Rabu, 31 Oktober 2018

PENGALAMAN DAN TIPS MERANTAU (PART 2)

Setelah pengalaman baru, aku beralih dengan apa yang kusebut pembelajaran. Mungkin aku masih terlalu dini untuk memutuskan bahwa aku banyak belajar disini. Apalagi aku baru beberapa bulan menghabiskan waktu sebagai seorang anak rantau. Tapi hakikat belajar menurutku bukan dari lama waktunya. Namun seberapa banyak kita bisa menyerap hal-hal penting yang berguna bagi kehidupan kita. Aku bener-bener bersyukur, karena dengan merantau aku bisa melatih diriku untuk senantiasa mandiri. Aku bisa menjadi versi yang lebih kuat dan kokoh dari diriku sendiri. Aku bisa belajar menghargai sesuatu dan masih banyak lagi. Aku merasa bahwa keputusanku merantau adalah sesuatu yang tepat, sesuatu yang nggak akan pernah aku sesali.
Oh ya, aku juga mau ngasih beberapa tips nih. Semua ini didasarkan pada keyakinan sekaligus pengalamanku sendiri. Mungkin masih belom ideal banget untuk dijadiin acuan merantau karena sekali lagi, aku masih pemula. Tapi seengganya bisa sedikit membantu untuk kalian yang nanti akan memutuskan untuk merantau nantinya, jadi disimak ya!

1. PUNYA TEKAD YANG KUAT
Nah, tekad ini semacam bekal bagi kalian untuk merantau nanti. Kenapa kalian harus punya tekad? Karena hal ini akan menumbuhkan semangat dari dalam diri kalian untuk bisa berkembang di tanah rantau nantinya. Kalau kalian samasekali nggak punya tekad yang kuat, akan susah bagi kalian untuk memunculkan hal positif dalam diri kalian yang sebenernya bisa kalian dapetin hanya dari merantau ini. Kalian harus inget lagi, apa tujuan kalian merantau. Pastinya kalian ingin menjadi sosok yang lebih baik lagi, kan? Kalian pengen jadi orang yang berhasil, yang kelak juga bisa memberi kontribusi bagi daerah asal, mengabdikan diri sesuai kemampuan kalian. Kalian juga pasti pengen membanggakan orangtua kalian. Hal hal semacam itu sebenernya ampuh untuk bikin tekad kalian semakin membumbung tinggi. Pokoknya jangan dilupain, karena semua hal itu berasal dari kesungguhan kalian. Jadi sebelum kalian bener-bener memutuskan untuk mengubah status menjadi seorang anak rantau, pastikan kalian udah memiliki tekad yang kuat ya.

2. BERANI
Setelah punya tekad, perlahan kalian harus bisa jadi sosok yang berani. Setelah kalian merantau, kalian dituntut untuk melakukan apapun itu sendiri. Contoh sederhananya kayak aku tadi, yaitu mulai membiasakan diri naik transportasi online. Aku yang biasanya dianter jemput, pada akhirnya harus berani juga bukan? Kita memang senantiasa dituntut untuk perubahan, karena roda kehidupan kita juga senantiasa berputat. Kalau kalian awalnya memang bukan sosok yang pemberani, intinya hanyalah perihal membiasakan diri. Tapi untuk hal berani ini kalian juga harus tetap berhati-hati. Jangan sampai karena kelewat berani, tau-tau jadi menyepelekan berbagai hal termasuk keselamatan diri kalian sendiri. Tetaplah meminta perlindungan pada Allah, dan jangan lupa untuk menjaga diri.

3. JANGAN MUDAH MENYERAH
Mungkin setelah merantau ada hal hal yang menuntut kalian untuk melampaui batas diri kalian, dan kalian ngerasa capek. Tapi kalau kalian berhenti ditengah jalan hanya karena menghadapi satu dua permasalahan, maka kalian akan kehilangan minat untuk merantau. Kalian akan merasa bahwa merantau itu siksaan. Jalani, hadapi, syukuri. Setiap permasalahan, apalagi yang ada dalam proses mendewasakan diri itu punya arti. Toh seiring waktu juga kalian akan dengan sendirinya harus mampu menanggung beban lantas menghilangkannya dengan cara kalian sendiri. Yakinlah, merantau akan banyak memberi hikmah. Hanya saja kalian butuh waktu untuk membuka mata akan semua itu. Dan percayalah, kalian akan mengetahui betapa beruntungnya kalian dihadapkan oleh berbagai lika-liku saat merantau suatu saat nanti.

