembahasan awal, aku memang pernah memimpikan bahwa suatu saat bisa kuliah sekaligus belajar mandiri. Atas izin Allah, aku berkesempatan kuliah di UPN ‘’Veteran’’ Jakarta dan meninggalkan kampung halamanku di Bangka. Dan mulailah kejutan demi kejutan berdatangan dalam kehidupanku. Kalau ditanya apakah aku sudah mengerti konsekuensi dari merantau, tentu saja. Tentu aku sudah paham bahwasanya tantangan itu pasti akan senantiasa mengalir dalam kehidupan ketika aku memutuskan untuk menerobos zona nyaman. Entah itu yang sifatnya masih enteng atau sudah dalam tahap menyulitkan. Tapi aku bener-bener ngerasa bahwa beberapa bulan ini banyak hal yang mulai mengubah hidupku. Karena memang semuanya berbeda dari apa yang sebelumnya aku jalani. Dan caraku memandang segala hal, atau bertingkah laku juga berbeda. Hari demi hari, banyak yang harus kumengerti. Lalu kumasukkan dalam lembaran dalam kehidupanku yang bertajuk pengalaman baru, pun kumasukkan dalam lembaran yang berjudul pembelajaran.
Kenapa kusebut pengalaman baru? Karena… Memang banyak hal-hal yang menambah warna dalam kehidupanku. Bahkan meski aku terbilang pemula dalam merantau.
1. Aku bertemu dengan banyak sekali orang baru. Ketika aku masih bermukim di Bangka, bisa dibilang pertemanan yang sudah kujalin akan senantiasa melingkar. Karena aku disana sejak kecil, hingga aku menginjak usia remaja dan dalam proses menjadi dewasa. Sehingga siapapun yang kukenal pasti akan selalu memiliki keterkaitan dengan diriku. Bahkan ketika aku memiliki teman baru lagi. Rasanya… Selalu familiar. Seperti hubungan yang tidak pernah terputus. Lagi-lagi takdir akan mempertemukan aku dengan orang yang sama. Kalian juga pasti mengalami hal seperti itu. Misalnya, teman kalian saat SMP lagi-lagi menjadi teman kalian saat SMA. Kakak kelas kalian di SMP juga menempati posisi yang sama diwaktu kalian SMA. Ya gitu aja terus. Kalian seakan sudah nyaman dengan lingkungan kalian. Kemudian ketika kalian harus merantau maka lingkaran itu seakan terputus. Karena kalian dihadapkan dengan orang yang belum pernah kalian temui sebelumnya. Begitupun aku! Bener-bener harus memulai dari awal lagi. Berkenalan lagi, bertukar kesan, kemudian menjadi teman. Begitu terus hingga aku merasa nyaman. Kesulitan jelas ada. Karakter orang-orang baru kan nggak bisa kita tebak begitu saja. Apalagi mereka yang tinggal di daerah yang berbeda, dengan pola pemikiran dan tingkah laku yang berbeda juga. Harus bisa ahli menyesuaikan diri tanpa harus memalsukan diri sendiri juga. Jadi aku melakukan pendekatan inipun perlahan-lahan, nggak bisa seketika langsung deket aja. Dan untungnya, semakin lama semakin banyak temen juga. Percaya aja, semakin berjalannya waktu, anak rantau pasti bisa senyaman seperti ditanah asalnya juga kok dalam urusan pertemanan ini. Aku juga pernah sih mikir, bisa ngga ya aku beradaptasi? Bisa ngga ya aku bergaul disini? Pesimis sih sempet ada. Jelas. Takut selalu canggung, takut kalau nanti terlalu malu-malu dan lain sebagainya sampai nggak bisa membuka diri. Tapi ternyata semua berbanding terbalik dengan apa yang aku takutkan sebelumnya, karena aku memang sering punya ketakutan berlebih dan semua itu biasanya cuma bayanganku doang sih hehe. Untuk lingkunganku sendiri aku udah lumayan nyaman kok. Nah, untuk hal ini nanti aku bakal kasih tau tipsnya, ya!
2. Merasakan jasa transportasi online! HAHAHA. Agak geli sih ngomongnya. Tapi ini serius. Mungkin bagi orang lain ini bukan hal besar yang mesti dijadikan hal baru atau yang sifatnya wah banget, karena ya emang biasa aja sih sebenernya. Tapi bagiku beda banget. Sewaktu aku di Bangka, aku selalu dianter jemput. Dari jamannya bahagia karena dibeliin boneka sampai bahagia karena cinta, selalu aman dan nyaman kalau mau kemana-mana. Apalagi kalau untuk urusan sekolah, penting banget lah pastinya. Saat ini aku mau mengandalkan siapa untuk hal itu? Masa aku harus minta dikirimin supir pribadi selama disini? Kan nggak lucu. Sebenernya sih nggak masalah kalau untuk urusan ke kampus. Aku bisa tenang karena kampusku dan kostanku jaraknya deket sehingga aku bisa jalan kaki aja, nggak perlu naik ini itu. Ya itung-itung kan olahraga. Tapi untuk urusan lain, ke mall misalnya kalau aku lagi kepepet mau nyari keperluan tertentu atau sekadar pengen jalan-jalan menghirup udara segar setelah diterpa kesibukan. Aku tentu harus akrab dengan yang namanya transportasi online karena nggak ada lagi yang mengantar dan menjemputku seperti dulu. Dan memang rasanya beda sih hehehe. Untuk hal ini juga aku masih pelan-pelan belajar, dan untungnya makin lama makin berani.
3. Mendadak harus ahli mengatur keuangan. Jujur aja, aku masih lemah banget dalam hal ini. Sebelum merantau kan kebutuhan pokok kayak makan misalnya tentu udah diatur sedemikian rupa oleh orangtua. Namun ketika sudah merantau, aku harus bisa menyisihkan uangku untuk berbagai kebutuhan tanpa campurtangan orangtua lagi. Mereka hanya memberi uang, dan tugasku adalah untuk menempatkannya dengan baik. Dan rasanya sulit. Meskipun orangtua nggak akan pernah yang namanya perhitungan jika sudah menyangkut hal-hal yang penting bagi anaknya, tetep aja rasanya aneh kalau harus minta uang lagi dan lagi hanya karena sudah habis dalam waktu singkat. Tujuan merantau juga kan untuk melatih kita untuk bisa mandiri, dan salah satu bentuk mandiri adalah bisa memberi porsi yang pas akan segala keperluan diri kita tanpa bantuan lagi. Mau nggak mau harus belajar mengatur keuangan. Bukan belajar lagi, tapi sudah mempraktekkan di kehidupan nyata. Entah itu keperluan kuliah, belanja kebutuhan, atau sekadar menyenangkan diri sendiri dan lain-lain. Harus cukup cermat untuk memastikan uang nggak habis begitu saja dan mampu terbagi dengan baik sehingga semua terpenuhi. Dan paling sulit bagiku adalah soal makan, karena aku masih susah menahan godaan kalau urusan makanan enak. Tapi lama-lama pengendalian diri itu ada kok. Dengan sendirinya pasti bakal paham bagaimana mengatur keuangan, karena situasi menuntut kita untuk itu. Asli deh. Intinya memang harus terjun ke lapangan sih. Kalau orang-orang lebih mempercayai praktek ketimbang teori, kayaknya aku mendukung. Karena aku juga sempet mikir kalau mengatur keuangan itu gampang banget. Berhemat itu sepele banget. Tapi siapa sangka semua itu melambung jauh dari perkiraan. Untungnya lambat laun jadi ahli sendiri. Seru! Itung-itung latihan jadi calon ibu, yang notabene bakal berperan juga jadi bendahara-nya rumah tangga EAAAA. Seengganya kita udah punya keahlian yang bisa dibanggakan buat dibawa ke masa depan kelak, dan pastinya berguna banget.
4. Menghadapi masalah sendiri. Mungkin ada beberapa hal yang menganggu selama merantau. Tadinya kita bisa bebas mengekspresikan kesedihan dengan orang tercinta seperti yang udah aku bilang sebelumnya. Mereka juga bisa leluasa memberi bantuan. Namun ketika sudah hidup sendiri… Kita harus lebih kuat. Asli deh. Bentuk permasalahan disini sih beraneka ragam. Contohnya ketika aku kalang kabut menghadapi pilihan tertentu yang sifatnya penting banget. Dulunya sih tinggal bilang, cerita-cerita sama orangtua. Mereka juga bisa bantu aku, seengganya dengan menenangkan dan ngasih solusi terbaik. Bisa bicara dari hati ke hati dengan lebih maksimal…. Tapi ketika aku udah jauh dari mereka semua jadi berbeda. Kalau urusan meminta saran sih masih bisa. Namun terkadang dengan jarak yang jauh, ditambah kesibukan yang berbeda, dan waktu yang singkat untuk menentukan pilihan tersebut, mau ngga mau aku harus menanyakan pada diriku sendiri hal terbaik apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikan segala kegundahan. Bener-bener menguji ketahanan hati, tapi baiknya adalah aku jadi lebih mampu mengandalkan diri sendiri.
