‘’WOI KOK GENDUT AMAT SIH LO?’’
“ITU KULIT KOK ITEM BANGET GILAK, PERAWATAN DONG!’’
“’MASIH JERAWATAN AJE LO, JIJIK DAH’’
“KAYAKNYA IDUNG LO TERLALU PESEK, BISA NAPAS GAK?’’
‘’MAKANYA JANGAN PENDEK GITU DONG, SUSAH SENDIRI LO! HAHA!’’
‘’GILAK, BIBIR LO KOK GEDE BANGET GITU? GELI GUE LIATNYA!’’
Hello, readers! Huft....
Gimana, gimana? Cuma baca kalimat diatas aja udah panas sendiri, kan? Hayo siapa yang sering mengalami dikomentari dengan kalimat sejenis? Pasti ngerusak mood kita banget. Yang tadinya ceria dan ketawa-ketiwi aja, eh pas ada yang nyeletuk gitu langsung pengen meringkuk di sudut ruangan sambil nangis saking keselnya. Semacam emosi tapi susah diungkapin, mau marah nanti disangka terlalu terbawa perasaan sendiri. Akibatnya cuma bisa menahan diri, tapi tetep serba salah. Istilahnya mengabaikan semakin terluka, menjelaskan juga tiada guna. Well... karena takut nambah dikomentarin sih sebenernya. Atau bahkan kamu sendiri pelakunya alias si tukang komentar? Waduuh.... Nggak boleh banget! Kalau dari skala 1-100, kadar larangannya mungkin lebih dari itu. Singkatnya, bener-bener kegiatan yang harus dihindari deh.
Loh, kenapa? Yaudah, yuk mari kita obrolin soal ini.
Jadi, apa yang udah ira tulis itu adalah contoh body shaming.
Kalau ada yang masih belum paham, body shaming itu semacam kegiatan mengomentari penampilan fisik orang lain dengan cara yang kurang mengenakan atau mengarah ke menjelek-jelekan. Bisa langsung ke orangnya sendiri, atau dari mulut ke mulut... Bisa karena memang ada dendam pribadi, bisa karena (katanya, sih....) hanya bercanda. Tapi perasaan nggak se-bercanda itu, gengs!
Body shaming itu sebenernya nggak bisa diremehin karena memiliki efek yang bisa merusak kehidupan pribadi seseorang. Sebagian besar mereka yang terkena body shaming secara berkala akan mengalami stress, baik ringan maupun berat.
Kenapa stress? Karena mereka merasa bahwa diri mereka bener-bener buruk sehingga jadi bahan olokan. Mungkin bagi mereka, kalau penampilan fisiknya menarik-menarik aja ya ngapain coba dikomentari setajam itu? Hal inilah yang membuat beban pikiran mereka membuncah. Pada akhirnya, stress ini bisa berujung ke banyak hal yang lebih serius. Jangan remehin rasa stress deh, karena efeknya parah abis. Mulai dari jadi malas bersosialisasi sampai malas melakukan aktivitas tertentu yang bahkan awalnya ia sukai. Semangatnya sudah pudar ditelan caci maki, begitu pula rasa percaya dirinya. Kalau yang paling ekstrem sih, bisa saja dia malah membenci diri sendiri. Nggak menutup kemungkinan kalau dia ingin mengubah penampilan fisiknya, dia akan melakukan hal-hal yang diluar batas wajar. Bahkan hal ini bisa memperburuk hubungan pertemanan. Coba diimajinasikan, misalnya ada dua orang berinisial X (orang yang melakukan body shaming) dan Y (orang yang terkena body shaming). Mereka berdua berteman sejak lama. Jika tahu-tahu saja Y memiliki jerawat dan X meledeknya terus-terusan, mungkin saja Y tak akan lagi menganggap X sebagai teman karena sakit hati yang teramat dalam. Akibatnya mereka saling menjauhi karena Y sudah terlanjur marah sementara X merasa tidak bersalah. Sebetulnya ada sih, yang menanggapi body shaming dengan santai. Misalnya apabila dibilang gendut dia cuek saja atau malah bertambah banyak mengonsumsi makanan tertentu karena tak ingin ambil pusing. Tapi kayaknya persentase-nya bener-bener sedikit deh. Malah hampir nggak ada. Ya, semua manusia itu punya rasa. Punya hati. Masih bisa ditakar kekuatan hatinya. Sangatlah wajar jika ada yang mencaci, mereka lantas bersedih dan menganggap dunia itu kejam bagi mereka. Mana mungkin bisa membatu melihat diri sendiri terhinakan oleh orang lain, yang tak bisa mengerti perasaan mereka sendiri.