4. PERBANYAK TEMAN NAMUN JAGA PERGAULAN
Yang satu ini juga super pentiiing! Its okay kalau kalian mau punya banyak teman. Tapi jangan lupa untuk senantiasa menjaga pergaulan. Jangan karena kalian memaksakan diri untuk fit di satu lingkungan ke lingkungan yang satu hanya untuk dibilang friendly, lantas ketika salah satu lingkungan itu memaksa kalian melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan maka kalian merasa sah-sah saja. Akibatnya kalian jadi terjerumus. Duh… Jangan ya! Banyak teman boleh aja. Tapi kalian juga harus punya satu lingkungan yang ‘’bersih dan nyaman’’ untuk kalian sendiri. Dimana kalian tidak mesti berpura-pura dihadapan teman kalian, karena mereka tulus berteman dengan kalian tanpa tuntutan apapun. Sisanya ya, kalian memang harus memperbanyak koneksi kalian karena mana tau suatu saat kalian membutuhkan bantuan dan lain-lain, atau bahkan hanya sekadar berteman saja tidak masalah. Nah, cara untuk mendapatkan banyak teman sih gampang saja. Kalian harus menjadi sosok yang baik. Disini kalian tidak perlu memalsukan jati diri, tapi kalian harus bisa menempatkan diri. Hal ini juga jadi pegangan ira sih. Kadangkala kalau kita punya sifat yang kurang baik, kita harus tau dimana kita berada. Kebaikan itu harus senantiasa ditebar dengan siapa saja. Jadi pribadi yang baik ngga ada ruginya kok. Hanya saja harus ditakar juga, jangan karena ingin dicap baik malah merelakan kepentingan diri sendiri demi orang lain. Jadilah sosok yang menyenangkan dengan segenap ketulusan. Yakin deh, pasti dalam hal pertemanan semakin lancar jaya.

5. MANDIRI
Kalau yang ini sih jangan ditanya lagi. Mulailah belajar mandiri, dalam hal apapun itu. Dengan nggak menggantungkan diri dengan orang lain dan selalu mengandalkan diri sendiri adalah bentuk mandiri. Bertahanlah. Bertahanlah dengan kekuatan yang ada pada dirimu, karena yang tengah menemanimu saat ini dan dapat membantumu hanyalah semua itu. Yakinlah kalau terlatih mandiri akan sangat berguna untuk kehidupan di masa yang akan datang. Memang pada awalnya bakalan susah untuk berdiri sendiri, tapi kalau kita nggak membiasakan diri, gimana nanti kedepannya? Maknai kata mandiri sebagai langkah awal kita untuk selangkah lebih dewasa.

6.PANDAI MENGATUR KEUANGAN
Mengatur keuangan itu hal yang ngga bisa dipelajari dalam waktu singkat. Aku aja masih terus berusaha kok. Tapi seengganya kalian juga harus bisa membedakan aja, mana yang memang kalian butuhkan dan mana yang engga. Kalian harus bisa menempatkan uang yang udah dikasih sama orangtua kalian dengan baik. Yang terpenting jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang kurang bermanfaat, apalagi yang dapat merusak kalian. Ingat, sebagai anak rantau, kita diberi amanah untuk memanfaatkan uang yang kita miliki dengan se-bijak mungkin. Jangan sampai kita tergoda untuk membuangnya demi sesuatu yang kurang baik

7. MEMANFAATKAN MOMEN MERANTAU UNTUK BELAJAR
Seperti yang udah ira bilang, merantau itu akan memberi kalian banyak hal hal berharga yang dapat kalian aplikasikan kedepannya. Jadi jangan sampai kalian lewatkan. Apapun itu. Entah itu kemudahan, kesulitan, semua warna warni itu ada tujuannya. Contohnya saja ketika kalian harus menyelesaikan masalah kalian sendiri, dan kalian bisa. Kalian harusnya bangga pada diri sendiri. Ada sesuatu yang bisa kalian petik. Karena kelak nanti taraf permasalahan yang kalian hadapi akan jauh lebih sulit. Atau kalian yang tadinya ngga begitu suka beres-beres dan bahkan ngga bisa? Dengan merantau tentu kalian bisa lebih ahli bukan? Kalian juga pasti akan mampu beradaptasi, jadi jika kelak ditempatkan di lingkungan baru lagi maka kalian lebih berani. Siapa tau kalian kelak harus bekerja di luar negeri, atau dimanapun itu yang membuat kalian harus kembali memulai di lingkungan baru lagi. Kan karena kalian sudah pernah merantau, setidaknya kalian punya kesiapan. Dan masih banyak lagi! Jangan memandang merantau hanya sebagai suatu tantangan, pandanglah sebagai media pembelajaran.

8. MENJADI YANG TERBAIK DI KAMPUS
Jadi yang terbaik disini maksudku bukan harus wah banget, ketua ini itu, populer sana sini yang membuat kalian termakan obsesi. Bukan! Maksudku, jadilah sosok yang dapat melakukan hal terbaik sesuai versi kalian. Gali potensi diri kalian dan kembangkan di kampus. Belajarlah dengan sepenuh hati tapi tanpa memaksakan diri agar hasilnya maksimal. Pasti ada kebanggaan tersendiri dalam diri kalian, bahwasanya segala cinta kasih orangtua kalian demi mengantarkan kalian jauh-jauh ke tanah rantau tidak sia-sia karena kalian dapat memanfaatkan itu dengan baik dan tidak membuang waktu kalian selama kuliah, apalagi kalau kalian mampu menabung prestasi.

9. JANGAN LUPA IBADAH
Yang ini juga merupakan aspek penting loh. Ibadah kalian jangan sampai runtuh karena kalian terlena pada kesenangan duniawi semata ya. Apalagi sebagai seorang anak rantau yang harus meneguhkan keimanan agar tidak mudah terjerumus. Tentu sangatlah penting untuk menjaga ibadah ini. Ingatlah kalau dunia dan akhirat itu harus seimbang.

10. JAGA KOMUNIKASI DENGAN ORANG TERDEKAT
Kalau yang ini sih udah pasti, dong! kalian jangan sampai memutuskan komunikasi dengan orang terdekat, terutama keluarga. Mungkin kita sibuk, begitupun keluarga kita di sebrang sana yang juga memiliki kegiatan masing-masing. Tapi semua itu jangan dijadikan alasan ya. Banyak-banyak meluangkan waktu untuk menelpon dan semacamnya, untuk berbagi keluh kesah dan meminta dukungan serta doa. Atau mungkin sekadar menanyakan kabar dan bercerita mengenai apa yang dialami di hari itu. Yakin deh kalian pasti akan merasa jauh lebih semangat!

Nah, sekian dulu dariku kali ini. Untuk kalian teman-teman seperjuanganku di tanah rantau, aku yakin ketangguhan, kekuatan dan keberanian kita untuk meraih cita-cita dengan segenap kemandirian ini akan membawa hasil yang terbaik bagi masa depan kita. Dan untuk kalian yang baru hendak memutuskan merantau, jangan meragu. Percayalah bahwa merantau akan menjadi sebuah babak baru bagi kalian. Sesuatu yang akan menjadi salah satu pemanis dari lembaran kehidupan sebagai bagian dari perjalanan kalian untuk menjadi sosok yang lebih dewasa. Kalian akan merasakan nikmatnya arti hidup ini, saat kalian merantau nanti. Oleh karena itu, lekaslah. Kumpulkan tekad kalian, kumpulkan perbekalan kalian, dan selamat berpetualang!

-ASA

PENGALAMAN DAN TIPS MERANTAU (PART 1)

Hello readers!
Kalau bicara soal merantau, hal ini memang udah terlintas di benakku sebelumnya. Dan pasti banyak dari kalian yang juga berangan-angan sama sebelum pada akhirnya bisa mendapat kesempatan itu. Karena..… Rasanya ada sensasi luar biasa yang nggak bisa dilukiskan. Membayangkan bahwa kita akan menempuh kehidupan perkuliahan dengan catatan harus dapat menopang diri sendiri dengan lebih kuat, tanpa banyak campur tangan dari orang terdekat layaknya ketika kita masih SD, SMP dan SMA. Kita yang dulunya barangkali masih hidup dengan diatur, sekarang belajar pandai mengatur. Atau kita yang tadinya menghabiskan hari-hari bersama orangtua, bercengkrama dan menumpahkan perasaan dengan bertatap muka agar lebih lega, atau menghabiskan waktu di pelukan mereka untuk menenangkan hati yang terpuruk karena hari yang buruk, kini hanya mengandalkan media sosial hanya demi bertukar kata. Meskipun tetap mampu bercerita, tentu yang dirasakan begitu berbeda. Melewati hari dengan pertengkaran diselingi tawa kecil bersama saudara kini terasa aneh karena hanya via suara. Sibuk menyalurkan rindu dan kehangatan satu sama lain meski dikekang jarak, ditambah minimnya pertemuan. Berusaha mengandalkan diri sendiri untuk mampu menyelesaikan berbagai permasalahan tanpa mesti ribut kesana kemari lagi. Dan berbagai hal baru lainnya. Singkatnya, tinggal terpisah dari keluarga demi menggapai cita-cita, yang dibarengi dengan proses mendewasakan diri dalam berbagai aspek. Lalu kembali pada pembahasan awal, aku memang pernah memimpikan bahwa suatu saat bisa kuliah sekaligus belajar mandiri. Atas izin Allah, aku berkesempatan kuliah di UPN ‘’Veteran’’ Jakarta dan meninggalkan kampung halamanku di Bangka. Dan mulailah kejutan demi kejutan berdatangan dalam kehidupanku. Kalau ditanya apakah aku sudah mengerti konsekuensi dari merantau, tentu saja. Tentu aku sudah paham bahwasanya tantangan itu pasti akan senantiasa mengalir dalam kehidupan ketika aku memutuskan untuk menerobos zona nyaman. Entah itu yang sifatnya masih enteng atau sudah dalam tahap menyulitkan. Tapi aku bener-bener ngerasa bahwa beberapa bulan ini banyak hal yang mulai mengubah hidupku. Karena memang semuanya berbeda dari apa yang sebelumnya aku jalani. Dan caraku memandang segala hal, atau bertingkah laku juga berbeda. Hari demi hari, banyak yang harus kumengerti. Lalu kumasukkan dalam lembaran dalam kehidupanku yang bertajuk pengalaman baru, pun kumasukkan dalam lembaran yang berjudul pembelajaran.
Kenapa kusebut pengalaman baru? Karena… Memang banyak hal-hal yang menambah warna dalam kehidupanku. Bahkan meski aku terbilang pemula dalam merantau.
1. Aku bertemu dengan banyak sekali orang baru. Ketika aku masih bermukim di Bangka, bisa dibilang pertemanan yang sudah kujalin akan senantiasa melingkar. Karena aku disana sejak kecil, hingga aku menginjak usia remaja dan dalam proses menjadi dewasa. Sehingga siapapun yang kukenal pasti akan selalu memiliki keterkaitan dengan diriku. Bahkan ketika aku memiliki teman baru lagi. Rasanya… Selalu familiar. Seperti hubungan yang tidak pernah terputus. Lagi-lagi takdir akan mempertemukan aku dengan orang yang sama. Kalian juga pasti mengalami hal seperti itu. Misalnya, teman kalian saat SMP lagi-lagi menjadi teman kalian saat SMA. Kakak kelas kalian di SMP juga menempati posisi yang sama diwaktu kalian SMA. Ya gitu aja terus. Kalian seakan sudah nyaman dengan lingkungan kalian. Kemudian ketika kalian harus merantau maka lingkaran itu seakan terputus. Karena kalian dihadapkan dengan orang yang belum pernah kalian temui sebelumnya. Begitupun aku! Bener-bener harus memulai dari awal lagi. Berkenalan lagi, bertukar kesan, kemudian menjadi teman. Begitu terus hingga aku merasa nyaman. Kesulitan jelas ada. Karakter orang-orang baru kan nggak bisa kita tebak begitu saja. Apalagi mereka yang tinggal di daerah yang berbeda, dengan pola pemikiran dan tingkah laku yang berbeda juga. Harus bisa