5. Mengurus diri sendiri. Mungkin ini nggak jauh beda dengan yang keempat tadi. Cuma kalau yang ini lebih ke hal-hal yang menyangkut pada kebiasaan. Kayak makan, contohnya. Kalo dulu pasti selalu diingetin, dan nggak bakal terlewat. Apalagi aku punya maag. Orangtua bisa membantu mengontrol waktu makanku. Sederhananya aja, mama selalu ngebekelin untuk makan disekolah karena aku pulangnya sore. Otomatis karena aku bawa bekel aku ngga akan pernah lupa makan. Dirumah pun sama, entah itu sarapan, makan siang atau makan malem pasti selalu diingetin. Atau shalat, pasti yang namanya orangtua ngga akan membiarkan anaknya leyeh-leyeh dalam keadaan belum shalat. Terutama subuh, pasti dibangunin dengan berbagai cara, karena jam jam rawan kembali ke alam mimpi. Hehe. Dan hal lain yang bisa dijumpai sehari-hari. Tapi kali ini, aku sendiri yang bertanggung jawab pada diriku. Aku harus bisa mengatur waktu makanku dengan baik biar nggak kelupaan hanya karena keasikan ngerjain tugas, dan nggak boleh lalai meskipun nggak diingetin shalat dan masih banyak lagi. Awalnya susah memang, tapi pada akhirnya aku bisa juga seiring berjalannya waktu. Pokoknya harus bisa telaten, dan memikirkan dampaknya juga bagi kehidupanku. Tanpa mesti diingatkan lagi, tanpa mesti disuruh-suruh lagi. Masa kalau ngga dibangunin shalat subuh aku jadinya ngga shalat? Tentu aku yang harus bisa bangun sendiri. Atau masa aku harus nunggu ditelpon dulu baru mau makan? Kan susah juga….. Bisa bisa maag kambuh karena keseringan telat. Dari sini aku juga belajar untuk jaga kesehatan. Karena repot kalau aku sampai sakit, masa orangtuaku harus ke Jakarta terus-terusan untuk ngurusin aku? Intinya, harus pinter menyayangi diri sendiri dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
6. Beres-beres! Memang sih, ini sebenernya juga kategori wajar. Sebagai anak perempuan, pastinya aku udah diajarin dong sama hal yang satu ini. Selama di rumah pun sering bantu-bantu mama juga. Tapi kan kalau udah merantau, urusan yang satu ini bener-bener dikerjain sendiri dan dalam waktu yang terbilang sering. Ngga mungkin aku biarin kamar kost bau karena sisa makanan yang belom dibuang, tumpukan baju yang ngga pernah dicuci, piring yang belom sempet dibilas atau lantai yang kotor. Pasti harus beres-beres juga pada akhirnya. Alhasil buat yang satu ini perlahan tapi pasti jadi semakin ahli. Bener deh. Karena aku ngga ngandelin siapa-siapa. Jadi karena sering ngelakuin, otomatis jadi terbiasa. Ada kebahagiaan tersendiri pas ngeliat kamar kost rapi dan bersih, ya meskipun rasa males kadang kadang tetep menyerang juga… Hehehe.
Kalau bicara soal merantau, hal ini memang udah terlintas di benakku sebelumnya. Dan pasti banyak dari kalian yang juga berangan-angan sama sebelum pada akhirnya bisa mendapat kesempatan itu. Karena..… Rasanya ada sensasi luar biasa yang nggak bisa dilukiskan. Membayangkan bahwa kita akan menempuh kehidupan perkuliahan dengan catatan harus dapat menopang diri sendiri dengan lebih kuat, tanpa banyak campur tangan dari orang terdekat layaknya ketika kita masih SD, SMP dan SMA. Kita yang dulunya barangkali masih hidup dengan diatur, sekarang belajar pandai mengatur. Atau kita yang tadinya menghabiskan hari-hari bersama orangtua, bercengkrama dan menumpahkan perasaan dengan bertatap muka agar lebih lega, atau menghabiskan waktu di pelukan mereka untuk menenangkan hati yang terpuruk karena hari yang buruk, kini hanya mengandalkan media sosial hanya demi bertukar kata. Meskipun tetap mampu bercerita, tentu yang dirasakan begitu berbeda. Melewati hari dengan pertengkaran diselingi tawa kecil bersama saudara kini terasa aneh karena hanya via suara. Sibuk menyalurkan rindu dan kehangatan satu sama lain meski dikekang jarak, ditambah minimnya pertemuan. Berusaha mengandalkan diri sendiri untuk mampu menyelesaikan berbagai permasalahan tanpa mesti ribut kesana kemari lagi. Dan berbagai hal baru lainnya. Singkatnya, tinggal terpisah dari keluarga demi menggapai cita-cita, yang dibarengi dengan proses mendewasakan diri dalam berbagai aspek. Lalu kembali pada pembahasan awal, aku memang pernah memimpikan bahwa suatu saat bisa kuliah sekaligus belajar mandiri. Atas izin Allah, aku berkesempatan kuliah di UPN ‘’Veteran’’ Jakarta dan meninggalkan kampung halamanku di Bangka. Dan mulailah kejutan demi kejutan berdatangan dalam kehidupanku. Kalau ditanya apakah aku sudah mengerti konsekuensi dari merantau, tentu saja. Tentu aku sudah paham bahwasanya tantangan itu pasti akan senantiasa mengalir dalam kehidupan ketika aku memutuskan untuk menerobos zona nyaman. Entah itu yang sifatnya masih enteng atau sudah dalam tahap menyulitkan. Tapi aku bener-bener ngerasa bahwa beberapa bulan ini banyak hal yang mulai mengubah hidupku. Karena memang semuanya berbeda dari apa yang sebelumnya aku jalani. Dan caraku memandang segala hal, atau bertingkah laku juga berbeda. Hari demi hari, banyak yang harus kumengerti. Lalu kumasukkan dalam lembaran dalam kehidupanku yang bertajuk pengalaman baru, pun kumasukkan dalam lembaran yang berjudul pembelajaran.
Kenapa kusebut pengalaman baru? Karena… Memang banyak hal-hal yang menambah warna dalam kehidupanku. Bahkan meski aku terbilang pemula dalam merantau.
1. Aku bertemu dengan banyak sekali orang baru. Ketika aku masih bermukim di Bangka, bisa dibilang pertemanan yang sudah kujalin akan senantiasa melingkar. Karena aku disana sejak kecil, hingga aku menginjak usia remaja dan dalam proses menjadi dewasa. Sehingga siapapun yang kukenal pasti akan selalu memiliki keterkaitan dengan diriku. Bahkan ketika aku memiliki teman baru lagi. Rasanya… Selalu familiar. Seperti hubungan yang tidak pernah terputus. Lagi-lagi takdir akan mempertemukan aku dengan orang yang sama. Kalian juga pasti mengalami hal seperti itu. Misalnya, teman kalian saat SMP lagi-lagi menjadi teman kalian saat SMA. Kakak kelas kalian di SMP juga menempati posisi yang sama diwaktu kalian SMA. Ya gitu aja terus. Kalian seakan sudah nyaman dengan lingkungan kalian. Kemudian ketika kalian harus merantau maka lingkaran itu seakan terputus. Karena kalian dihadapkan dengan orang yang belum pernah kalian temui sebelumnya. Begitupun aku! Bener-bener harus memulai dari awal lagi. Berkenalan lagi, bertukar kesan, kemudian menjadi teman. Begitu terus hingga aku merasa nyaman. Kesulitan jelas ada. Karakter orang-orang baru kan nggak bisa kita tebak begitu saja. Apalagi mereka yang tinggal di daerah yang berbeda, dengan pola pemikiran dan tingkah laku yang berbeda juga. Harus bisa ahli menyesuaikan diri tanpa harus memalsukan diri sendiri juga. Jadi aku melakukan pendekatan inipun perlahan-lahan, nggak bisa seketika langsung deket aja. Dan untungnya, semakin lama semakin banyak temen juga. Percaya aja, semakin berjalannya waktu, anak rantau pasti bisa senyaman seperti ditanah asalnya juga kok dalam urusan pertemanan ini. Aku juga pernah sih mikir, bisa ngga ya aku beradaptasi? Bisa ngga ya aku bergaul disini? Pesimis sih sempet ada. Jelas. Takut selalu canggung, takut kalau nanti terlalu malu-malu dan lain sebagainya sampai nggak bisa membuka diri. Tapi ternyata semua berbanding terbalik dengan apa yang aku takutkan sebelumnya, karena aku memang sering punya ketakutan berlebih dan semua itu biasanya cuma bayanganku doang sih hehe. Untuk lingkunganku sendiri aku udah lumayan nyaman kok. Nah, untuk hal ini nanti aku bakal kasih tau tipsnya, ya!
2. Merasakan jasa transportasi online! HAHAHA. Agak geli sih ngomongnya. Tapi ini serius. Mungkin bagi orang lain ini bukan hal besar yang mesti dijadikan hal baru atau yang sifatnya wah banget, karena ya emang biasa aja sih sebenernya. Tapi bagiku beda banget. Sewaktu aku di Bangka, aku selalu dianter jemput. Dari jamannya bahagia karena dibeliin boneka sampai bahagia karena cinta, selalu aman dan nyaman kalau mau kemana-mana. Apalagi kalau untuk urusan sekolah, penting banget lah pastinya. Saat ini aku mau mengandalkan siapa untuk hal itu? Masa aku harus minta dikirimin supir pribadi selama disini? Kan nggak lucu. Sebenernya sih nggak masalah kalau untuk urusan ke kampus. Aku bisa tenang karena kampusku dan kostanku jaraknya deket sehingga aku bisa jalan kaki aja, nggak perlu naik ini itu. Ya itung-itung kan olahraga. Tapi untuk urusan lain, ke mall misalnya kalau aku lagi kepepet mau nyari keperluan tertentu atau sekadar pengen jalan-jalan menghirup udara segar setelah diterpa kesibukan. Aku tentu harus akrab dengan yang namanya transportasi online karena nggak ada lagi yang mengantar dan menjemputku seperti dulu. Dan memang rasanya beda sih hehehe. Untuk hal ini juga aku masih pelan-pelan belajar, dan untungnya makin lama makin berani.
3. Mendadak harus ahli mengatur keuangan. Jujur aja, aku masih lemah banget dalam hal ini. Sebelum merantau kan kebutuhan pokok kayak makan misalnya tentu udah diatur sedemikian rupa oleh orangtua. Namun ketika sudah merantau, aku harus bisa menyisihkan uangku untuk berbagai kebutuhan tanpa campurtangan orangtua lagi. Mereka hanya memberi uang, dan tugasku adalah untuk menempatkannya dengan baik. Dan rasanya sulit. Meskipun orangtua nggak akan pernah yang namanya perhitungan jika sudah menyangkut hal-hal yang penting bagi anaknya, tetep aja rasanya aneh kalau harus minta uang lagi dan lagi hanya karena sudah habis dalam waktu singkat. Tujuan merantau juga kan untuk melatih kita untuk bisa mandiri, dan salah satu bentuk mandiri adalah bisa memberi porsi yang pas akan segala keperluan diri kita tanpa bantuan lagi. Mau nggak mau harus belajar mengatur keuangan. Bukan belajar lagi, tapi sudah mempraktekkan di kehidupan nyata. Entah itu keperluan kuliah, belanja kebutuhan, atau sekadar menyenangkan diri sendiri dan lain-lain. Harus cukup cermat untuk memastikan uang nggak habis begitu saja dan mampu terbagi dengan baik sehingga semua terpenuhi. Dan paling sulit bagiku adalah soal makan, karena aku masih susah menahan godaan kalau urusan makanan enak. Tapi lama-lama pengendalian diri itu ada kok. Dengan sendirinya pasti bakal paham bagaimana mengatur keuangan, karena situasi menuntut kita untuk itu. Asli deh. Intinya memang harus terjun ke lapangan sih. Kalau orang-orang lebih mempercayai praktek ketimbang teori, kayaknya aku mendukung. Karena aku juga sempet mikir kalau mengatur keuangan itu gampang banget. Berhemat itu sepele banget. Tapi siapa sangka semua itu melambung jauh dari perkiraan. Untungnya lambat laun jadi ahli sendiri. Seru! Itung-itung latihan jadi calon ibu, yang notabene bakal berperan juga jadi bendahara-nya rumah tangga EAAAA. Seengganya kita udah punya keahlian yang bisa dibanggakan buat dibawa ke masa depan kelak, dan pastinya berguna banget.
4. Menghadapi masalah sendiri. Mungkin ada beberapa hal yang menganggu selama merantau. Tadinya kita bisa bebas mengekspresikan kesedihan dengan orang tercinta seperti yang udah aku bilang sebelumnya. Mereka juga bisa leluasa memberi bantuan. Namun ketika sudah hidup sendiri… Kita harus lebih kuat. Asli deh. Bentuk permasalahan disini sih beraneka ragam. Contohnya ketika aku kalang kabut menghadapi pilihan tertentu yang sifatnya penting banget. Dulunya sih tinggal bilang, cerita-cerita sama orangtua. Mereka juga bisa bantu aku, seengganya dengan menenangkan dan ngasih solusi terbaik. Bisa bicara dari hati ke hati dengan lebih maksimal…. Tapi ketika aku udah jauh dari mereka semua jadi berbeda. Kalau urusan meminta saran sih masih bisa. Namun terkadang dengan jarak yang jauh, ditambah kesibukan yang berbeda, dan waktu yang singkat untuk menentukan pilihan tersebut, mau ngga mau aku harus menanyakan pada diriku sendiri hal terbaik apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikan segala kegundahan. Bener-bener menguji ketahanan hati, tapi baiknya adalah aku jadi lebih mampu mengandalkan diri sendiri.
5. Mengurus diri sendiri. Mungkin ini nggak jauh beda dengan yang keempat tadi. Cuma kalau yang ini lebih ke hal-hal yang menyangkut pada kebiasaan. Kayak makan, contohnya. Kalo dulu pasti selalu diingetin, dan nggak bakal terlewat. Apalagi aku punya maag. Orangtua bisa membantu mengontrol waktu makanku. Sederhananya aja, mama selalu ngebekelin untuk makan disekolah karena aku pulangnya sore. Otomatis karena aku bawa bekel aku ngga akan pernah lupa makan. Dirumah pun sama, entah itu sarapan, makan siang atau makan malem pasti selalu diingetin. Atau shalat, pasti yang namanya orangtua ngga akan membiarkan anaknya leyeh-leyeh dalam keadaan belum shalat. Terutama subuh, pasti dibangunin dengan berbagai cara, karena jam jam rawan kembali ke alam mimpi. Hehe. Dan hal lain yang bisa dijumpai sehari-hari. Tapi kali ini, aku sendiri yang bertanggung jawab pada diriku. Aku harus bisa mengatur waktu makanku dengan baik biar nggak kelupaan hanya karena keasikan ngerjain tugas, dan nggak boleh lalai meskipun nggak diingetin shalat dan masih banyak lagi. Awalnya susah memang, tapi pada akhirnya aku bisa juga seiring berjalannya waktu. Pokoknya harus bisa telaten, dan memikirkan dampaknya juga bagi kehidupanku. Tanpa mesti diingatkan lagi, tanpa mesti disuruh-suruh lagi. Masa kalau ngga dibangunin shalat subuh aku jadinya ngga shalat? Tentu aku yang harus bisa bangun sendiri. Atau masa aku harus nunggu ditelpon dulu baru mau makan? Kan susah juga….. Bisa bisa maag kambuh karena keseringan telat. Dari sini aku juga belajar untuk jaga kesehatan. Karena repot kalau aku sampai sakit, masa orangtuaku harus ke Jakarta terus-terusan untuk ngurusin aku? Intinya, harus pinter menyayangi diri sendiri dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
6. Beres-beres! Memang sih, ini sebenernya juga kategori wajar. Sebagai anak perempuan, pastinya aku udah diajarin dong sama hal yang satu ini. Selama di rumah pun sering bantu-bantu mama juga. Tapi kan kalau udah merantau, urusan yang satu ini bener-bener dikerjain sendiri dan dalam waktu yang terbilang sering. Ngga mungkin aku biarin kamar kost bau karena sisa makanan yang belom dibuang, tumpukan baju yang ngga pernah dicuci, piring yang belom sempet dibilas atau lantai yang kotor. Pasti harus beres-beres juga pada akhirnya. Alhasil buat yang satu ini perlahan tapi pasti jadi semakin ahli. Bener deh. Karena aku ngga ngandelin siapa-siapa. Jadi karena sering ngelakuin, otomatis jadi terbiasa. Ada kebahagiaan tersendiri pas ngeliat kamar kost rapi dan bersih, ya meskipun rasa males kadang kadang tetep menyerang juga… Hehehe.
Sabtu, 29 September 2018
STORY ABOUT HOW I GET INTO UNIVERSITY (motivation for 12th graders) part 3
Intinya, keinginanku untuk dapat memberikan satu bukti cintaku pada mereka dengan hasil yang manis dari perjuanganku selama SBMPTN ini terbayar lunas dengan pengumuman kelulusanku. Bisa kalian bayangkan bagaimana waktu itu suasananya, susah bagiku menggambarkannya. Yang jelas kami sama-sama bersyukur dan bersukacita, sesuatu yang merupakan salah satu hal terindah yang pernah terjadi di hidupku. Melihat betapa kebanggaan terpancar di wajah orangtuaku, pun adik dan kakakku. Melihat betapa mereka sangat bersyukur akan pencapaianku waktu itu. Melihat betapa keceriaan mendekap mereka hanya karena namaku terpampang nyata sebagai salah satu peserta SBMPTN yang beruntung, karena usaha dan doanya dikabulkan oleh Allah untuk menjadi salah satu mahasiswa di universitas impiannya. Semua bener-bener terjadi persis seperti yang selalu aku idam-idamkan. Persis seperti yang selalu kulirihkan dalam doaku. Aku merasa sangat bahagia karena berkah yang kuterima pada saat itu. Dan akhirnya, setelah melalui sekian banyak hal, aku dinyatakan resmi menjadi mahasiswa UPN ‘’Veteran’’ Jakarta. Tentu akan kuceritakan lebih lanjut mengenai semua ini, namun pada tulisanku berikutnya. Kali ini aku ingin sedikit menyuntikkan kata-kata untuk kalian, yang mungkin bisa kalian masukkan dalam hati lalu kalian resapi.
Untuk kalian, yang sedang ingin berjuang…
Ingatkah kalian?
Belasan tahun dalam kehidupan kalian dihabiskan dengan penuh warna-warni. Ada suka, ada duka. Tahun demi tahun kalian lewati dengan berbagai perubahan. Langkah kalian semakin menanjak, menuju tahapan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika kalian SD, mulailah kalian berkenalan dengan lingkup pertemanan yang unik. Lucu, menyatukan pikiran anak-anak yang dikepalanya masih sebatas bermain sembari belajar. Satu tingkat lebih maju dari sewaktu TK, namun tetap saja beban kalian belum terlalu berat. Kemudian kalian memasuki jenjang lebih lanjut, yaitu SMP. Disini kalian sudah berada dalam tahap pubertas. Kalian mulai menjadi versi baru dari diri kalian sendiri. Emosi kalian mulai labil, perasaan kalian mulai mengarah pada sesuatu yang romantis, pemikiran kalian menjadi lebih berkembang. Kalian mulai dihadapkan pada sesuatu yang jauh lebih menggelora dibanding saat kalian masih berseragam merah-putih. Gejolak-gejolak kehidupan mulai menyerbu kehidupan kalian. Permasalahan demi permasalahan sudah mulai menghantam kalian. Dan tibalah saat kalian menyandang predikat sebagai siswa salah satu SMA impian kalian. Disini kedewasaan kalian mulai timbul ke permukaan. Bisa dibilang, ini tahapan pencarian jati diri. Kalian mulai berusaha memahami berbagai hal. Pemikiran kalian semakin lama semakin mendewasa seiring bertambahnya usia kalian. Perihal emosi? Ya, masih seperti itu. Masih mudah tergoyahkan, masih berkobar seumpama nyala api. Penuh dengan lika-liku. Kehidupan kalian jauh lebih berwarna. Banyak hal yang kalian pelajari dan hadapi di masa yang satu ini. Perihal memilih teman, menentukan pilihan, dan lain-lain. Semua menuntut kalian untuk terus dan terus meningkatkan kapasitas kemampuan kalian. Terus dan terus. Sama halnya seperti sebelumnya, kalian juga menghadapi beragam permasalahan yang jauh lebih kompleks. Karena satu hal; kalian mendewasa.
Dan kelak pada akhirnya, akan tiba suatu masa dimana kalian berada di suatu jalan.
Jalan itu luar biasa berat medannya. Terlalu kasar bagi kalian. Banyak bebatuan kecil nan tajam, tak mulus, penuh belokan. Semua itu menantang kalian yang tengah berada dalam masa-masa menuju kedewasaan, karena kalian harus bijak menentukan pilihan. Namun ketika kalian melihat lebih jauh, di ujung jalan itu ada suatu hal yang indah tengah menanti kalian. Ketika kalian hendak melangkah, kalian ragu. Kalian terlalu takut untuk melewati jalan tersebut. Kalian ingin, ingin sekali menggapai keindahan itu. Namun kalian tak mau bersusah payah. Kalian tak mau terluka. Pasti akan letih rasanya.
Saat itu terjadi, coba pikirkan satu hal.
Untuk apa kalian dibentuk dari tahun ke tahun untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa apabila semua itu tak bisa kalian aplikasikan pada kehidupan nyata? Justru itu. Semakin lama, kalian semakin keras dibimbing oleh permasalahan kehidupan kalian yang juga semakin meningkat. Kalian bisa melewati semua itu. Kalian belajar banyak dari semua itu. Lalu ketika kalian harus bertahan pada satu ujian demi mendapatkan impian kalian, mengapa berhenti? Sementara hidup ini sudah begitu baik memberi kalian pelajaran demi pelajaran tiap tahunnya, agar kalian semakin mengerti bahwasanya semua itu merupakan bekal bagi kalian agar jika kelak menghadapi medan yang jauh lebih sulit kalian tak mudah menyerah.
Lalu… Mungkin kalian tak merasakan semua itu. Namun selalu ada yang tersenyum dibalik setiap tahapan yang kalian lalui dalam kehidupan. Mulai dari kalian mampu berjalan hingga berdebat, ada yang selalu menanti, kejutan apa yang akan kalian beri. Kebahagiaan demi kebahagiaan kalian merupakan sumber rasa syukur mereka. Mereka tak pernah peduli akan apa yang tengah mereka hadapi hanya demi indahnya hari-hari yang kalian jalani. Keringat bercampur tetesan airmata telah menjadi teman mereka sehari-hari. Nama kalian tak pernah luput dari doa yang mereka panjatkan. Apapun itu mereka pertaruhkan agar kalian mampu merasakan nikmatnya kehidupan. Pekerjaan nan halal dilakoni, tantangan dihadapi, kebahagiaan sendiri kadang tak sempat dicicipi, hanya untuk memberi kalian kehangatan dalam menjalani dinginnya kehidupan. Dan tak ada tuntutan yang mereka beri. Tak ada balas yang mereka pinta. Hanya satu yang mereka inginkan; kalian sukses, dunia dan akhirat. Mereka menyandang status sebagai sosok orangtua. Mereka ada, dibalik setiap masa yang kalian hadapi. Mereka hadir di barisan terdepan sebagai sosok yang siap menyayangi dan melindungi kalian sepenuh hati.
Apakah kalian akan berpangku tangan?
Mereka memang tak ingin kalian beri apa-apa lagi. Mereka tulus, luar biasa tulus. Namun apakah kalian tidak ingin memberi satu saja, persembahan indah sebagai rasa terimakasih sekaligus cinta kasih kalian atas segala yang telah mereka lakukan untuk kalian?
Apakah kalian tak ingin melihat mereka tersenyum dengan airmata bahagia dan kebanggaan yang menyusup ke dalam hati mereka karena berhasil membawa anaknya satu langkah menuju kesuksesan?
Mereka akan memeluk kalian dengan erat ketika kalian dinyatakan tembus ke PTN yang kalian idam-idamkan, lalu mereka akan mengatakan
“Selamat, anakku. Mama dan papa bangga padamu…’’
Sungguh suatu hal yang takkan pernah bisa kalian beli dengan apapun itu. Kalian berhasil membuat mereka bahagia, begitu bahagia karena mereka merasa perlahan anak mereka telah bertumbuh menjadi sosok yang siap dibesarkan di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, dibentuk menjadi pribadi yang siap menyongsong masa depan dengan kekuatan-kekuatan baru. Mereka bahagia menjadi bagian dari perjalanan hidup kalian. Mereka bahagia, karena mereka telah membantu kalian membuka salah satu pintu menuju masa depan kalian… Dan berhasil. Mereka berhasil.
Pikirkanlah lagi, jika ingin berhenti berjuang.
Renungkanlah lagi, jika ingin bermalas-malasan.
Lalu satu lagi, apakah kalian tidak ingin memberi diri kalian suatu apresiasi atas perjuangan kalian selama tiga tahun di SMA? Ya, masa putih abu abu bukan masa yang mudah bagi kalian seperti yang telah kusinggung sebelumnya. Tentu akan ada banyak hal yang mengobrak abrik emosi kalian. Sesuatu yang bahkan membuat kalian berpikir akan makna hidup ini. Akan kemana kalian nanti. Apakah setelah itu kalian akan beraksi untuk menjadi lebih baik, atau melempem mengikuti rasa malas? Kalian akan dituntut oleh kedewasaan kalian untuk mampu menentukan pilihan. Beberapa momen di hidup ini hanya terjadi satu kali. Sisanya mungkin bisa terulang, namun rasanya tak akan sama. Pun dalam memilih PTN. Saat kalian mampu mengambil langkah itu di tahun kalian dinyatakan lulus, mengapa tak sesegera mungkin diambil? Mengapa tak buru-buru memutuskan untuk segera memilih langkah pasti untuk mengejar impian kalian? Mengapa masih diam menerka nerka apakah keputusan kalian sudah benar? Mengapa masih membisu seakan berjuangpun tak mau? Inilah saat yang tepat bagi kalian, jangan pernah kalian sia-siakan apalagi kalian sepelekan.
Kalian telah melewati banyak suka duka disini. Kalian telah menghadapi segudang tantangan yang menyurutkan semangat namun membangkitkannya kembali sesaat kemudian. Kalian telah dibombardir oleh hal hal yang pernah mematahkan keyakinan kalian mengenai kesuksesan. Kalian sudah melalui banyak masa-masa yang menguji ketabahan kalian karena segalanya terasa berbeda dengan apa yang kalian alami sebelumnya. Ya karena memang kalian dibentuk di ranah ini, tanpa kalian sadari. Berbagai macam hal sudah menjadi santapan kalian sehari-hari, meskipun itu tak mudah sama sekali. Pokoknya kalian telah melalui medan itu dengan penuh ketakutan, kecemasan akan apa yang akan terjadi kelak nantinya dalam kehidupan kalian ini. Tumpah airmata dan tenaga sederas-derasnya, tanpa pernah kalian bisa hentikan. Semua itu telah menghantui kalian disaat kalian memasuki masa SMA, karena emosi kalian mengalami perubahan yang drastis dan turut memengaruhi segala aspek dalam kehidupan kalian. Dan yang paling utama adalah kalian seakan dituntut mencari jati diri kalian dan menjawab segala pertanyaan yang ada dalam benak kalian tanpa ragu lagi. Dan itu bukanlah hal yang mudah. Penuh dengan permasalahan, banjir akan cobaan. Kalian tak bisa mundur, karena kalian memang harus tetap berada dalam posisi siaga menghadapi segalanya. Kalian pun memutuskan untuk…. Tetap berjuang. Dan pada akhirnya kalian sudah tiba di penghujung. Kalian seharusnya sedikit menghadiahi diri kalian yang sudah mau bertahan dalam setiap kondisi kondisi kritis menuju kedewasaan kalian. Kalian sudah mampu berdiri tegak saat diterpa berbagai hal. Jadi mengapa tidak? Mengapa tidak sedikit menghibur diri kalian yang sudah lelah menggempur habis-habisan setiap tantangan selama kalian menjadi siswa SMA yang teladan, dengan hadiah yang bersembunyi dibalik kesuksesan kalian menggapai PTN yang kalian idam-idamkan? Lakukan hal itu untuk diri kalian sendiri dan jangan pernah kalian merasa ragu akan hal tersebut. Sebab kalian, suatu saat nanti, akan berterimakasih pada diri kalian yang sekarang karena tak mudah menyerah dalam hal apapun. Kalian akan tersenyum mengingat bahwa kalian pernah ada di posisi yang sulit dalam perjalanan menuju kedewasaan kalian, dan kalian tak berhenti. Kalian tetap disana dengan semangat kalian yang berkobar… Dan kalian lolos. Kalian berhasil!
Dan itu akan menjadi momen yang sangat membahagiakan untuk kalian yang telah menjalani kehidupan nan hebat dengan pekerjaan yang kalian telah impikan sedari dulu, atau dengan hal yang telah kalian rintis dan berbuah manis pada akhirnya. Akan ada saatnya, sungguh akan ada.
Menghadapi hidup ini tak pernah seindah yang kau lihat di televisi. Tak bisa direkayasa, tak bisa dibalut dengan keindahan semata, tak bisa hanya dipenuhi tawa. Namun sadari saja, bahwa… Ketika kita mulai menghargai hidup kita dengan sepenuh hati---tentunya dengan cara menghargai diri kita dengan berjuang guna mendapatkan sesuatu yang lebih baik di masa depan kelak, hidup kita akan kembali menghargai kita dengan memberi kesuksesan itu sebagai suatu catatan bahwa orang ini, telah berhasil meraih salah satu impian terbesarnya. Tak akan pernah ada yang sia-sia. Maka jadilah sosok yang tak akan pernah menyerah. Apapun yang terjadi, hidup akan selalu memberi dua pilihan;
majulah, atau menyingkirlah. Dan aku yakin bahwa kalian akan memilih yang pertama.
Karena kalian adalah pejuang sejati dalam kehidupan kalian.
-ASA.
Untuk kalian, yang sedang ingin berjuang…
Ingatkah kalian?
Belasan tahun dalam kehidupan kalian dihabiskan dengan penuh warna-warni. Ada suka, ada duka. Tahun demi tahun kalian lewati dengan berbagai perubahan. Langkah kalian semakin menanjak, menuju tahapan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika kalian SD, mulailah kalian berkenalan dengan lingkup pertemanan yang unik. Lucu, menyatukan pikiran anak-anak yang dikepalanya masih sebatas bermain sembari belajar. Satu tingkat lebih maju dari sewaktu TK, namun tetap saja beban kalian belum terlalu berat. Kemudian kalian memasuki jenjang lebih lanjut, yaitu SMP. Disini kalian sudah berada dalam tahap pubertas. Kalian mulai menjadi versi baru dari diri kalian sendiri. Emosi kalian mulai labil, perasaan kalian mulai mengarah pada sesuatu yang romantis, pemikiran kalian menjadi lebih berkembang. Kalian mulai dihadapkan pada sesuatu yang jauh lebih menggelora dibanding saat kalian masih berseragam merah-putih. Gejolak-gejolak kehidupan mulai menyerbu kehidupan kalian. Permasalahan demi permasalahan sudah mulai menghantam kalian. Dan tibalah saat kalian menyandang predikat sebagai siswa salah satu SMA impian kalian. Disini kedewasaan kalian mulai timbul ke permukaan. Bisa dibilang, ini tahapan pencarian jati diri. Kalian mulai berusaha memahami berbagai hal. Pemikiran kalian semakin lama semakin mendewasa seiring bertambahnya usia kalian. Perihal emosi? Ya, masih seperti itu. Masih mudah tergoyahkan, masih berkobar seumpama nyala api. Penuh dengan lika-liku. Kehidupan kalian jauh lebih berwarna. Banyak hal yang kalian pelajari dan hadapi di masa yang satu ini. Perihal memilih teman, menentukan pilihan, dan lain-lain. Semua menuntut kalian untuk terus dan terus meningkatkan kapasitas kemampuan kalian. Terus dan terus. Sama halnya seperti sebelumnya, kalian juga menghadapi beragam permasalahan yang jauh lebih kompleks. Karena satu hal; kalian mendewasa.
Dan kelak pada akhirnya, akan tiba suatu masa dimana kalian berada di suatu jalan.
Jalan itu luar biasa berat medannya. Terlalu kasar bagi kalian. Banyak bebatuan kecil nan tajam, tak mulus, penuh belokan. Semua itu menantang kalian yang tengah berada dalam masa-masa menuju kedewasaan, karena kalian harus bijak menentukan pilihan. Namun ketika kalian melihat lebih jauh, di ujung jalan itu ada suatu hal yang indah tengah menanti kalian. Ketika kalian hendak melangkah, kalian ragu. Kalian terlalu takut untuk melewati jalan tersebut. Kalian ingin, ingin sekali menggapai keindahan itu. Namun kalian tak mau bersusah payah. Kalian tak mau terluka. Pasti akan letih rasanya.
Saat itu terjadi, coba pikirkan satu hal.
Untuk apa kalian dibentuk dari tahun ke tahun untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa apabila semua itu tak bisa kalian aplikasikan pada kehidupan nyata? Justru itu. Semakin lama, kalian semakin keras dibimbing oleh permasalahan kehidupan kalian yang juga semakin meningkat. Kalian bisa melewati semua itu. Kalian belajar banyak dari semua itu. Lalu ketika kalian harus bertahan pada satu ujian demi mendapatkan impian kalian, mengapa berhenti? Sementara hidup ini sudah begitu baik memberi kalian pelajaran demi pelajaran tiap tahunnya, agar kalian semakin mengerti bahwasanya semua itu merupakan bekal bagi kalian agar jika kelak menghadapi medan yang jauh lebih sulit kalian tak mudah menyerah.
Lalu… Mungkin kalian tak merasakan semua itu. Namun selalu ada yang tersenyum dibalik setiap tahapan yang kalian lalui dalam kehidupan. Mulai dari kalian mampu berjalan hingga berdebat, ada yang selalu menanti, kejutan apa yang akan kalian beri. Kebahagiaan demi kebahagiaan kalian merupakan sumber rasa syukur mereka. Mereka tak pernah peduli akan apa yang tengah mereka hadapi hanya demi indahnya hari-hari yang kalian jalani. Keringat bercampur tetesan airmata telah menjadi teman mereka sehari-hari. Nama kalian tak pernah luput dari doa yang mereka panjatkan. Apapun itu mereka pertaruhkan agar kalian mampu merasakan nikmatnya kehidupan. Pekerjaan nan halal dilakoni, tantangan dihadapi, kebahagiaan sendiri kadang tak sempat dicicipi, hanya untuk memberi kalian kehangatan dalam menjalani dinginnya kehidupan. Dan tak ada tuntutan yang mereka beri. Tak ada balas yang mereka pinta. Hanya satu yang mereka inginkan; kalian sukses, dunia dan akhirat. Mereka menyandang status sebagai sosok orangtua. Mereka ada, dibalik setiap masa yang kalian hadapi. Mereka hadir di barisan terdepan sebagai sosok yang siap menyayangi dan melindungi kalian sepenuh hati.
Apakah kalian akan berpangku tangan?
Mereka memang tak ingin kalian beri apa-apa lagi. Mereka tulus, luar biasa tulus. Namun apakah kalian tidak ingin memberi satu saja, persembahan indah sebagai rasa terimakasih sekaligus cinta kasih kalian atas segala yang telah mereka lakukan untuk kalian?
Apakah kalian tak ingin melihat mereka tersenyum dengan airmata bahagia dan kebanggaan yang menyusup ke dalam hati mereka karena berhasil membawa anaknya satu langkah menuju kesuksesan?
Mereka akan memeluk kalian dengan erat ketika kalian dinyatakan tembus ke PTN yang kalian idam-idamkan, lalu mereka akan mengatakan
“Selamat, anakku. Mama dan papa bangga padamu…’’
Sungguh suatu hal yang takkan pernah bisa kalian beli dengan apapun itu. Kalian berhasil membuat mereka bahagia, begitu bahagia karena mereka merasa perlahan anak mereka telah bertumbuh menjadi sosok yang siap dibesarkan di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, dibentuk menjadi pribadi yang siap menyongsong masa depan dengan kekuatan-kekuatan baru. Mereka bahagia menjadi bagian dari perjalanan hidup kalian. Mereka bahagia, karena mereka telah membantu kalian membuka salah satu pintu menuju masa depan kalian… Dan berhasil. Mereka berhasil.
Pikirkanlah lagi, jika ingin berhenti berjuang.
Renungkanlah lagi, jika ingin bermalas-malasan.
Lalu satu lagi, apakah kalian tidak ingin memberi diri kalian suatu apresiasi atas perjuangan kalian selama tiga tahun di SMA? Ya, masa putih abu abu bukan masa yang mudah bagi kalian seperti yang telah kusinggung sebelumnya. Tentu akan ada banyak hal yang mengobrak abrik emosi kalian. Sesuatu yang bahkan membuat kalian berpikir akan makna hidup ini. Akan kemana kalian nanti. Apakah setelah itu kalian akan beraksi untuk menjadi lebih baik, atau melempem mengikuti rasa malas? Kalian akan dituntut oleh kedewasaan kalian untuk mampu menentukan pilihan. Beberapa momen di hidup ini hanya terjadi satu kali. Sisanya mungkin bisa terulang, namun rasanya tak akan sama. Pun dalam memilih PTN. Saat kalian mampu mengambil langkah itu di tahun kalian dinyatakan lulus, mengapa tak sesegera mungkin diambil? Mengapa tak buru-buru memutuskan untuk segera memilih langkah pasti untuk mengejar impian kalian? Mengapa masih diam menerka nerka apakah keputusan kalian sudah benar? Mengapa masih membisu seakan berjuangpun tak mau? Inilah saat yang tepat bagi kalian, jangan pernah kalian sia-siakan apalagi kalian sepelekan.
Kalian telah melewati banyak suka duka disini. Kalian telah menghadapi segudang tantangan yang menyurutkan semangat namun membangkitkannya kembali sesaat kemudian. Kalian telah dibombardir oleh hal hal yang pernah mematahkan keyakinan kalian mengenai kesuksesan. Kalian sudah melalui banyak masa-masa yang menguji ketabahan kalian karena segalanya terasa berbeda dengan apa yang kalian alami sebelumnya. Ya karena memang kalian dibentuk di ranah ini, tanpa kalian sadari. Berbagai macam hal sudah menjadi santapan kalian sehari-hari, meskipun itu tak mudah sama sekali. Pokoknya kalian telah melalui medan itu dengan penuh ketakutan, kecemasan akan apa yang akan terjadi kelak nantinya dalam kehidupan kalian ini. Tumpah airmata dan tenaga sederas-derasnya, tanpa pernah kalian bisa hentikan. Semua itu telah menghantui kalian disaat kalian memasuki masa SMA, karena emosi kalian mengalami perubahan yang drastis dan turut memengaruhi segala aspek dalam kehidupan kalian. Dan yang paling utama adalah kalian seakan dituntut mencari jati diri kalian dan menjawab segala pertanyaan yang ada dalam benak kalian tanpa ragu lagi. Dan itu bukanlah hal yang mudah. Penuh dengan permasalahan, banjir akan cobaan. Kalian tak bisa mundur, karena kalian memang harus tetap berada dalam posisi siaga menghadapi segalanya. Kalian pun memutuskan untuk…. Tetap berjuang. Dan pada akhirnya kalian sudah tiba di penghujung. Kalian seharusnya sedikit menghadiahi diri kalian yang sudah mau bertahan dalam setiap kondisi kondisi kritis menuju kedewasaan kalian. Kalian sudah mampu berdiri tegak saat diterpa berbagai hal. Jadi mengapa tidak? Mengapa tidak sedikit menghibur diri kalian yang sudah lelah menggempur habis-habisan setiap tantangan selama kalian menjadi siswa SMA yang teladan, dengan hadiah yang bersembunyi dibalik kesuksesan kalian menggapai PTN yang kalian idam-idamkan? Lakukan hal itu untuk diri kalian sendiri dan jangan pernah kalian merasa ragu akan hal tersebut. Sebab kalian, suatu saat nanti, akan berterimakasih pada diri kalian yang sekarang karena tak mudah menyerah dalam hal apapun. Kalian akan tersenyum mengingat bahwa kalian pernah ada di posisi yang sulit dalam perjalanan menuju kedewasaan kalian, dan kalian tak berhenti. Kalian tetap disana dengan semangat kalian yang berkobar… Dan kalian lolos. Kalian berhasil!
Dan itu akan menjadi momen yang sangat membahagiakan untuk kalian yang telah menjalani kehidupan nan hebat dengan pekerjaan yang kalian telah impikan sedari dulu, atau dengan hal yang telah kalian rintis dan berbuah manis pada akhirnya. Akan ada saatnya, sungguh akan ada.
Menghadapi hidup ini tak pernah seindah yang kau lihat di televisi. Tak bisa direkayasa, tak bisa dibalut dengan keindahan semata, tak bisa hanya dipenuhi tawa. Namun sadari saja, bahwa… Ketika kita mulai menghargai hidup kita dengan sepenuh hati---tentunya dengan cara menghargai diri kita dengan berjuang guna mendapatkan sesuatu yang lebih baik di masa depan kelak, hidup kita akan kembali menghargai kita dengan memberi kesuksesan itu sebagai suatu catatan bahwa orang ini, telah berhasil meraih salah satu impian terbesarnya. Tak akan pernah ada yang sia-sia. Maka jadilah sosok yang tak akan pernah menyerah. Apapun yang terjadi, hidup akan selalu memberi dua pilihan;
majulah, atau menyingkirlah. Dan aku yakin bahwa kalian akan memilih yang pertama.
Karena kalian adalah pejuang sejati dalam kehidupan kalian.
-ASA.
STORY ABOUT HOW I GET INTO UNIVERSITY (motivation for 12th graders) part 2
Hari demi hari berganti. SBMPTN sudah siap menyapaku, menanyakan seberapa besar persiapanku, menuntutku untuk melakukan yang terbaik. Aku terus belajar dan belajar sebisaku, tanpa meributkan apapun lagi. Di kepalaku hanya ada pemikiran untuk dapat menggapai impianku. Ya karena memang penting bagiku untuk memastikan kalau daya juang yang kumiliki udah luar biasa. Jadi apapun hasilnya, tetep akan selalu bernilai besar bagiku dan nggak akan kusesali. Tentu yang kuinginkan itu lolos, dan aku mengharapkan takdir berpihak kepadaku. Tapi setidaknya aku udah melakukan yang terbaik. Itu sih prinsipku setiap melakukan apapun. Aku selalu berusaha sampai aku bener-bener mentok, bukan mundur karena mengetahui bahwa pada akhirnya aku bakalan mentok. Nggak kepikiran dalam diriku untuk melakukan sesedikit mungkin karena hey, ini SBMPTN! Ini sangat menentukan masa depanku. Aku nggak mau gagal lagi, sejujurnya. Aku nggak mau dikecewakan oleh diriku sendiri. Tapi… Aku lebih nggak mau lagi kalau aku sampai menyesal karena hanya melakukan sesuatu alakadarnya aja. Memang betul, ada beberapa kelemahaku dalam mata ujian di SBMPTN ini kayak yang kubilang tadi, yaitu matdas misalnya. Tapi aku tetep aja nggak menghentikan langkah. Aku tetep belajar meskipun tentu saja hanya sebatas yang aku bisa. Memang betul, aku nggak mau memaksakan diri. Tapi aku tetep ingin memacu diriku sampai memang ada di titik batasnya, bukan hanya menjauhi batas itu hanya karena merasa nggak bisa melampauinya. Pun mata ujian yang aku yakini, nggak pernah membuatku ingin menyombongkan diri dan mengatakan bahwa aku pasti akan sangat hebat dalam yang satu ini tanpa memikirkan yang lain lagi. Justru aku ingin memastikan bahwa semua itu yang menjadi senjata, bukan bumerang bagiku. Ada aja kejadian semacam itu dalam kehidupan kita. Merasa udah bisa dan menyepelekan sesuatu, tau tau salah atau keliru. Dengan tidak merendahkan diri namun juga tidak meninggikan hati, semua hal akan seimbang. Hal itu bisa diletakkan pada perjuangan kita, dalam hal apapun pastinya. Yakin deh, kita nggak akan pernah menang kalau hidup hanya mengandalkan suatu kesombongan. Tapi kita juga nggak akan maju kalau hanya bisa merendahkan. Lakukan semuanya dengan sama rata. Sombong engga, rendah diri pun engga. Lakukan yang terbaik yang kita bisa aja. Tanpa harus berkoar bahwa kita jago agar nanti kita nggak lengah, tapi tanpa harus bilang kalau diri kita nggak mampu agar nanti kita nggak mudah menyerah.
Aku sangat mengerti, aku sangat menyadari bahwa mungkin bagi sebagian orang, belajar dengan mengebut kayak gini nggak bakalan menang. Kadang aku mikir, apakah bisa aku berhasil? Sementara pesaingku diluar sana sudah berjuang, jauh sebelum aku menangis karena patah hati usai ditolak SNMPTN. Mereka sudah mengerti bagaimana medan perang yang akan dihadapi, jauh sebelum aku terpikir bahwa aku akan turut terjun ke medan perang itu sendiri. Mereka sudah mengerahkan segenap tenaga, jauh sebelum aku membuka mata akan pahitnya berjuang. Mereka sudah terlebih dahulu merelakan jam-jam tidur mereka, jauh sebelum aku terpikir untuk tidur larut malam kemudian bangun terlalu pagi hanya untuk mengusaikan belajarku. Intinya, aku masih berada jauh dari mereka dalam hal kapasitas perjuangan. Karena mereka melakukannya jauh lebih dulu dariku. Ada yang sudah teruji kemampuannya di bimbelnya masing-masing, sementara aku hanya bisa menerka nerka dan mengukur kesanggupanku dari caraku belajar mandiri. Ya tentu dong, beda banget. Tapi ketika berada dalam penghujung atas segala kegundahan, kebingungan yang kumiliki, aku udah merasa bener-bener yakin. Pasalnya, aku memang udah menaruh target yang didukung oleh usaha yang udah kulakukan. Bahkan meski waktunya singkat, aku nggak pernah pesimis. Justru itulah yang bikin aku semakin menghargai waktu dengan seperti kataku tadi; belajar! Jangan pernah meniadakan atau menyepelekan sedetikpun diantaranya. Karena semua itu akan bikin nyesel pada akhirnya. Oh ya, dalam tahapan menuju SBMPTN ini, semangat itu sangat diperlukan. Dan pastinya sangat-sangat menentukan sih. Kata-kata yang mampu menyuntikkan motivasi dan keyakinan bagi diri kita ini bisa jadi tambahan tenaga bagi kita dalam bertempur di SBMPTN nanti, lho. Ini sakti luar biasa. Umumnya bisa kita dapatkan dari orang-orang terdekat kita. Keluarga itu pasti. Mereka akan jadi yang terdepan dalam mendukung kita di setiap perjalanan hidup kita. Kasih sayang mereka akan terus menjadi alasan kita untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Banyak banyak menghabiskan diri bersama teman-teman seperjuangan yang juga berada dalam posisi yang sama, yaitu calon penakluk SBMPTN. Kalian harus bertukar semangat bersama mereka, mengubah setiap topik jadi obrolan indah mengenai kesuksesan yang akan didapat kalau kelak tembus SBMPTN. Cobalah. Cobalah untuk berbagi mimpi yang sama. Dijamin kalian akan lebih tertantang mewujudkannya. Asli. Aku seneng banget bisa sharing sama sesama pejuang. Karena aku jadi yakin, aku nggak sendiri. Cari motivasi yang lain. Banyak baca kisah soal mereka yang lolos SBMPTN, liat seberapa hebat perjuangan mereka. Kalau mereka bisa, kamu juga pasti bisa. Yakinkan diri mengenai hal itu. Aku juga sering kok yang namanya baca blog orang-orang yang pernah sama kayak aku. Sedih pas ditolak SNMPTN, namun karena mereka mampu bangkit mereka tembus SBMPTN. Semuanya tuh keren-keren banget! Mereka mengingatkan kepada kita kalau jalan yang bisa kita ambil itu bukan cuma satu doang, jadi nggak ada alasan untuk berhenti melangkah kalau jalannya udah buntu.
Pada akhirnya, hari pelaksanaan SBMPTN pun tiba. Hari yang bener-bener menegangkan untukku, namun juga membahagiakan. Iya, membahagiakan. Karena segala usaha yang telah kulakukan pada akhirnya aku tuangkan. Tentu aku meminta restu orangtuaku. Keyakinan mereka akan selalu menumbuhkan keyakinan dalam diriku. Selamanya. Aku selalu kuat karena mereka! Kali ini aku juga harus lebih kuat. Perihal mimpi bersama lho yang satu ini. Hehehe…
Waktu itu tempat tes-ku di Universitas Bangka Belitung. Aku berangkat pukul setengah 9 kalau nggak salah. Sebelum tes aku ketemu sama temen-temenku yang satu ruangan, atau satu gedung tapi beda ruangan. Banyak sih yang lainnya, tapi gedung mereka jauh banget! Jadi yang bisa kutemui ada beberapa. Kami sedikit bertukar cerita akan keresahan yang dihadapi. Tapi kami udah ada di medan perang jadi nggak ada alasan untuk mundur lagi. Lalu… Ada bel yang berbunyi menandakan waktu akan segera dimulai. Kami lalu masuk keruangan dengan perasaan yang udah nggak bisa lagi didefinisikan. Asli deh, rasanya itu nggak karuan banget. Wajah-wajah tegang namun siap berjuang tak luput kutemui. Pastinya mereka mengenggam mimpi yang sama sepertiku. Ya, kuputuskan untuk fokus pada diriku sendiri aja sih. Oh ya, kami tetep diperiksa kelengkapannya. Hal-hal seperti kartu peserta jangan sampai dilewatkan lho ya. Selembar, namun sepenting itu. Pokoknya kalau SBMPTN ini jangan lengah karena merasa persiapan sudah banyak, karena ngggak sebatas itu aja. Bawaan kita pun harus lengkap biar nggak kelabakan. Oh ya, kami juga duduk di kursi masing-masing yang sudah ditentukan.
Nah, kita langsung melompat ke waktu lembar soal dan jawaban sudah dibagikan di meja setiap peserta. Tentu aku mengisi data terlebih dahulu. Yang satu ini jangan sampai terlewatkan, ya. Karena data juga merupakan hal yang penting. Kalau udah bener jawabannya tapi datanya salah… Duh. Fatal banget akibatnya. Jadi jangan sampai terjadi ya kesalahan kesalahan kecil semacam itu. Harus bener-bener teliti deh pokoknya! Terutama di bagian nomor soal juga, jangan nggak diisi ya. Data harus dipastikan lengkap dan terisi semua, sesuai petunjuk yang kalian dapatkan. Jangan sampai perihal data ini jadi alasan kegagalan kalian karena akan sangat menyesakkan. Memang lucu mengingat kalau hal sekecil ini bisa menjadi penyebab yang besar dari segala hal. Biasakan diri untuk tidak meremehkan apapun, ya.
Waktu pengerjaan soal pun tiba. Jantungku berdegup nggak karuan, namun kuredam dengan doa dan keyakinan. Lagi-lagi. Oh iya, yang pertama diujikan ini TKPA. Seperti keinginanku diawal, aku mengerjakan bahasa inggris dan bahasa Indonesia dulu. Kukerjakan dengan strategi baca cepat seperti yang kukasihtau tadi. Aku liat pokok pikiran utamanya. Baru aplikasiin ke soal. Aku berusaha se-ngebut namun se-teliti mungkin. Disaat orang orang mengerjakan bagian depan dulu, aku malah bagian belakang. Hehe. Lalu baru deh aku mengerjakan bagian yang lain. Untuk matdas, aku hanya bisa beberapa. Aku lupa persisnya tapi nggak sampe 5 deh kayaknya. Aku nggak mau buang-buang waktu.. Huhu! Untuk bagian verbal, figural dan numerical kelemahanku terleta di bagian figural, jadi kukerjakan bagian verbal terlebih dahulu dan sebanyak banyaknya. Baru figural dan numerical bergantian. Random aja sih sebenernya. Soal yang belum kuiisi namun waktu sudah nggak mendukung kujawab semua. Tahun 2018 soalnya nggak pake sistem nilai minus, jadi aku berani untuk tidak mengosongkan lembar jawaban. Lalu.. Waktu selesai. Kami pun dipersilahkan untuk istirahat sejenak. Waktu ini kuhabiskan dengan ketemu sama temen-temenku yang beda gedungnya, lalu kami shalat dan mampir ke kantin guna mengisi perut sejenak. Sekalian melepas penat juga. Mulai deh, tuker-tukeran cerita. Ada yang mengeluh bingung, ada yang mengeluh kalau lupa ini itu, dan lain-lain. Tapi tetep, pastinya mereka udah melakukan sebisanya. Begitu pula aku. Setelah istirahat, kami balik ke gedung masing-masing. Singkat cerita, sampai deh ke TKD SOSHUM. Tetep sama sih kayak sebelumnya, intinya isi data, data, data! Jangan sampai terlewatkan. Dan ya, aku lupa nyatet berapa persisnya aku ngisi soal. Sebenernya bagian ini juga random, namun berhubung aku merasa mampu mengerjakan sosiologi terlebih dahulu aku berusaha kilat menjawab sebanyak mungkin. Seperti strategiku di awal ituloh. Untuk sejarah, kurasa nggak terlalu sulit dan masih bisa dijangkau. Tapi tetep aja ada yang aku nggak tau. Kalau ada yang kayak gitu sih kuabaikan dulu, kalau ada waktu baru deh balik untuk menganalisa lagi. Saat beranjak ke geografi pun, ada yang aku mengerti dan ada yang bikin aku menerka nerka. Dan ekonomi, aku kerjain bener bener sebisaku tanpa maksain diri. Ada materi yang sudah aku baca, dan aku mengerti. Tapi sekalinya aku dapet soal susah, bingungnya minta ampun. Akuntansi oh akuntansi! Bener-bener menusuk-nusuk hati. Tapi ya, tentu aja berjuang itu perlu! Kukerjakan sisa soal yang masih bisa kucoba pikirkan jawabannya apa, yang paling rasional dan mendekati deh. Ada juga yang jawabannya ketemu disaat aku udah baca berulang kali dulu. Dan bagian yang aku nggak tahu aku isi semuanya deh. Pokoknya lembar jawabanku full. Lalu selesailah sudah. Aku pulang dengan kelelahan yang luar biasa. Meskipun hanya otak yang bermain tapi aku yakin semua merasakan hal yang sama.
Oh iya, pengumumannya lama banget! Mungkin sekitaran dua bulan. Hari-hari sempat kuhabiskan dengan gundah gulana, hehe. Tapi aku tetep berkeyakinan penuh pada diriku, karena yang aku kerjakan memang itulah kemampuanku. Aku percaya sama diriku sendiri.
Hari Selasa tanggal 3 juli 2018 kalau nggak salah. Aku udah menyerahkan semuanya pada Allah, aku berdoa agar hasilnya sepadan dengan yang telah kulakukan dan sesuai dengan yang kuiinginkan. Yang lebih membuatku deg-degan adalah WAKTU PENGUMUMAN DIPERCEPAT DUA JAM. Aku langsung panik pas lihat countdown di website SBMPTN yang menandakan bahwa pengumumannya segera hadir, padahal waktu itu masih siang. Dan awalnya dikatakan akan diumumkan jam lima sore. Pas kuitung-itung, ternyata jadi jam tiga. Ya siapa yang nggak heboh sendiri? Duh… Anyway, waktu itu aku nggak bilang sama orangtuaku kalau pengumumannya dipercepat sih hehehe. Aku pengen kasih kejutan aja, entah apa bentuknya. Tapi aku berharap itu akan jadi hal baik. Hal yang, sekali lagi, membahagiakan orangtuaku.
LALU, JENG-JENG! JAM 3!
Kenapa rasanya cepet banget gini, ya? Aku nggak bisa menahan perasaanku yang bergejolak waktu itu. Yakin sih yakin, tapi siapapun kalau udah berhadapan dengan hal kayak gini pasti takut sendiri. Aku berdoa sejenak dan kemudian memasukkan nomor peserta beserta tanggal lahirku. Sempet lama banget dong, loadingnya. Tentu saja, karena yang akses super banyak. Aku coba bersabar dan buka berkali-kali. Lalu aku sedikit menahan napas saat melihat monitor.
Dan tumpahlah kebahagiaanku.
Azzahra Shafira Ananta, lolos SBMPTN di UPN ‘’Veteran’’ Jakarta.
Jurusan Hubungan Internasional.
Dua hal yang sangat aku impikan.
Aku terharu. Sekaligus bahagia dan penuh syukur.
Aku menghampiri keluargaku yang tengah berkumpul, dan memberitahu ini pada mereka…. DAN SUNGGUH. Kebahagiaan mereka akan keberhasilanku di SBMPTN terasa sangat menyejukkan bagiku. Terutama kedua orangtuaku. Akhirnya aku berhasil mencapai apa yang sangat aku inginkan sedari dulu. Aku bener-bener nggak tau bagaimana meluapkan perasaanku, karena hari itu semua keindahan bercampur jadi satu….
Aku sangat mengerti, aku sangat menyadari bahwa mungkin bagi sebagian orang, belajar dengan mengebut kayak gini nggak bakalan menang. Kadang aku mikir, apakah bisa aku berhasil? Sementara pesaingku diluar sana sudah berjuang, jauh sebelum aku menangis karena patah hati usai ditolak SNMPTN. Mereka sudah mengerti bagaimana medan perang yang akan dihadapi, jauh sebelum aku terpikir bahwa aku akan turut terjun ke medan perang itu sendiri. Mereka sudah mengerahkan segenap tenaga, jauh sebelum aku membuka mata akan pahitnya berjuang. Mereka sudah terlebih dahulu merelakan jam-jam tidur mereka, jauh sebelum aku terpikir untuk tidur larut malam kemudian bangun terlalu pagi hanya untuk mengusaikan belajarku. Intinya, aku masih berada jauh dari mereka dalam hal kapasitas perjuangan. Karena mereka melakukannya jauh lebih dulu dariku. Ada yang sudah teruji kemampuannya di bimbelnya masing-masing, sementara aku hanya bisa menerka nerka dan mengukur kesanggupanku dari caraku belajar mandiri. Ya tentu dong, beda banget. Tapi ketika berada dalam penghujung atas segala kegundahan, kebingungan yang kumiliki, aku udah merasa bener-bener yakin. Pasalnya, aku memang udah menaruh target yang didukung oleh usaha yang udah kulakukan. Bahkan meski waktunya singkat, aku nggak pernah pesimis. Justru itulah yang bikin aku semakin menghargai waktu dengan seperti kataku tadi; belajar! Jangan pernah meniadakan atau menyepelekan sedetikpun diantaranya. Karena semua itu akan bikin nyesel pada akhirnya. Oh ya, dalam tahapan menuju SBMPTN ini, semangat itu sangat diperlukan. Dan pastinya sangat-sangat menentukan sih. Kata-kata yang mampu menyuntikkan motivasi dan keyakinan bagi diri kita ini bisa jadi tambahan tenaga bagi kita dalam bertempur di SBMPTN nanti, lho. Ini sakti luar biasa. Umumnya bisa kita dapatkan dari orang-orang terdekat kita. Keluarga itu pasti. Mereka akan jadi yang terdepan dalam mendukung kita di setiap perjalanan hidup kita. Kasih sayang mereka akan terus menjadi alasan kita untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Banyak banyak menghabiskan diri bersama teman-teman seperjuangan yang juga berada dalam posisi yang sama, yaitu calon penakluk SBMPTN. Kalian harus bertukar semangat bersama mereka, mengubah setiap topik jadi obrolan indah mengenai kesuksesan yang akan didapat kalau kelak tembus SBMPTN. Cobalah. Cobalah untuk berbagi mimpi yang sama. Dijamin kalian akan lebih tertantang mewujudkannya. Asli. Aku seneng banget bisa sharing sama sesama pejuang. Karena aku jadi yakin, aku nggak sendiri. Cari motivasi yang lain. Banyak baca kisah soal mereka yang lolos SBMPTN, liat seberapa hebat perjuangan mereka. Kalau mereka bisa, kamu juga pasti bisa. Yakinkan diri mengenai hal itu. Aku juga sering kok yang namanya baca blog orang-orang yang pernah sama kayak aku. Sedih pas ditolak SNMPTN, namun karena mereka mampu bangkit mereka tembus SBMPTN. Semuanya tuh keren-keren banget! Mereka mengingatkan kepada kita kalau jalan yang bisa kita ambil itu bukan cuma satu doang, jadi nggak ada alasan untuk berhenti melangkah kalau jalannya udah buntu.
Pada akhirnya, hari pelaksanaan SBMPTN pun tiba. Hari yang bener-bener menegangkan untukku, namun juga membahagiakan. Iya, membahagiakan. Karena segala usaha yang telah kulakukan pada akhirnya aku tuangkan. Tentu aku meminta restu orangtuaku. Keyakinan mereka akan selalu menumbuhkan keyakinan dalam diriku. Selamanya. Aku selalu kuat karena mereka! Kali ini aku juga harus lebih kuat. Perihal mimpi bersama lho yang satu ini. Hehehe…
Waktu itu tempat tes-ku di Universitas Bangka Belitung. Aku berangkat pukul setengah 9 kalau nggak salah. Sebelum tes aku ketemu sama temen-temenku yang satu ruangan, atau satu gedung tapi beda ruangan. Banyak sih yang lainnya, tapi gedung mereka jauh banget! Jadi yang bisa kutemui ada beberapa. Kami sedikit bertukar cerita akan keresahan yang dihadapi. Tapi kami udah ada di medan perang jadi nggak ada alasan untuk mundur lagi. Lalu… Ada bel yang berbunyi menandakan waktu akan segera dimulai. Kami lalu masuk keruangan dengan perasaan yang udah nggak bisa lagi didefinisikan. Asli deh, rasanya itu nggak karuan banget. Wajah-wajah tegang namun siap berjuang tak luput kutemui. Pastinya mereka mengenggam mimpi yang sama sepertiku. Ya, kuputuskan untuk fokus pada diriku sendiri aja sih. Oh ya, kami tetep diperiksa kelengkapannya. Hal-hal seperti kartu peserta jangan sampai dilewatkan lho ya. Selembar, namun sepenting itu. Pokoknya kalau SBMPTN ini jangan lengah karena merasa persiapan sudah banyak, karena ngggak sebatas itu aja. Bawaan kita pun harus lengkap biar nggak kelabakan. Oh ya, kami juga duduk di kursi masing-masing yang sudah ditentukan.
Nah, kita langsung melompat ke waktu lembar soal dan jawaban sudah dibagikan di meja setiap peserta. Tentu aku mengisi data terlebih dahulu. Yang satu ini jangan sampai terlewatkan, ya. Karena data juga merupakan hal yang penting. Kalau udah bener jawabannya tapi datanya salah… Duh. Fatal banget akibatnya. Jadi jangan sampai terjadi ya kesalahan kesalahan kecil semacam itu. Harus bener-bener teliti deh pokoknya! Terutama di bagian nomor soal juga, jangan nggak diisi ya. Data harus dipastikan lengkap dan terisi semua, sesuai petunjuk yang kalian dapatkan. Jangan sampai perihal data ini jadi alasan kegagalan kalian karena akan sangat menyesakkan. Memang lucu mengingat kalau hal sekecil ini bisa menjadi penyebab yang besar dari segala hal. Biasakan diri untuk tidak meremehkan apapun, ya.
Waktu pengerjaan soal pun tiba. Jantungku berdegup nggak karuan, namun kuredam dengan doa dan keyakinan. Lagi-lagi. Oh iya, yang pertama diujikan ini TKPA. Seperti keinginanku diawal, aku mengerjakan bahasa inggris dan bahasa Indonesia dulu. Kukerjakan dengan strategi baca cepat seperti yang kukasihtau tadi. Aku liat pokok pikiran utamanya. Baru aplikasiin ke soal. Aku berusaha se-ngebut namun se-teliti mungkin. Disaat orang orang mengerjakan bagian depan dulu, aku malah bagian belakang. Hehe. Lalu baru deh aku mengerjakan bagian yang lain. Untuk matdas, aku hanya bisa beberapa. Aku lupa persisnya tapi nggak sampe 5 deh kayaknya. Aku nggak mau buang-buang waktu.. Huhu! Untuk bagian verbal, figural dan numerical kelemahanku terleta di bagian figural, jadi kukerjakan bagian verbal terlebih dahulu dan sebanyak banyaknya. Baru figural dan numerical bergantian. Random aja sih sebenernya. Soal yang belum kuiisi namun waktu sudah nggak mendukung kujawab semua. Tahun 2018 soalnya nggak pake sistem nilai minus, jadi aku berani untuk tidak mengosongkan lembar jawaban. Lalu.. Waktu selesai. Kami pun dipersilahkan untuk istirahat sejenak. Waktu ini kuhabiskan dengan ketemu sama temen-temenku yang beda gedungnya, lalu kami shalat dan mampir ke kantin guna mengisi perut sejenak. Sekalian melepas penat juga. Mulai deh, tuker-tukeran cerita. Ada yang mengeluh bingung, ada yang mengeluh kalau lupa ini itu, dan lain-lain. Tapi tetep, pastinya mereka udah melakukan sebisanya. Begitu pula aku. Setelah istirahat, kami balik ke gedung masing-masing. Singkat cerita, sampai deh ke TKD SOSHUM. Tetep sama sih kayak sebelumnya, intinya isi data, data, data! Jangan sampai terlewatkan. Dan ya, aku lupa nyatet berapa persisnya aku ngisi soal. Sebenernya bagian ini juga random, namun berhubung aku merasa mampu mengerjakan sosiologi terlebih dahulu aku berusaha kilat menjawab sebanyak mungkin. Seperti strategiku di awal ituloh. Untuk sejarah, kurasa nggak terlalu sulit dan masih bisa dijangkau. Tapi tetep aja ada yang aku nggak tau. Kalau ada yang kayak gitu sih kuabaikan dulu, kalau ada waktu baru deh balik untuk menganalisa lagi. Saat beranjak ke geografi pun, ada yang aku mengerti dan ada yang bikin aku menerka nerka. Dan ekonomi, aku kerjain bener bener sebisaku tanpa maksain diri. Ada materi yang sudah aku baca, dan aku mengerti. Tapi sekalinya aku dapet soal susah, bingungnya minta ampun. Akuntansi oh akuntansi! Bener-bener menusuk-nusuk hati. Tapi ya, tentu aja berjuang itu perlu! Kukerjakan sisa soal yang masih bisa kucoba pikirkan jawabannya apa, yang paling rasional dan mendekati deh. Ada juga yang jawabannya ketemu disaat aku udah baca berulang kali dulu. Dan bagian yang aku nggak tahu aku isi semuanya deh. Pokoknya lembar jawabanku full. Lalu selesailah sudah. Aku pulang dengan kelelahan yang luar biasa. Meskipun hanya otak yang bermain tapi aku yakin semua merasakan hal yang sama.
Oh iya, pengumumannya lama banget! Mungkin sekitaran dua bulan. Hari-hari sempat kuhabiskan dengan gundah gulana, hehe. Tapi aku tetep berkeyakinan penuh pada diriku, karena yang aku kerjakan memang itulah kemampuanku. Aku percaya sama diriku sendiri.
Hari Selasa tanggal 3 juli 2018 kalau nggak salah. Aku udah menyerahkan semuanya pada Allah, aku berdoa agar hasilnya sepadan dengan yang telah kulakukan dan sesuai dengan yang kuiinginkan. Yang lebih membuatku deg-degan adalah WAKTU PENGUMUMAN DIPERCEPAT DUA JAM. Aku langsung panik pas lihat countdown di website SBMPTN yang menandakan bahwa pengumumannya segera hadir, padahal waktu itu masih siang. Dan awalnya dikatakan akan diumumkan jam lima sore. Pas kuitung-itung, ternyata jadi jam tiga. Ya siapa yang nggak heboh sendiri? Duh… Anyway, waktu itu aku nggak bilang sama orangtuaku kalau pengumumannya dipercepat sih hehehe. Aku pengen kasih kejutan aja, entah apa bentuknya. Tapi aku berharap itu akan jadi hal baik. Hal yang, sekali lagi, membahagiakan orangtuaku.
LALU, JENG-JENG! JAM 3!
Kenapa rasanya cepet banget gini, ya? Aku nggak bisa menahan perasaanku yang bergejolak waktu itu. Yakin sih yakin, tapi siapapun kalau udah berhadapan dengan hal kayak gini pasti takut sendiri. Aku berdoa sejenak dan kemudian memasukkan nomor peserta beserta tanggal lahirku. Sempet lama banget dong, loadingnya. Tentu saja, karena yang akses super banyak. Aku coba bersabar dan buka berkali-kali. Lalu aku sedikit menahan napas saat melihat monitor.
Dan tumpahlah kebahagiaanku.
Azzahra Shafira Ananta, lolos SBMPTN di UPN ‘’Veteran’’ Jakarta.
Jurusan Hubungan Internasional.
Dua hal yang sangat aku impikan.
Aku terharu. Sekaligus bahagia dan penuh syukur.
Aku menghampiri keluargaku yang tengah berkumpul, dan memberitahu ini pada mereka…. DAN SUNGGUH. Kebahagiaan mereka akan keberhasilanku di SBMPTN terasa sangat menyejukkan bagiku. Terutama kedua orangtuaku. Akhirnya aku berhasil mencapai apa yang sangat aku inginkan sedari dulu. Aku bener-bener nggak tau bagaimana meluapkan perasaanku, karena hari itu semua keindahan bercampur jadi satu….
Langganan:
Komentar (Atom)