Nih ya... Coba resapi dengan hati.
Kita nggak pernah tahu pribadi seseorang itu kayak apa. Kita nggak tahu dia se-kuat batu karang atau se-gemulai ombak. Kita nggak pernah bisa menebak, karena kita nggak pernah hidup dalam dirinya dan menjalani hari sebagai dirinya. Bahkan kadang yang terlihat kuat ternyata rapuh sekali, hingga ada waktunya dia berontak. Masa kita mau menjadi bagian dari kehancuran seseorang dan bukannya kebahagiaannya, sementara hidup kita ini hanya diberi jatah sekali. Masa kita mau dikenang sebagai orang yang pernah menyakiti, padahal sebetulnya hidup kita ini mesti memberi arti.
Mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda.
Jika kamu pernah atau sedang terkena body shaming, please..... Believe that you’re amazing. Jangan pernah terpengaruh oleh kata-kata mereka yang menghina penampilan fisikmu. Jangan pernah menganggap semua itu sebagai alasan kejatuhanmu, ya! Kamu memiliki segudang alasan untuk senantiasa tertawa menikmati hari, apa bisa sebuah caci membuat semangatmu mati? Banyak hal yang dapat kamu syukuri, bahkan atas nafas yang mengaliri kehidupanmu saja adalah suatu berkah bagimu. Selain itu, apa gunanya mendengarkan semua itu? Kalau kamu saja bahagia akan apa yang kamu miliki, kenapa harus membiarkan kata-kata mereka memengaruhi? Jangan bersedih.... Apalagi meringkuk sebab terpuruk. Terus cintai penampilan fisikmu..... Semua berawal dari cinta, yang terasa retak akan kembali menyatu bukan? Malah lebih bagus jika bisa kamu jadikan acuan untuk menjadi lebih baik. Misalnya jika ada yang memperolok jerawatmu. Maka buktikan bahwa kau tak ambil pusing, cukup dengan senantiasa merawat diri. Kelak jika kau tampil di hadapan mereka dengan wajah yang berbeda , biarlah kau nikmati keterkejutan yang melingkupi mereka dengan kebahagiaan dan kebanggan merekah di dalam dirimu, bahwa kamu bisa melewati semuanya... Namun lakukan semua atas dasar ketulusan dan kekuatan hatimu. Untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain.. Lalu tingkatkan potensimu pada hal-hal lain. Tunjukan bahwa kau memiliki segudang potensi untuk membungkam mereka. Eksplorasi bakatmu sebanyak mungkin. Kamu bisa menulis? Lakukanlah. Kamu senang bernyanyi? Jangan ragu-ragu. Atau kamu suka melukis? Terus layangkan kuasmu pada sehelai kanvas, ciptakan gema indah dari imajinasimu. Jangan pernah ragu untuk berkarya dan memberi arti bagi siapa saja... Apapun itu. Apapun minatmu. Lakukan hal-hal yang kamu sukai dan memang menonjolkan dirimu, tak perlu memusingkan apapun yang dipikirkan orang lain mengenai dirimu sehingga sibuk mengomentari. Karena balas dendam terbaik adalah dengan berbahagia dan mengukir prestasi, tak perlu terus-terusan bermuram durja dan mempersiapkan sesuatu yang sama kejamnya. Untuk apa? Tak ada gunanya. Kuatlah, tegarlah. Selain itu, lakukan hal-hal yang baik pula. Niscaya sesuatu yang baru akan terpancar dari dirimu. Sesuatu yang tak akan dimiliki oleh orang yang meski penampilan fisiknya ia anggap sempurna namun hatinya bercela. Oh ya, satu hal lagi.... Sesuatu yang selalu jadi pedoman hidup ira sampai saat ini; jadilah versi terbaik dari diri sendiri. Nggak perlu menjadi orang lain, sangat nggak perlu. Namun kita bisa meningkatkan kualitas diri kita sendiri agar mampu menjadi sosok yang luar biasa. Jadilah contoh dimana penampilan fisik semata tak melulu menjamin, namun jika dibarengi dengan indahnya hati dan kualitas diri maka akan menjadi senjata yang mematikan untuk menjajah balik hal-hal yang sempat menyakiti. Jangan, jangan tenggelam.... Muncullah ke permukaan. Muncullah dan berikan kesan terbaikmu! Cukup untuk membuat mereka terpana, bahwa kamu mampu bangkit dan tak menganggap caci maki mereka alasan untuk hanyut dalam keterpurukan. Malah kamu akan melangkah semakin maju demi menantang dunia, hingga tak akan ada yang bisa merendahkan eksistensimu lagi.