ahli menyesuaikan diri tanpa harus memalsukan diri sendiri juga. Jadi aku melakukan pendekatan inipun perlahan-lahan, nggak bisa seketika langsung deket aja. Dan untungnya, semakin lama semakin banyak temen juga. Percaya aja, semakin berjalannya waktu, anak rantau pasti bisa senyaman seperti ditanah asalnya juga kok dalam urusan pertemanan ini. Aku juga pernah sih mikir, bisa ngga ya aku beradaptasi? Bisa ngga ya aku bergaul disini? Pesimis sih sempet ada. Jelas. Takut selalu canggung, takut kalau nanti terlalu malu-malu dan lain sebagainya sampai nggak bisa membuka diri. Tapi ternyata semua berbanding terbalik dengan apa yang aku takutkan sebelumnya, karena aku memang sering punya ketakutan berlebih dan semua itu biasanya cuma bayanganku doang sih hehe. Untuk lingkunganku sendiri aku udah lumayan nyaman kok. Nah, untuk hal ini nanti aku bakal kasih tau tipsnya, ya!
2. Merasakan jasa transportasi online! HAHAHA. Agak geli sih ngomongnya. Tapi ini serius. Mungkin bagi orang lain ini bukan hal besar yang mesti dijadikan hal baru atau yang sifatnya wah banget, karena ya emang biasa aja sih sebenernya. Tapi bagiku beda banget. Sewaktu aku di Bangka, aku selalu dianter jemput. Dari jamannya bahagia karena dibeliin boneka sampai bahagia karena cinta, selalu aman dan nyaman kalau mau kemana-mana. Apalagi kalau untuk urusan sekolah, penting banget lah pastinya. Saat ini aku mau mengandalkan siapa untuk hal itu? Masa aku harus minta dikirimin supir pribadi selama disini? Kan nggak lucu. Sebenernya sih nggak masalah kalau untuk urusan ke kampus. Aku bisa tenang karena kampusku dan kostanku jaraknya deket sehingga aku bisa jalan kaki aja, nggak perlu naik ini itu. Ya itung-itung kan olahraga. Tapi untuk urusan lain, ke mall misalnya kalau aku lagi kepepet mau nyari keperluan tertentu atau sekadar pengen jalan-jalan menghirup udara segar setelah diterpa kesibukan. Aku tentu harus akrab dengan yang namanya transportasi online karena nggak ada lagi yang mengantar dan menjemputku seperti dulu. Dan memang rasanya beda sih hehehe. Untuk hal ini juga aku masih pelan-pelan belajar, dan untungnya makin lama makin berani.
3. Mendadak harus ahli mengatur keuangan. Jujur aja, aku masih lemah banget dalam hal ini. Sebelum merantau kan kebutuhan pokok kayak makan misalnya tentu udah diatur sedemikian rupa oleh orangtua. Namun ketika sudah merantau, aku harus bisa menyisihkan uangku untuk berbagai kebutuhan tanpa campurtangan orangtua lagi. Mereka hanya memberi uang, dan tugasku adalah untuk menempatkannya dengan baik. Dan rasanya sulit. Meskipun orangtua nggak akan pernah yang namanya perhitungan jika sudah menyangkut hal-hal yang penting bagi anaknya, tetep aja rasanya aneh kalau harus minta uang lagi dan lagi hanya karena sudah habis dalam waktu singkat. Tujuan merantau juga kan untuk melatih kita untuk bisa mandiri, dan salah satu bentuk mandiri adalah bisa memberi porsi yang pas akan segala keperluan diri kita tanpa bantuan lagi. Mau nggak mau harus belajar mengatur keuangan. Bukan belajar lagi, tapi sudah mempraktekkan di kehidupan nyata. Entah itu keperluan kuliah, belanja kebutuhan, atau sekadar menyenangkan diri sendiri dan lain-lain. Harus cukup cermat untuk memastikan uang nggak habis begitu saja dan mampu terbagi dengan baik sehingga semua terpenuhi. Dan paling sulit bagiku adalah soal makan, karena aku masih susah menahan godaan kalau urusan makanan enak. Tapi lama-lama pengendalian diri itu ada kok. Dengan sendirinya pasti bakal paham bagaimana mengatur keuangan, karena situasi menuntut kita untuk itu. Asli deh. Intinya memang harus terjun ke lapangan sih. Kalau orang-orang lebih mempercayai praktek ketimbang teori, kayaknya aku mendukung. Karena aku juga sempet mikir kalau mengatur keuangan itu gampang banget. Berhemat itu sepele banget. Tapi siapa sangka semua itu melambung jauh dari perkiraan. Untungnya lambat laun jadi ahli sendiri. Seru! Itung-itung latihan jadi calon ibu, yang notabene bakal berperan juga jadi bendahara-nya rumah tangga EAAAA. Seengganya kita udah punya keahlian yang bisa dibanggakan buat dibawa ke masa depan kelak, dan pastinya berguna banget.
4. Menghadapi masalah sendiri. Mungkin ada beberapa hal yang menganggu selama merantau. Tadinya kita bisa bebas mengekspresikan kesedihan dengan orang tercinta seperti yang udah aku bilang sebelumnya. Mereka juga bisa leluasa memberi bantuan. Namun ketika sudah hidup sendiri… Kita harus lebih kuat. Asli deh. Bentuk permasalahan disini sih beraneka ragam. Contohnya ketika aku kalang kabut menghadapi pilihan tertentu yang sifatnya penting banget. Dulunya sih tinggal bilang, cerita-cerita sama orangtua. Mereka juga bisa bantu aku, seengganya dengan menenangkan dan ngasih solusi terbaik. Bisa bicara dari hati ke hati dengan lebih maksimal…. Tapi ketika aku udah jauh dari mereka semua jadi berbeda. Kalau urusan meminta saran sih masih bisa. Namun terkadang dengan jarak yang jauh, ditambah kesibukan yang berbeda, dan waktu yang singkat untuk menentukan pilihan tersebut, mau ngga mau aku harus menanyakan pada diriku sendiri hal terbaik apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikan segala kegundahan. Bener-bener menguji ketahanan hati, tapi baiknya adalah aku jadi lebih mampu mengandalkan diri sendiri.
5. Mengurus diri sendiri. Mungkin ini nggak jauh beda dengan yang keempat tadi. Cuma kalau yang ini lebih ke hal-hal yang menyangkut pada kebiasaan. Kayak makan, contohnya. Kalo dulu pasti selalu diingetin, dan nggak bakal terlewat. Apalagi aku punya maag. Orangtua bisa membantu mengontrol waktu makanku. Sederhananya aja, mama selalu ngebekelin untuk makan disekolah karena aku pulangnya sore. Otomatis karena aku bawa bekel aku ngga akan pernah lupa makan. Dirumah pun sama, entah itu sarapan, makan siang atau makan malem pasti selalu diingetin. Atau shalat, pasti yang namanya orangtua ngga akan membiarkan anaknya leyeh-leyeh dalam keadaan belum shalat. Terutama subuh, pasti dibangunin dengan berbagai cara, karena jam jam rawan kembali ke alam mimpi. Hehe. Dan hal lain yang bisa dijumpai sehari-hari. Tapi kali ini, aku sendiri yang bertanggung jawab pada diriku. Aku harus bisa mengatur waktu makanku dengan baik biar nggak kelupaan hanya karena keasikan ngerjain tugas, dan nggak boleh lalai meskipun nggak diingetin shalat dan masih banyak lagi. Awalnya susah memang, tapi pada akhirnya aku bisa juga seiring berjalannya waktu. Pokoknya harus bisa telaten, dan memikirkan dampaknya juga bagi kehidupanku. Tanpa mesti diingatkan lagi, tanpa mesti disuruh-suruh lagi. Masa kalau ngga dibangunin shalat subuh aku jadinya ngga shalat? Tentu aku yang harus bisa bangun sendiri. Atau masa aku harus nunggu ditelpon dulu baru mau makan? Kan susah juga….. Bisa bisa maag kambuh karena keseringan telat. Dari sini aku juga belajar untuk jaga kesehatan. Karena repot kalau aku sampai sakit, masa orangtuaku harus ke Jakarta terus-terusan untuk ngurusin aku? Intinya, harus pinter menyayangi diri sendiri dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
6. Beres-beres! Memang sih, ini sebenernya juga kategori wajar. Sebagai anak perempuan, pastinya aku udah diajarin dong sama hal yang satu ini. Selama di rumah pun sering bantu-bantu mama juga. Tapi kan kalau udah merantau, urusan yang satu ini bener-bener dikerjain sendiri dan dalam waktu yang terbilang sering. Ngga mungkin aku biarin kamar kost bau karena sisa makanan yang belom dibuang, tumpukan baju yang ngga pernah dicuci, piring yang belom sempet dibilas atau lantai yang kotor. Pasti harus beres-beres juga pada akhirnya. Alhasil buat yang satu ini perlahan tapi pasti jadi semakin ahli. Bener deh. Karena aku ngga ngandelin siapa-siapa. Jadi karena sering ngelakuin, otomatis jadi terbiasa. Ada kebahagiaan tersendiri pas ngeliat kamar kost rapi dan bersih, ya meskipun rasa males kadang kadang tetep menyerang juga… Hehehe.