Untuk kamu yang melakukan body shaming... Jika kamu membaca semua ini, ada baiknya kebiasaanmu kamu hentikan saja. Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan, yang lebih bermanfaat tentunya. Meremehkan seseorang tak membuatmu menjadi luar biasa, malah sebaliknya. Malah akan menurunkan nilaimu dimata orang-orang. Jangan menganggap enteng suatu perasaan, coba posisikan dirimu sebagai mereka yang kamu komentari. Apakah bisa kamu bertahan? Atau jika orang yang kamu sayangi turut terkena body shaming dan merasakan kesedihan yang amat sangat, bisakah kamu menahan diri untuk tidak menampar mulut orang yang melakukan semua itu padanya?
Well.....Suatu saat semua yang kamu lakukan akan membawamu pada kehancuranmu sendiri. Entah waktu waktu yang sebetulnya dapat kamu gunakan untuk melakukan kebaikan malah hilang begitu saja, atau bahkan krisis kasih sayang dari orang-orang disekitarmu. Hidupmu akan mengalami jalan buntu karena lidahmu, apa kamu mau? Mumpung kamu masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, coba permanis kata-katamu. Niscaya pergaulanmu akan senantiasa terjaga, hidupmu akan bahagia karena terhindar dari rasa bersalah. Melakukan body shaming adalah suatu hal yang sangat nggak berfaedah bagi kehidupan kita. Harus kita renungkan sekali lagi, apa sih yang bisa kita petik dari mengomentari penampilan fisik orang lain dengan sebegitu kejamnya sampai membuat sakit hati? Nggak ada. Nggak ada sama sekali. Apa kita bakal dapet pahala? Apa kita bakal dipuja-puja? Apa nama kita bakal tercantum di lembar pertama koran pagi? Nyatanya semua itu malah akan merusak kehidupan kita sendiri, perlahan-lahan namun nyata. Hindarilah sebelum semuanya terlambat. Biasakanlah menggunakan lisanmu untuk hal-hal yang baik. Lakukan saja hal lain yang lebih bernilai harganya. Yang lebih membahagiakan dan membawa guna, baik bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Sehingga hidup akan jauh dari kesia-siaan semata. Yakinlah, hidup akan terasa lebih berharga.
Pernah dengar,
Berkatalah yang baik, atau diam saja?
Kata-kata paling sakti yang pernah ira temui. Sederhana banget, tapi mengena...
Bener sih. Kalau kita berpedoman dengan semua itu, pasti hidup kita jauh dari kata lalai dalam berucap. Dan memang luar biasa maknanya. Untuk apa berteriak sana-sini jika bobotnya bahkan lebih rendah dari sebutir kacang? Untuk apa berbicara jika niatnya membuat terluka? Jangan sampai lisan kita menimbun dosa, karena akan pedih balasnya. Bahkan diam jauh lebih baik, ketimbang mencari kepuasan dengan menyakiti. Sungguh, semua itu semu sekali....
Selama kita masih bernafas, belajarlah. Belajarlah untuk tidak menyia-nyiakan tiap menit yang ada. Tanamlah kebaikan sana-sini, niscaya akan dipetik hasil terindah yang tak hanya ditemui di dunia, namun juga di akhirat nanti. Dan salah satu caranya adalah dengan menjaga lidah agar tak bermain-main dengan pisau. Semudah itu. Sesederhana itu.
Hidup ini indah, indah apabila semua orang saling berusaha untuk menjaga perasaan saudaranya. Bukan karena sedarah semata, namun hanya karena satu hal sederhana saja: mereka sama-sama mengenyam kehidupan di muka bumi. Sehingga sudah sepantasnya mereka saling mencintai...
-ASA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar